Kata-kata Bijak dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani


image

Wejangan Dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani. (Bag. 1)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Beliau adalah seorang ulama salaf , ulama yang kehidupan sehari-harinya penuh dengan zuhud, istiqomah, dan selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi. beliu dilahirkan pada tahun 1077 masehi, bertepatan dengan tahun 470 hijriyah.
Dan untuk lebih jelasnya lagi mengenai riwayat hidup beliau;
silahkan berkunjung ke → ( SINI )

                      ‘↓’

Beliau rahimahullah berkata:

”Berpaling dari Allah ketika datangnya taqdir adalah mematikan agama, mematikan tauhid, mematikan tawakal, mematikan ikhlas,

Bahwa hati seorang mukmin itu, tidak bisa diketahui bagaimana dan mengapa, bahkan orang mukmin itu berkata: ”ya, ”semua jiwa berselisih dan saling kontra, maka barang siapa yang memperbaiki dan mensucikan jiwa, hendaklah bersungguh sungguh dan bermujahadah, berusaha membebaskan diri dari sifat yang buruk, semua keburukan bertempat dalam keburukan dan kerusakan bertempat dalam kerusakan, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
           
 ”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di-ridhoi-NYA, maka masuklah kedalam jamaah hamba hamba-KU, dan masuklah kedalam syurga-KU,” ( QS. Al-Fajr: 27-30 ).

Dengan pertolongan dan penghargaan, bersabarlah kamu bersama-Nya, berdiri tegaklah bersama-Nya dan janganlah kamu lupakan Dia, karena setelah kamu mati akan terbangun kembali, dan hal
itu akan bermanfaat bagi kamu.

Bangunlah untuk Dia sebelum berjumpa dengan-Nya, bangunlah dan ingtlah kepada-Nya sebelum kamu diingatkan tentang urusanmu, lalu kamu menyesal pada waktu yang tidak bermanfaat suatu
penyesalan, perbaikilah hatimu, karena jika hati telah baik, segala tindak tandukmu akan menjadi baik.

Hati yang baik itu karena adanya takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala, bertauhid kepada-Nya dan ikhlas dalam beramal serta yakin akan kerusakan semua itu apa bila tidak ada tindakan-tindakan tersebut.

Wahai manusia, zuhudlah di dunia dan ambillah bagian-bagianmu yang kamu peroleh dari dunia dengan tangan takwa dan wara’ lalu carilah akhirat dan beramallah kamu untuk akhiratmu, sadarkanlah jiwamu dan taatlah kamu kepada Allah Ta’ala, nasehatilah jiwamu terlebih dahulu untuk mengabdi kepada-Nya, lalu nasehatilah orang-orang selain kamu, bagaimana jadinya kalau kamu memperbaiki orang lain sedang kamu sendiri buta,

Yang penting bagi kamu adalah, mendidik hatimu untuk selalu berbuat baik, tiada guna lidahmu mengajak orang lain, jika dalam hatimu masih bersarang kekotoran dan dosa syirik, bagaimana manusia akan mengikuti ucapanmu, jika dalam hatimu penuh dengan noda dosa,

Kamu jangan seperti orang munafik, orang yang tidak jujur dan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya dengan apa yang di ucapkannya, obatilah hatimu yang sakit sebelum kamu mengobati orang lain,

Janganlah kamu menjadi orang yang berlisan syukur, tetapi hatimu berpaling dari hak yang datang kepadamu, memang demikianlah kebanyakan orang.

Orang mukmin adalah orang yang tidak mau mengikuti kemauan hawa nafsunya dan hawa setan, jadikanlah hidup di dunia untuk mencari bekal buat akhirat, dan dalam setiap waktunya selalu dipergunakan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Wahai hamba Allah, jagalah ketakwaan dan jagalah syari’at, siapkan dirimu untuk menekan kemauan nafsu,

Allah telah berfirman kepada Nabi dan para Rasul untuk menyampaikan berita gembira dan kabar ancaman,

Dimanakah rasa syukur dari kamu wahai orang yang berpaling dari Allah ? wahai orang yang melihat nikmat datang dari selain Allah ? adakalanya kamu melihat nikmat itu datang dari selain Allah, suatu saat nanti kamu akan datang menghadap-Nya dan akan melihat kesombonganmu,
terkadang kamu meminta pertolongan kepada-Nya dengan menentang-Nya.

