Berikut Ini Paparan, Ancaman Bagi Orang Yang Kikir/Pelit


image

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Maksudnya Allah SWT menjadikan harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan dileher mereka, mereka disiksa pada hari Kiamat dengan harta yang mereka miliki. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Al-Bukhari:

“Barangsiapa yang diberi Allah SWT harta dan ia tidak menunaikan zakatnya, maka akan diperumpamakan baginya pada hari kiamat seekor ular yang besar, memiliki dua titik, lalu ular itu mencengkeramnya dengan kedua rahangnya, kemudian ular itu berkata: “Aku adalah hartamu, akulah harta simpananmu.” Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat:
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Allah SWT berfirman:
“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling dan selalu menentang kebenaran.”
(QS. At-Taubah [9]: 76)

Maksudnya; ketika Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka dan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya akan tetapi mereka justru kikir, mereka tidak mau berinfak dan mereka melanggar perjanjian serta berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Siapa saja yang kikir dan merasa dirinya cukup (kaya) tidak perlu pertolongan Allah dan mendustakan pahala yang terbaik. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”
(QS. Al-Lail [8]: 8-10)

Maksudanya; “yaitu orang yang kikir terhadap hartanya dan merasa cukup sehingga tidak butuh kepada Allah SWT, mendustakan surga dan kenikmatannya, maka akan Kami siapkan baginya jalan menuju kesulitan yaitu kehidupan yang buruk di dunia dan akhirat. Itulah jalan  kejahatan.”

Para ahi tafsir berkata;
“Jalan kebaikan dinamakan dengan jalan kemudahan, karena jalan itu berakhir dengan kemudahan yaitu masuk ke dalam surga tempat segala kenikmatan. Sementara jalan kejahatan itu dinamakan dengan kesulitan karena ia akan berakhir dengan kesulitan yaitu masuk ke dalam neraka.”

“Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir. Allah akan menampakkan kedengkian (kebencian) kalian untuk berderma.”
(QS. Muhammad [47]: 31)

‘Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir, maksudnya; jika Allah meminta semua harta kamu, permintaan itu tampak bagimu terlalu berlebihan dan meski Allah terus meminta agar kamu menginfakkannya, maka pastilah kamu kikir. Dan Allah akan menampakkan kedengkianmu (kebencian). Maksudnya Allah akan mengungkap dan memperlihatkan kepada orang lain apa yang ada didalam hati kamu, seperti sifat kikir dan tidak mau berinfak.’

Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri:
“Maksudnya, barangsiapa yang kikir tidak mau berinfak di jalan Allah SWT, maka bahaya kikirnya itu akan mengancam untuk dirinya sendiri.”
Ash-Shawi berkata;
“Kata bukhl (kikir) itu adalaah kata kerja yang membutuhkan objek dengan tambahan huruf ala, jika berarti kikir. Dengan huruf an, jika berarti menahan.”

Dan Allah-lah yang Maha kaya sedangkan kemulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Maksudnya Allah SWT tidak butuh terhadap infak kamu, ia tidak perlu kepada harta kamu, akan tetapi sesungguhnya kamulah yang membutuhkan-Nya.

Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, maksudnya; yaitu kamu berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, maka Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada-Nya daripada kamu.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkan di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. Ingatlah Pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”
(QS. At-Taubah [9]: 35)

Ibnu Mas’ud berkata;
“Keadaanya bukan dinar ditumpak-tumpuk pun buka dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi masing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnya telah dilebarkan sedemikain rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.”

Jika ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya adalah;
“Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik) lambung ke samping. Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya).”
Nah ia nanti akan disiksa itu setimpal dengan apa yang telah dia lakukan.

