KISAH NABI MUSA AS DAN FIR’AUN [1]


image

Kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun {1}

Secara umum, ‘hubungan’ Nabi Musa AS dan Fir’aun terbagi dalam dua periode, yakni ketika beliau dilahirkan dan berada dalam pengasuhan Fir’aun, dan kedua ketika beliau telah diangkat sebagai Nabi dan mendakwahi ‘mantan’ bapak angkatnya tersebut. Pada kesempatan ini akan dipaparkan bagian pertamanya.

Nabi Musa AS bisa dikatakan sebagai Nabi dari kalangan Bani Israil yang paling besar dan paling banyak umatnya. Nama ‘Israil’ dinisbahkan (disandarkan) kepada Nabi Ya’kub, yang sebelumnya tinggal di negeri Kan’aan. Beliau akhirnya pindah ke Mesir atas permintaan salah satu putranya, Nabi Yusuf AS, yang ‘sukses berkarir’ di kerajaan Fir’aun tersebut, sebagai salah satu seorang menteri bidang pangan dan pertanian. Jadi Bani Israil adalah anak keturunan dari putra-putra Nabi Ya’kub yang berjumlah duabelas orang. 

Bani Israil berkembang cukup pesat di Mesir sehingga jumlahnya menjadi mayoritas kedua setelah bangsa Qibti, penduduk asli Mesir. Tetapi kebanyakan dari mereka tetap menjadi masyarakat kelas dua, menjalani profesi kelas bawah seperti tukang bangunan, kuli, pelayan, pembantu dan pegawai rendahan lainnya. Hanya sedikit saja yang sukses, khususnya dalam hal perdagangan. Tetapi umumnya mereka dianggap sebagai orang-orang yang dapat dipercaya (saat itu) oleh masyarakat Mesir. 

Masyarakat Mesir saat itu sangat menghargai dan meninggikan hal-hal yang bersifat ghaib. Sampai sekarang ini mungkin bisa kita temukan ‘jejak-jejaknya’ dari banyaknya misteri yang melingkupi Piramid dan berbagai macam peninggalan Mesir kuno lainnya. Karena itulah, profesi dukun (dukun klenik, bukan dukun pijat atau dukun bayi), ahli sihir, ahli tenung, ahli tafsir mimpi, tukang ramal dan sejenisnya mempunyai kedudukan tinggi di sisi Fir’aun. Masyarakat Mesir asli saat itu memang menyembah berbagai macam dewa-dewa, dan yang tertinggi adalah dewa matahari (Dewa Ra). Mereka juga menyembah berhala-berhala, baik dalam bentuk binatang, atau bentuk para leluhurnya, dan sebagian dari mereka juga ‘menyembah’ Fir’aun sebagai tuhannya. 

Pada tahun ketika Nabi Musa akan dilahirkan, para ahli sihir dan ahli tenung kerajaan memberitahukan kepada Fir’aun, bahwa akan dilahirkan seorang anak dari kalangan Bani Israil, yang akan menjadi sebab jatuhnya kedudukan dirinya sebagai penguasa dan ‘tuhan’nya orang-orang Mesir. Tentu informasi tersebut membuat Fir’aun menjadi marah. Berita tersebut walau mengandung kebenaran, tetapi lebih banyak kebohongannya, dan hanya akan memancing lebih banyak kemaksiatan dan kedzaliman. 

Memang, sebelum kelahiran Nabi SAW dan diutusnya beliau sebagai Rasul dan Rahmatan lil ‘Alamin, jin dan syaitan bebas bergerak naik ke langit dunia untuk ‘mencuri’ berita-berita yang dibawa oleh Malaikat. Berita-berita tersebut dicampur-adukkan dengan seratus macam kebohongan dan disampaikan kepada para ahli sihir dan tukang tenung yang ‘menghamba’ kepadanya. Tetapi setelah kehadiran Nabi SAW, jin dan syaitan yang berusaha naik ke langit akan dikejar dan dirajam oleh ‘bintang-bintang’ (meteor), yang bisa membuatnya cacat atau terbunuh. Namun, karena hal ini adalah salah satu ‘cara efektif’ untuk bisa menyesatkan manusia, syaitan-syaitan itu tidak pernah berhenti berusaha mencuri berita, demi mensupport ‘informasi’ bagi ahli sihir dan tukang tenung. 

Fir’aun dan para punggawanya, termasuk penasehatnya dari para ahli nujum dan ahli sihir, mengadakan rapat kilat untuk membahas masalah itu. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk membunuh semua bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil yang dilahirkan pada tahun itu. Dibuatlah ‘Undang-undang’ untuk menjadi dasar tindakannya, setelah itu Fir’aun menyebarkan tentaranya ke seluruh pemukiman Bani Israil dan berjaga-jaga di sana. Jika ada bayi laki-laki dilahirkan, mereka segera mengambilnya dan membawanya ke hadapan Fir’aun untuk dibunuh. Tidak terkira banyaknya bayi-bayi tidak berdosa yang menjadi korban ‘kebijakan’ pemerintahan lalim Fir’aun itu. 