Wahai hamba Allah, apa bila sakit menimpamu, maka hadapilah dengan lapang dada dan penuh sabar, bertahanlah sampai datangnya obat, apa bila obat telah datang, terimalah dengan rasa syukur
kepada Allah. jika kamu berbuat demikian, tentulah  hidupmu akan di permudah dan di peringan dari masalah yang sedang kamu hadapi.

Orang mukmin yang takut api neraka, itu adalah sebagai jalan yang bisa memutus derita orang mukmin itu sendiri, yang berdampak membawa kekuningan di wajah dan kesedihan di hatinya,
niscaya Allah akan menuangkan air rahmat dan karunia dalam hatinya, baginya di bukakan pintu akhirat, sehingga mereka dapat melihat kebenaran janji yang telah di janjikan oleh Allah kepadanya.
           

artikel ini ↑ sengaja diringkas dan diambil bagian-bagian terpentignya saja.
Lanjut ↓

Wejangan Dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bag.2)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Syeikh Abdul Qodir Rahimahullah berkata:

”janganlah engkau jadikan kecenderunganmu, kepada sesuatu yang engkau makan, yang engkau minum, yang engkau pakai, yang engkau kawini, yang engkau tempati, karena itu adalah kepentingan nafsu dan watak kemanusiaan saja, lalu dimanakah hikmah dan kecenderungan hati ? rahasia hati, yaitu mencari kebenaran Allah Ta’ala,
maka jadikanlah kepentinganmu untuk kembali bertobat kepada Allah Ta’ala dan apa yang ada pada-Nya.

Wahai hamba Allah, selisih usiamu pada hari ini, sudah cukup untuk persiapan akhirat, dalam menghadapi datangnya malaikat maut,
Cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul itu ada pertalian dengan kefakiran dan cobaan, kalau manusia dalam keadan fakir ia akan terhindar dari tiga penyakit yang berbahaya:

Pertama :

Harta bisa membawa kepada berbagai kedosaan, karena sarana nafsu bermacam macam, seorang yang tak punya biaya untuk semacam kedosaan, hatinya tidak akan tergerak untuk melakukannya,
timbulnya hasrat itu bila diri merasa sanggup, dan harta adalah sumber kesanggupan yang menggerakkan orang kepada maksiat dan perbuatan dosa, jika diperturutkan, niscaya ia binasa, dan kalau ditahan pahit benar rasanya, karena bersabar sewaktu sanggup adalah lebih berat, ujian senang lebih berat dari pada ujian susah.

Kedua :

Harta itu menarik kepada bermewah di bidang yang mubah, mana bisa orang berharta makan roti gandum, berpakaian kasar, dan menghindari makanan mewah, sebagaimana yang telah di alami para Nabi dan Rasul,. kalau telah terbiasa menikmati keduniaan dan membiasakan diri dengan kemewahan, lalu menjadi kebiasaan yang tak dapat di tinggalkan lagi, mungkin suatu saat kita tak sanggup lagi mengongkosi diri dari usaha yang halal, maka terjerumuslah kita ke bidang syubhat, dan terbenam dalam suasana ria, berminyak air, berdusta, agar urusan dunia ini bisa teratur, dan agar hidup mewah, karena orang yang banyak harta , maka akan banyak pula keperluannya kepada orang lain, akhirnya terpaksalah ia ambil muka terhadap mereka, bila masih mungkin selamat dari bahaya yang pertama tadi, yaitu kesenangan duniawi, kita tak akan dapat selamat dari bahaya dunia ini.

Ketiga :

Tidak dapat dihindarkan lagi, bahwa mengurus harta itu menyebabkan orang lalai dari mengingat Allah, dan setiap hal yang mengganggu dari mengingat-Nya, adalah suatu kerugian,
Oleh sebab itu Nabi Isa  as, menerangkan, bahwa dalam berharta terdapat tiga macam bahaya,
yaitu, bila mengambil dari sumber yang tidak halal, kalaupun dari yang halal, dikhawatirkan di belanjakan kepada yang haram, kalaupun dari yang halal dan di belanjakan kepada yang halal, dikhawatirkan kita akan lalai dan terganggu dari mengingat Allah karena terlalu sibuk mengurus harta.

