Cara-cara Mudah Membalas Budi Baik Kepada Orang Lain


image
karangsemi.wordpress.com

Berikut ini ada 5 cara, jika ke lima cara ini diamalkan maka anda termasuk orang yang benar-benar mampu membalas budi terhadap kebaikan orang-orang yang pernah membantu anda, dan pahala yang anda dapatkan juga akan sangat besar. bahkan anda termasuk orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam bersabda :

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ

“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidaklah bersyukur kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi, dan ia menilainya hasan shahih; dishahihkan oleh syaikh al-Albani).

Memang benar bahwasanya orang yang berinfak dengan hartanya / ingin membantu suka rela dengan tenaganya harus benar-benar ikhlas, tanpa pamrih/tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima, bahkan tanpa mengharapkan rasa/ucapan terima kasih sekalipun.

[hal ini hendaknya di perhatikan bagi orang-orang yang berinfak dan orang yang ingin menolong secara sukarela, agar bisa menjaga keikhlasannya dan bisa mendapatkan pahala dari Allah]. Sebagaimana dalam firman Allah :

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

 Artinya :

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya mengharapkan ridha dari Allah, kami tidak mengharapkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih”
(QS. Al-Insan : 9)

Namun meskipun demikian Allah memerintahkan bagi si penerima untuk membalas dan berterima kasih kepada orang yang memberi kebaikan kepadanya (meskipun tanpa ada tuntutan dari orang yang memberi).

•••••

Ada 5 cara (amalan sunnah) yang sangat di tekankan oleh Rasulullah, agar kita termasuk orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah dan termasuk orang yang paling mampu untuk balas budi. Dan berikut ke lima cara tersebut :

1 : Ucapkanlah Ucapan Terima Kasih seperti yang di ajarkan oleh Rasulullah, (Yaitu ucapan: Jazakumullohu Khoiron), Karena Ucapan Ini Mengandung Do’a Kebaikan

Lihatlah hadits berikut ini :

من صنع إليه معروف فقال لفاعله جزاك الله خيرا فقد أبلغ في الثناء

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia mengucapkan “jazakallohu khoiron” (Semoga Allah membalas kebaikanmu) kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterima Kasih.”
[HR Tirmidzi dan At-Thabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir (148/2); dishahihkan oleh syaikh al-Albani].
 
Rasulullah juga mempraktekkannya, pernah tatkala beliau di beri hadiah berupa daging kambing yang telah di panggang (sate) oleh sebagian dari sahabat Anshor (seperti Abdullah bin amru bin haram dan keluarganya)

Lalu beliau membalas dengan mengucapkan :

جزى الله الأنصار عنا خيرا و لا سيما عبد الله بن عمرو بن حرام و سعد بن عبادة

“Jazahullahul Anshor anna khoiron”.. La siyama Abdullah ibnu Amru ibnu haram, Wa Sa’ad ibnu Ubadah.”
(HR. Al-Hakim, di shahihkan oleh Al-Hakim, dan di sepekati oleh imam Adz-Dzahabi)

2 : Do’akanlah Orang Yang Memberi ‘Dengan Do’a-do’a Yang Bermanfa’at’ Secara Langsung ‘Di Hadapannya’, Atau Secara Tidak Langsung (Bi Dzohril Ghoib)

Dalam kisah yang shahih, suatu saat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengunjungi sebagian Sahabat dan menyantap hidangan makanan yang disajikan kepadanya di rumah mereka.

Ketika Beliau telah selesai dan hendak berpamitan, bergegas tuan rumah berkata: “Ya Rasûlullâh, tolong do’akanlah bagi kami kebaikan…”

Maka Rasûlullâh berdo’a (secara langsung) :

( اللهم بارك لهم في ما رزقتهم واغفر لهم وارحمهم )

“Ya Allâh… Berkahilah bagi mereka semua rizki yang telah Engkau limpahkan kepada mereka, ampunilah mereka, dan sayangilah mereka.”
[HR. Muslim]

Dalam kisah lain, Abdullah bin Abbas pernah menyediakan air wudhu untuk Rasulullah, Maka Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam (membalas kebaikannya dengan) berdo’a :

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

“Ya Allâh, berikanlah dia (Ibnu ‘Abbâs) pemahaman dalam agama.”
[HR. Bukhâri]

3 : Senantiasa Mengingat ‘Kebaikan Orang Yang Memberi’

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

 Artinya :

“…dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian…”
(QS. al-Baqarah/2 : 237)

Mengenai penafsiran ayat di atas, ad-Dhahhâk rahimahullâh berkata: “Keutamaan yang dimaksud adalah budi baik.”