Diantara Gambaran Kikir :

1. Meninggalkan infaq di jalan Allah

Sebagimana Allah berfirman yang artinya:
“Ingatlah kamu ini orang-orang yang diajak orang yang kikir”
(QS. Muhammad: 38)

2. Meninggalkan nafkah keluarga

Dari Aisyah radhiyallah ‘anha, bahwa Hindun berkata pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam:
“Sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang kikir, bolehkah atasku untuk mengambil dari hartanya dengan cara sembunyi-sembunyi?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Ambillah untukmu dan anak-anakmu secukupnya dengan baik.”
(HR. Bukhari)

3. Tidak mengucapkan salam kepada sesama muslim

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan orang yang paling kikir adalah kikir dari mengucapkan salam.”
(HR. Thabrani, shahih)

4. Enggan menunaikan kewajiban hartanya

Seperti enggan membayarkan zakat hartanya karena takut berkurang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan jika anak adam diberi dua lembah dari emas, maka ia ingin mendapatkan lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut anak adam kecuali dengan tanah, kemudian Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”
(HR. Bukhari)

Abu Bakar Ash Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :

Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
Harta yang ditinggalkannya itu dirampas oleh penguasa yang dzalim.
Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab musibah lainnya.
Hartanya yang tidak bermanfaat itu semata-mata hanya untuk biaya berobat dirinya yang menderita penyakit kronis.
Hartanya itu hilang karena disimpan di suatu tempat yang mana dia lupa tempat penyimpanannya.

Sebab-sebab timbulnya sifat kikir :

1 : Cinta dunia
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia), mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan ) akhirat.”
(QS. Al-Qiyamah: 20-21)

2 : Tidak yakin akan apa-apa yang ada disisi-Nya
Allah berfirman yang artinya:
“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”
(QS. Al-Lail: 8-10).

3 : Lupa untuk introspeksi diri, serta melalaikan akibat-akibat dari perbuatan kikir

Penyakit Mental Kikir dan Terapinya :

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat di atas dijelaskan bahwa keuntungan itu hanya bisa didapatkan dengan cara menghindari kekikiran, bukan menghindar dari memberi, dan sebaliknya bahwa sifat kikir mengundang banyak kerugian. Begitu Allah menegaskannya. Kikir tak akan menambah harta dunia, apalagi kekayaan akhirat. Kerugian itu mencakup beberapa hal :

Kesatu: Kerugian berupa miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena orang menganggap tidak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil, bahkan sifat itu akan membinasakan dirinya dan orang lain. Nabi SAW bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.”
(HR Abu Dawud)

Adalah Qais bin Saad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. “Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh kabar jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata; “Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh orang untuk mengumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau.” Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.

Kedua: Sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan.
Dan ini yang paling parah, karena sifat ini merusak hasrat dan motivasi akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka, lihat ayat diatas at-Taubah: 35

Ketiga: Melahirkan sifat kemunafikan

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka setelah Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dan  memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran), maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai mereka menemui Allah.”
(QS. At-Taubah: 76-77)

Keempat: Menimbulkan Kesengsaraan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Beramallah, karena setiap sesuatu akan dimudahkan terhadap apa-apa yang diciptakan pada-Nya. Barangsiapa dari ahli kesengsaraan maka dimudahkan beramal seperti amalan orang-orang yang sengsara.”
(HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Maka apa-apa yang melebihi hajat manusia dan keluarganya, menahannya adalah suatu keburukan. Jika ia enggan melaksanakan kewajiban, maka dia berhak mendapatkan siksaan. Dan jika enggan melakukan hal-hal Sunnah maka dapat mengurangi pahalanya serta menghilangkan mashlahat dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Imam Nawawi)

Kelima: Menimbulkan Kehancuran

Dari Jabir bin Abdillah radiyaallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda:
“Takutlah dari sifat kikir, karena kikir dapat menghancurkan apapun, sebelum kamu membawa pada pertumpahan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.“
(HR. Muslim)

Al-Qadhi rahimahullah berkata:
“Kerusakan disini bisa mencakup dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Nawawi)

Keenam: Mendapatkan kemurkaan Allah Ta’ala

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tiga golongan yang dibenci Allah: Orang tua yang berzina, orang bakhil dan orang yang sombong.”
(HR. Ibnu Hibban)

Ketujuh: Terhalang dari mendapat kenikmatan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan tidaklah ada kaum yang menolak membayar zakat, kecuali Allah yang menghalangi turunnya hujan.”
(HR. Al-Hakim, shahih)