Kalau manusia telah menyadari keberadaan ujian dan cobaan Allah Ta’ala, maka dalam hatinya tidak akan timbul kegoncangan dan kegundahan dalam mengarungi kehidupan ini, dan dia akan selalu tegar karena Allah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

”sesungguhnya manusia amat durhaka, bila dilihatnya dirinya telah kaya harta” (QS.al-Alaq: 7-6)

(pen).
Mungkin dari tulisan di atas bisa kita ambil hikmahnya, islam tidak melarang umatnya untuk kaya, bahkan umat islam menganjurkan untuk banyak-banyak bersodakoh, ini artinya kita di tuntut untuk bekerja keras dalam mencari harta, silahkan bila ingin menjadi kaya raya namun jangan takut miskin dan janganlah harta kita menjadi penghalang bagi kita  untuk beribadah kepada Allah, dan bila sudah berharta, jangan angkuh sombong dan durhaka, ingatlah firman Allah di atas’.
Lanjut ↓

Wejangan Dan Nasehat Syaikh Abdul Qodir Jaelani (Bag.3)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Beliau syaikh Abdul Qodir Jaelani Berkata:

Kefakiran adalah tidak punya sesuatu yang di butuhkan, dan jika tidak membutuhkan sesuatu maka dinamakan kaya,

Jika kamu mengerti makna suatu kefakiran, maka  semua yang ada selain Allah adalah fakir, karena membutuhkan sesuatu, dan hanya Allah sendiri yang kaya, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu pertolongan dari makhluk siapapun.

Semua yang ada tentu ada yang mengadakan, adapun yang mengadakan itu Dia-lah Allah Ta’ala, selain Dia adalah makhluk dan makhluk selalu membutuhkan, karena itu setiap makhluk adalah fakir: renungkan, Allah berfirman yang artinya:

“Allah itu kaya dan kamu sekalian adalah fakir” (QS. Muhammad: 38)

Ini adalah fakir secara mutlak, fakir secara keseluruhan, namun yang kita maksudkan disini adalah fakir harta benda.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fakir, karena memang dia tidak membawa apa apa ketika dilahirkan, namun dalam mencari harta setiap orang dapat dilihat dari lima kriteria :

Pertama :

Apa bila dia diberi harta dia tidak suka, dia tidak mengambil harta itu dan benci, karena dia menjaga dirinya dari kejahatan harta dan bahayanya, orang seperti ini di namakan orang zuhud, yaitu orang yang memandang harta sama seperti batu dan tanah dan ini adalah tingkatan tertinggi.

Kedua :

Dia tidak gemar terhadap harta dan tidak pula membencinya, dia zuhud apa bila memperoleh harta, orang seperti ini di namakan orang yang ridho.

Ketiga :

Dia suka kepada harta dari pada tidak ada, tetapi kesukaannya itu tidak sampai membuat dia jadi rakus yang selalu kurang dan ingin bertambah, dia mau mengambil harta itu jika harta itu tidak syubhat dan halal secara mutlak, orang yang seperti ini di namakan orang yang qona’ah, yaitu orang yang menerima dengan ridho apa yang ada ditangannya sendiri, apa yang telah dimiliki,

Keempat :

Dia tidak punya harta lantaran lemah dan tak bisa mencarinya, dan seandainya masih mampu tentu di carinya sekalipun berpayah-payah, dia akan selalu sibuk mencarinya, orang seperti ini sekalipun tak punya harta, tergolong orang yang rakus dan tercela.

Kelima :

Yang dibutuhkan itu benar benar sangat dibutuhkan, seperti orang dalam keadaan lapar dan tak punya pakaian, maka mencari harta dalam keadaan seperti ini sekalipun sangat ingin, bukan di namakan cinta harta, karena yang tidak di miliki memang sangat di butuhkan.

Wahai hamba Allah, yang disebut kerja keras itu bukan terletak pada kekesatan pakaianmu dan makananmu, kerja keras adalah terletak pada sikap zuhud hatimu.

Wahai hamba Allah jagalah nikmat itu dengan bersyukur, terimalah perintah-Nya dengan membuka telinga, terimalah kesulitan dengan kesabaran dan kemudahan dengan syukur, karena demikianlah keadaan orang orang terdahulu, seperti para Rasul dan orang shalih, mereka selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan kepadanya dan mereka selalu bersabar atas musibah dan kesulitan yang sedang menimpa dirinya.