Sa`id bin Jubair rahimahullâh berkata: “Jangan kalian melupakan kebaikan.”

Demikian pula, Qatâdah, Abu Wâ’il, as-Suddi dan lainnya menjelaskan bahwa pengertiannya adalah “janganlah kalian meremehkan (melupakan) kebaikan di antara kalian…”
[Lihat Tafsir at-Thabari atsar no. 5379 dan 5380, Tafsir Ibnu Katsîr 1/648-649]

Maka janganlah seseorang di antara kita mudah melupakan budi baik orang lain. Sungguh, seseorang yang melupakan budi baik orang lain adalah seseorang yang tidak pandai berterima kasih.

Padahal berterima kasih kepada manusia atas kebaikan mereka adalah bagian dari makna bersyukur kepada Allâh Ta’ala.

4 : Membalas Kebaikannya Di Saat Lapang/Memiliki Keluasan Rezeki

Seperti ada orang yang memberi hadiah, lalu suatu saat ketika punya rezeki lebih ia membalasnya dengan hadiah pula. Hal ini merupakan balasan yang sangat di anjurkan apabila anda telah memiliki kemampuan dari sisi materi. Jika belum punya, anda cukup mendo’akannya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ومن آتى إليكم معروفا فكافئوه فإن لم تجدوا فادعوا له حتى تعلموا أن قد كافأتموه

“Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalas kebaikannya maka berdo’alah untuknya sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.”
(HR. Ahmad, Nasa’i, dll, dishahihkan oleh al-Albani)

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata : 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

”Rasulullah selalu menerima hadiah dan beliau juga membalasnya.“
(HR Bukhari)

5 : Menyebut/Memuji Kebaikan-kebaikannya (Jika Di Butuhkan)

Dan lebih baik memuji-mujinya tidak dihadapan orang yang memberi tersebut, untuk menyelamatkan orang tersebut dari Riya’, Ujub dan juga menyelamatkan diri kita dari sifat “cari muka”.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

من أولي معروفا فليذكره فمن ذكره فقد شكره ومن كتمه فقد كفره

“Barangsiapa yang diberikan kepadanya kebaikan maka balaslah setimpal dan barangsiapa yang tidak mampu, maka sebutkanlah kebaikannya, barangsiapa yang menyebut-nyebut kebaikan, maka ia telah bersyukur (berterima kasih), dan barangsiapa yang menyembunyikannya (tidak menyebut-nyebutnya), maka ia bukan termasuk orang yang bersyukur.”
(HR. Ahmad dan At-Thabrani, dihasankan oleh syeikh al-albani dalam Shahih at-Targhiib Wat Tarhib: (974)).

Contoh Nyata Tentang Pujian Rasulullah Terhadap Jasa Khadijah

Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa sallam senantiasa mengingat-ingat jasa dan perjuangan istrinya tercinta, Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha.

Hal ini seperti yang disebutkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ. (متفق عليه)

Artinya :

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku belum pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam seperti cemburuku atas Khadijah radhiyallahu ‘anha, padahal aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sering menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong bagian kambing itu dan beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah radhiyallahu ‘anha. Terkadang aku berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa sallam, ‘Seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah!’ Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa sallam lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Khadijah dahulu begini dan begitu (beliau menyebut kebaikannya dan memujinya). Saya juga mempunyai anak darinya’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian
Semoga bermanfa’at bagi kita, dan mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba-hamba Allah yang banyak bersyukur kepada-Nya, amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s