Kedelapan: Menimbulkan kegelisahan dan kegundahan

Kekikiran akan menyebabkan seseorang tenggelam dalam dosa dan kehinaan, baik kecil maupun besar, dzahir maupun batin, akan mendapat akibat dari perbuatannya di dunia sebelum akhirat. Allah berfirman yang artinya:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
(QS. Toha: 124)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Kekikiran menghalangi seseorang dari ditimpa kesempitan hati, jauh dari kelapangan dan kegembiraan, banyak ditimpa kecemasan dan kesedihan dan tidak ditolong untuk bisa memenuhi hajatnya.”
(Al- Wabil As-sho’ib oleh Ibnu Qoyyim dan juga dalam kitabnya Zadul Ma’ad)

Ada beberapa penawar dan terapi yang dapat menyembuhkan seseorang dari sifat kikir :

Pertama: Menumbuhkan keyakinan di dalam hati bahwa segala sesuatu itu milik Allah:

“Kepunyaan Allah ialah segala yang ada di langit dan di bumi, dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”
(QS. Ali Imran: 109)

Ketika seseorang telah merasa bahwa segala sesuatu milik Allah, maka ia tidak merasa memiliki terhadap harta apapun, andai kata ia diberi keleluasaan rezeki oleh Allah maka hatinya akan terdorong untuk bershodaqoh.

Kedua: Banyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesunguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa konsekwensinya jika seseorang mensyukuri nikmat Allah dengan menginfakkan harta di jalan Allah. Maka Allah memberi tambahan yang lebih baik, namun apabila mengingkarinya maka Allah akan mengambil harta itu, dan pasti orang tersebut akan mengalami keperihan dan kesedihan sebagai azab yang harus diterimanya.

Ketiga: Menghadirkan kemauan dan motivasi untuk bershodaqoh:

Cara menyembuhkan sifat kikir yang banyak dianjurkan oleh Al-Quran dan Sunnah adalah dengan memberi dan mendermakan harta di jalan Allah:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir pada setiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang ia kehendaki. Dan Allah maha luas karuni-Nya lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 261)

Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, ia meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:
“Tiadalah datang pagi hari yang dilalui seorang hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah berilah ganti yang lebih baik orang yang berderma.’ Sedangkan satu malaikat lagi berdoa: ‘Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.”
(HR. Bukhari)

Memberi terkadang disalah artikan, banyak yang masih berfikir bahwa memberi itu adalah menghabiskan apa yang ada. Ketika memberi diartikan dengan menghabiskan maka secara otomatis kita akan serba sulit untuk mengeluarkan apa yang kita miliki. Tabiat manusia memang pada dasarnya adalah kikir seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an manusia itu menurut tabiatnya kikir:

Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir.”
(QS. Al-Israa [17]: 100)

Keempat: Meyakini apa yang diinfakkan pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik dan berlipat:

“Dan Apa saja yang kamu infakkan, niscaya Dia (Allah) akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya..”
(QS. Saba: 39)

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al Baqarah: 265)

Demikian pula yang difirmankan-Nya dalam hadits qudsi:
“Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya engkau akan diberi balasan/gantinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Kelima: Mewaspadai bisikan syaitan dan nafsu yang menakut-nakuti dengan kefakiran

Setan selalu menakut-nakuti manusia dengan kefakiran dan menyuruh untuk berbuat kikir, Allah berfirman:

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”
(QS. Al Baqarah: 268)

Dan yang terakhir: Marilah kita berdoa, supaya kita dihindarkan dari sifat Kikir/Pelit:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari ketakutan, saya berlindung kepada-Mu dari kikir, saya berlindung kepada-Mu supaya saya tidak dikembalikan ke masa yang paling hina (pikun), saya berlindung kepada-Mu dari siksa dunia dan akhirat.”
(HR. Bukhari 11/181)

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي ، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ »

”Ya Allah, saya meminta kepada-Mu melakukan kebaikan, meninggalkan keburukan, mencintai orang miskin. Saya meminta Engkau mengampuni dan mengasihi saya. Jika Engkau hendak memberi ujian pada sebuah umat, maka wafatkanlah saya tanpa terkena ujian. Saya meminta agar Engkau memberi pada saya rasa senang terhadap-Mu, rasa senang terhadap orang yang senang terhadap-Mu, dan senang terhadap amal yang mendekatkan pada rasa senang terhadap-Mu.”
(HR Ahmad 5/243, Turmudzi 5/369, dan Al Hakim 1/521)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s