Sabar adalah suatu ketentuan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban, selain itu sabar adalah suatu kekuatan.

Wahai hamba Allah, terkadang Allah Ta’ala menjelaskan hukuman di dunia ini dengan memberikan ujian dan cobaan yang berbagai bentuk, seperti cobaan jasmani dan rohani yang berupa panyakit, kecelakaan, sakit ,gelisah, duka cita, rasa tidak aman, kehilangan harta kekayaan, kebakaran, di curi orang, dan kematian,.

Ujian dan cobaan yang menimpa manusia itu ada dua penyebab, yaitu:
disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh manusia itu sendiri sebagai balasan untuk menghapus dosa kedurhakaanya itu sendiri, dan agar manusia menjadi sadar atas kedurhakaanya itu.
Karena takdir Allah sendiri untuk menguji hamba-Nya dan kelak di akhirat akan di ganti dengan rahmat dan keridhaan-Nya, kalau yang di uji itu bersabar dan tawakal kepada-Nya.

Cahaya adalah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, mengenal Rasul-Nya, serta mengetahui dan mengamalkan ajaran ajaran-Nya, perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya di tinggalkan jauh jauh.

Wahai hamba Allah, bangkitlah kamu dari perangkap maksiat, peliharalah dengan pasrah hukum hukum-Nya, apa bila datang kepadamu suatu kenikmatan bersyukurlah kamu kepada-Nya, apa bila datang kepadamu suatu kesulitan, maka bersabarlah dan bertobatlah atas kesalahan kesalahanmu, ukurlah dirimu, karena Allah tidak akan menganiaya hamba hamba-Nya yang taat beribadah, ingatlah akan kematian dan apa yang terjadi setelah kematian itu.

Bangunlah wahai hamba hamba Allah! sampai kapan tidurmu, kebodohanmu,  sampai kapan kamu mengulang ulang kebatilanmu, mengapa tidak kamu biasakan mengabdi kepada Allah, dan untuk mengikuti syari’at syari’at-Nya.
Lanjut ↓

Wejangan Dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani. (bag.4)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Wahai hamba Allah, kehendakmu kepada Allah tidak benar kecuali kau tunjukkan kepada-Nya semata hendak menuju Allah itu harus murni, harus berhati suci dan bebas dari selain Dia. dan kalau tidak, usaha itu dinamakan riya, syirik, mempersekutukan Allah dengan benda yang lain,
maka orang yang seperti itu dinamakan orang yang merugi karena hatinya tidak tenang, hatinya selalu gundah karena keinginannya tak pernah terpenuhi, dan rugi di akhirat karena disana nanti akan memperoleh imbalan siksa yang menghinakan.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu bermesra dengan hadirnya setan di hatimu, dengan kesenangan dunia dan syahwat, penjelmaan setan yang berbentuk manusia adalah mereka yang menjalin persahabatan dengan nilai yang buruk dan teman yang suka membual.

Wahai hamba Allah, jagalah ketenangan hatimu dihadapan Allah dan tinggalkanlah tingkah laku yang buruk, jika kamu ingin memperoleh berkah Allah, berkah Allah itu hanya diperoleh orang orang yang berhati tenang dan meniggalkan tingkah laku yang buruk, Rasulullah pernah bersabda:

”tiada puasa bagi orang yang dibayangi oleh makan daging manusia.”

bahwa puasa itu bukan hanya meninggalkan makan dan minum, tetapi disandarkan juga pada bentuk meniggalkan perbuatan dosa, takutlah terhadap dosa gunjing karena hal itu merongrong yang baik bagaikan api memakan kayu bakar, maka apa arti puasa seseorang kalau hatinya penuh dosa, lisannya dipergunakan untuk berbicara yang tidak tetap (baik), berdusta, menghina orang, menyakiti orang, kalau tingkah laku orang itu sudah buruk, maka puasanya itu tidak punya arti apa apa, walaupun dia sudah meningalkan makan, minum dan berduka, Wahai hamba Allah, takutlah kamu terhadap pandangan yang disertai syahwat, karena hal itu memendam kemaksiatan dalam hati, yang akibatnya kamu tidak terpuji di dunia dan di akhirat, takutlah kamu akan sumpah palsu karena perbuatan itu ibarat rumah tanpa kamar, dan menghilangkan barakah agamamu,

Wahai hamba Allah, janganlah kamu menafkahkan hartamu dengan sumpah dusta dan kamu binasakan agamamu, kalau kamu punya akal tentu kamu mengerti bahwa hal itu termasuk pandangan lemah.

