Perbedaan Ahli Ilmu-(Alim) dan Ahli Ibadah-(Abid)


image

Yang dimaksud dengan ahli ilmu (orang alim) disini adalah orang yang mempunyai pemahaman agama dengan baik atau mumpuni, dan pengetahuannya itu dipraktekkan dalam sikap, perilakunya serta ibadahnya dikesehariannya. Sedang yang dimaksud dengan ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) adalah orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari dengan ilmu syari’at. Ia melakukan ibadah dengan mengikuti perasaan dan naluri saja, atau hanya ikut-ikutan orang-orang awam yang ada di sekitarnya.

Di hadapan ilmu, manusia terbagi dalam empat kategori:

Pertama: manusia yang punya ilmu dan ia sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga ia mempraktekkan ilmu itu dalam sikap dan perilaku dikesehariannya. Kita patut belajar kepada orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia adalah ‘alim dan ‘amil.

Kedua: manusia yang punya ilmu tapi ia tidak sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga sikap dan perilakunya menyimpang jauh dari ilmu yang dimilikinya. Perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya. Kita patut mengingatkan orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia sedang lalai akan kewajibannya.

Ketiga: manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia sadar akan kebodohannya, sehingga perilakuknya terkadang benar terkadang salah. Ia bertindak berdasarkan naluri dan perasaannya, atau hanya ikut arus yang ada. Kita patut mengajari orang yang masuk dalam kategori ini, agar ia punya bekal dan pedoman yang benar untuk menghindari kesalahan dalam perilakunya.

Keempat: manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia tidak menyadari kebodohannya, sehingga ia enggan menerima masukan dan nasehat orang-orang yang ada di sekitarnya, karena ia merasa tidak butuh nasehat. Kita patut waspada dengan orang yang masuk dalam kategori ini. Jika kita tidak punya bekal dan semangat untuk memperbaikinya, lebih baik kita menjauhinya agar tidak terkena imbasnya.

»Si Ahli Ibadah Tapi Bodoh & Si Ahli Ilmu Tapi Suka Maksiat«

Dikisahkan: Al-Umari, seorang ahli ibadah, menulis surat kemudian dikirimkan kepada Imam Malik rahimahullah yang di dalamnya menceritakan tentang dirinya yang suka menyendiri dan suka bekerja, ia tidak mau mengikuti Imam Malik untuk menuntut ilmu. Menanggapi surat tersebut, Imam Malik membalasnya dengan mengatakan:
‘‘Sesungguhnya Allah mengatur amalan hamba-hamba-Nya sebagaimana Allah mengatur rezeki. Kadang-kadang ada yang dibukakan baginya melalui sholat dan dalam puasa. Ada yang dalam sedekah dan tidak dibukakan dalam puasa. Dan ada pula yang dalam jihad dan bukan dalam sholat. Adapun mempelajari ilmu dan menyebarkannya merupakan sebaik-baik amalan kebaikan. Dan aku ridho dengan apa yang telah dibukakan Allah bagiku. Aku berharap agar kita berada di atas kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridho dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Wassalam.”

Keutamaan seorang yang alim dapat dilihat pula daripada dalil-dalil berikut: 

“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar ayat 9)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada para hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir ayat 28)

Dan sesungguhnya masih banyak ayat-ayat didalam Al-Qur`an yang senada yang tidak perlu dihadirkan semuanya didalam keterangan ini.

Di samping dalil-dalil dari Al-Qur’an terdapat pula dalil-dalil dari Al-Hadits seperti berikut:

“Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Disebutkan kepada Rasulullah Saw tentang dua orang, yaitu seorang ahli ibadah dan seorang alim. Lantas beliau bersabda: ‘‘Keutamaan seorang yang alim dengan seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku (Rasulullah) dengan yang paling rendah di antara kalian (para sahabat).’’ Kemudian beliau bersabda: ‘‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya dan para penghuni langit lainnya dan penghuni bumi sampai semut dalam sarangnya serta ikan pun ikut mendo’akan para pengajar kebaikan kepada manusia.”
(HR. Tirmidzi, Darimi, dan disahihkan oleh Albani dalam Al-Misykah)

“Keutamaan orang berilmu (alim) dari seorang yang ahli ibadah (‘abid) adalah seperti keutamaan bulan pada malam bulan purnama dari seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya (mewarisinya) maka berarti ia telah mengambil dengan bagian yang besar.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah)

“Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau Nabi Saw berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu: “Sungguh jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melaluimu maka itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah.”
(HR. Bukhari, Muslim , Ahmad)

Hasan Al-Bashri berkata:
“Kalaulah bukan karena orang-orang yang berilmu (para ulama) tentu manusia menjadi seperti hewan.”

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
“Pelajarilah ilmu, sebab mempelajarinya karena Allah adalah khasyah (rasa takut), menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, menyerahkannya kepada ahlinya adalah sebagai taqarrub. Dia (ilmu) teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian.”

Dengan demikian, wajiblah bagi kita orang yang merasa sakit dengan mengobati maksiat kita untuk menanyakan obatnya kepada orang-orang yang berilmu (para ulama), sebagaimana telah difirmankan oleh Allah: 

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahuinya.”
(QS. Al-Anbiya’ ayat 7)

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s