Wahai penghuni bumi, tidak lama lagi penyesalan akan datang kepadamu  di hari penampakan dan kerugian, hitunglah dirimu sebelum datang hari kiamat yang memperdayakan dirimu dengan hukum Allah, sadarkah kamu berada dalam lingkaran yang buruk karena berbuat kemaksiatan, goncang dan suka menzalimi manusia, kemaksiatan itu cenderung ke arah kekafiran, sebagaimana penyakit cenderung ke arah kematian sebelum datang malaikat maut mencabut nyawamu.

Wahai hamba Allah, bertobatlah kamu, apakah kamu tahu bahwa Allah Ta’ala menguji kamu dengan suatu ujian itu agar kamu bertobat kepada-Nya, tetapi kamu berpikir tidak mau memikirkan untuk melepaskan  maksiat terhadap-Nya?, dizaman ini tiada cobaan atas seseorang kecuali dalam batas keterasingan.

Wahai hamba Allah, perbuatan dosa itu suatu kepedihan bukan suatu kenikmatan, perbuatan dosa itu adalah siksa untuk dirimu, dan perbuatan dosa itu tidak dapat menambah kemuliaan,

Segolongan manusia itu ada yang diuji agar mereka mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah Ta’ala, mereka sabar bersama Dia karena ingin memperoleh ridha-Nya, apabila hal ini sempurna maka pengusaan ilmu baginya pun sempurna, tetapi jika hal ini tidak sempurna, maka mereka merasa yakin bahwa mereka dalam kebinasaan.
Lanjut ↓

Wejangan Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bag.5)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Beliau Syeikh Abdul Qodir Jaelani Rahimahullah Berkata:

Wahai hamba Allah, janganlah kamu berputus asa dari memperoleh  petunjuk Allah  dan lepas dari duka cita, sesungguhnya Dia dekat, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

 ”kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu kejadian yang baru.” (QS. ath-Thalaq: 1).

Wahai hamba Allah, janganlah kamu lari dari ujian dan cobaan, karena datangnya ujian dan cobaan yang di barengi dengan sabar itu sebagai pondasi setiap kebaikan, pondasi kenabian, kerasulan, kewalian, dan kearifan, Kecintaan kepada Allah itu ada pada ujian dan cobaan.

Jika kamu tidak sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kamu tidak punya pondasi. Sesungguhnya kamu lari dari ujian dan cobaan  yang menimpa kamu, berarti kamu tidak butuh dalam kewalian, makrifat dan dekat dengan Allah.

Bersabarlah kamu sehingga kesabaran itu sering bersama kamu.

Orang mukmin itu tidak takut dan mengharap kecuali kepada Allah saja,  Dalam hatinya telah diberi kekuatan  dan rahasia, hatinya teguh kepada Allah, sebab yang dituju hanya Dia semata.

Wahai amba Allah, kamu pasti merasakan kemanisan, kepahitan, kebaikan, kerusakan, kekotoran, dan kejernihan, Apa bila hatimu ingin bersih secara sempurna maka lepaskanlah hatimu dari sesuatu selain Allah.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu menjadi orang yang jahil yang khawatir anaknya kelaparan, yang hatinya goncang memikirkan nasib perekonomian anak anaknya nanti, tetapi tidak memikirkan apa yang hendak di sembah nanti oleh anak anaknya itu, menyembah dunia atau menyembah Allah Ta’ala.

Wahai hamba Allah, keluarkan isi hatimu sampai telanjang dari keduniaan ini, dekati pintu akhirat dan masuklah kesana.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu berpaling dari Allah Ta’ala dan jangan pula kamu berpaling dari hamba hamba-Nya yang shaleh, Jika kamu berpaling dari Allah Ta’ala, berarti kamu kufur kepada-Nya. dan apabila kamu berpaling dari hamba hamba-Nya yang shaleh, berarti kamu berpaling dari ayat ayat-Nya, Karena mereka orang orang yang shaleh adalah pewaris para nabi, yang selau mengajak kamu untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran.

Wahai hamba Allah, beramallah kamu dengan anggota  tubuhmu dan hadapkanlah hatimu kepada-Nya semata, Amalanmu adalah untuk dirimu dan untuk persiapanmu dengan Tuhanmu nanti, Ilmu lahir jadi penerang lahir dan ilmu batin menjadi penerang batin, ilmu sebagai penerang antara kamu dengan Tuhanmu, kalau kamu beramal menurut ilmu yang kamu miliki tentu memperdekat jalanmu kepada Tuhanmu.

Ya  Allah tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka. Amin.
Lanjut ↓

Wejangan Dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bag.6)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Syeikh Abdul Qodir Jaelani Berkata:

Wahai hamba Allah, berhentinya keinginan terhadap apa yang sudah diberikan, dan tidak ada lagi keinginan untuk menambah dari yang sudah ada adalah sifat qona’ahmu yang terpuji,

Ketahuilah, bahwa qona’ah itu adalah menerima dengan rela apa yang telah ada, memohon kepada Allah tambahan yang pantas serta disertai usaha karena mencari keridhaan Allah, menerima dengan sabar akan takdir Allah, bertawakal kepada-Nya, dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia,

Yakinlah kamu bahwa qona’ah itu suatu sikap hidup yang harus di miliki oleh setiap muslim, karena dengan qona’ah hati menjadi tenang, bahkan menjadi suatu modal yang takkan pernah habis, dalam situasi dan kondisi apapun. Perhatikan sabda Nabi:

  ”qona’ah itu adalah harta yang tak akan pernah  hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap.” (HR. Thabrani dari Jabir)

Abu Sulaiman Anshari berkata: ”Qona’ah adalah merupakan bagian dari sikap ridha, sebagaimana Wara’ adalah merupakan bagian dari sikap Zuhud. Qona’ah adalah permulaan Ridha, dan Wara’ adalah permulaan zuhud.”

Sikap qona’ah adalah suatu sikap yang dituntut oleh setiap mukmin, karena dengan sikap qona’ah mereka dapat terhindar dari ajakan nafsu terhadap dunia dan kemewahannya, dan keinginan hawa nafsu kepada dunia ini tidak akan pernah puas, bahkan akan membawa manusia untuk selalu disibukkan dengan urusan dunia semata, Sehingga lupa untuk mempersiapkan kehidupan akhirat dan Tuhannya.

Qona’ah adalah suatu sikap yang dapat mendidik manusia untuk bersyukur kepada nikmat Allah, dan dengan bersyukur kepada nikmat Allah itulah manusia memperbanyak beribadah kepada Allah Ta’ala. perhatikan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wa Salam:

  ”Jadikanlah kamu orang yang wara’ tentu kamu menjadi manusia yang paling banyak   beribadah, dan jadilah kamu orang yang bersifat qona’ah, tentu kamu menjadi manusia yang paling bersyukur.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah )

Muhammad bin Tirmidzi berkata: ”Qona’ah adalah jiwa merasa lapang dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya, dan hilang rasa tamak terhadap sesuatu yang tidak dicapai.”

Wahai hamba Allah, maksud qona’ah itu sangat luas, qona’ah menyuruh manusia untuk betul-betul percaya akan kekuasaan Tuhannya yang melebihi kekuasaan manusia. Qona’ah menyuruh sabar menerima ketentuan Allah Ta’ala jika ketentuan itu tidak menyenangkan, dan menyuruh manusia bersyukur bila Allah meminjami kenikmatan kepadanya, Dalam hal yang demikian  manusia masih tetap di suruh berusaha keras, sebab selama manusia masih hidup, masih diwajibkan berusaha mencari rezeki. Kamu bekerja bukan berarti meminta tambahan yang telah ada dan tak merasa cukup apa yang telah ada didalam tangan, tetapi kamu bekerja sebab kamu masih hidup, dan orang hidup itu wajib bekerja, inilah maksud qona’ah….. BERSAMBUNG

Sumber artikel : http://ikhwan-em.blogspot.co.id/2013/03/wejangan-dan-nasehat-syeikh-abdul-qodir.html

Semoga Bermanfa’at
Untuk Kita Semua…

Selamat menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya & sebenar-benarnya.

Iklan

One thought on “Kata-kata Bijak dan Nasehat Syeikh Abdul Qodir Jaelani

  1. Bambangst 29 Desember 2016 / 8:11 am

    Subhanallah..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s