Ibu Nabi Musa, sebagian riwayat menyebutkan namanya adalah Jukabad, sebagian lagi menyebutnya Imrah, dan al Qur’an hanya menyebutnya Ummi Musa, saat itu tengah mengandung tua dan berusaha menyembunyikan diri dari pengamatan pasukan Fir’aun. Tidak ada kejelasan tentang suaminya yang bernama Imran, kemungkinan besar saat itu telah meninggal, karena Al Qur’an hanya menyebutkan keberadaan ibunya. Ketika tiba waktunya melahirkan, Jukabad hanya ditemani oleh putrinya yang bernama Maryam dan ternyata bayi itu adalah laki-laki. Tidak ada kejelasan riwayat, apakah saat itu Jukabad memberi nama bayinya Musa, atau nama Musa itu diberikan oleh Fir’aun, karena nama Musa (Moses) artinya adalah “yang terhanyut/terapung tetapi tidak tenggelam”. Ia makin ketakutan dan hanya berdiam di rumah saja untuk tidak diketahui oleh mata-mata Fir’aun.

Walaupun telah ribuan atau mungkin puluhan ribu bayi laki-laki Bani Israil yang telah ‘dibantai’ oleh Fir’aun dan bala tentaranya, tetapi para juru tenung dan juru ramal Fir’aun menyatakan bahwa ‘bahaya’ itu belum hilang. Tentu semua informasi itu berasal dari jin kafir dan syaitan-syaitan yang tidak henti-hentinya mencuri berita dari langit. Fir’aun makin banyak menyebarkan tentara dan mata-matanya untuk menemukan bayi yang dimaksud. Mereka makin efektif menjelajah setiap pelosok Mesir untuk menemukan keluarga Bani Israil yang mengandung dan mempunyai anak bayi laki-laki, dan diperintahkan untuk langsung membunuhnya jika ditemukan. 

Wa makaruu wa makarallaah wallaahu khoirul maakiriin (Mereka membuat rencana dan Allah juga memiliki rencana, dan Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana), Sekuat dan sehebat apapun Fir’aun dan bala tentaranya berusaha, dia tidak akan bisa merubah rencana Allah. Jika Allah menghendaki terjadinya sesuatu, walau seluruh malaikat, jin dan manusia berkumpul untuk mencegahnya, niscaya tidak akan berhasil menggagalkannya. Begitupun sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki terjadinya sesuatu, walau seluruh malaikat, jin dan manusia berkumpul untuk mewujudkannya, niscaya tidak akan berhasil. 

Jukabad makin ketakutan dengan tindakan Fir’aun dan bala tentaranya. Ketika Musa berusia tiga bulan dan ia hampir tidak mampu lagi bersembunyi, Allah memberikan wahyu (ilham) kepada Jukabad, sebagaimana disebutkan dalam QS al Qashash ayat 7 : 

“Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (sebagai salah seorang) dari para Rasul.”

Ketika Allah mengangkat Musa sebagai Nabi dan menceritakan tentang ilham yang diturunkan kepada ibunya, Jukabad, Allah berfirman sebagaimana disitir dalam QS Thaha ayat 39 :

“Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya”. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu (wahai Musa, ) kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh (oleh Fir’aun) di bawah pengawasan-Ku.”

Memperoleh ‘bisikan ghaib’ seperti itu, hati Jukabad menjadi lebih tenang. Ia segera menyusui Nabi Musa sepuas-puasnya, kemudian meletakkan Musa dalam sebuah peti kayu yang tidak tembus air dan dihanyutkan di sungai Nil pada malam harinya. Ia memerintahkan Maryam (saudara/kakak Musa) untuk mengikuti ke mana aliran air sungai membawa Musa. Ia mengikutinya hingga terang tiba, ternyata peti itu mengarah ke istana Fir’aun, dan ‘seolah-olah’ berlabuh di depannya untuk bisa ditemukan oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Ketika peti itu diambil dan dibawa masuk ke dalam istana oleh penjaga-penjaga istana, Maryam segera pulang untuk memberitahukan kepada ibunya. Hati Jukabad sempat khawatir, tetapi kemudian ia hanya tawakal kepada Allah. Ia meyakini Allah akan tetap melindungi putranya sebagaimana ilham yang diterimanya.

Begitu Fir’aun menerima laporan ditemukannya peti tersebut, ia segera memerintahkan untuk membukanya. Tampaklah seorang bayi lelaki cukup sehat yang sedang mengisap jempolnya. Logika Fir’aun berjalan, tentunya bayi itu dari kalangan Bani Israil, karena takut diketemukan dan dibunuh, maka ‘dibuang’ ke sungai Nil. Para peramal dan ahli tenung juga mendukung pendapat Fir’aun, maka mereka bersiap membunuhnya seperti biasanya. 

Walau keadaannya cukup kritis bagi bayi Musa, tetapi ternyata mudah sekali bagi Allah untuk merubah situasi tersebut. Tiba-tiba istri Fir’aun melihat bayi Musa dan dimunculkan-Nya rasa kasih sayang dalam hatinya, ia berkata kepada suaminya, sebagaimana disitir dalam QS al Qashash ayat 9 : 

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.”

Dan mudah pula bagi Allah ‘memercikkan’ sedikit kasih sayang ke hati Fir’aun, sehingga ia menyetujui permintaan istrinya, dan mengabaikan nasehat peramal dan juru tenung kerajaan. Bahkan akhirnya Fir’aun ‘tenggelam’ dalam kegembiraan dengan kehadiran bayi Musa tersebut, dan lupa tentang ancaman seseorang dari kalangan Bani Israil yang akan menjadi sebab kejatuhan dirinya dan kerajaannya. Tak jarang ia menggendong sendiri bayi Musa tersebut. 

Fir’aun mencari orang-orang yang mau menyusui Musa, puluhan bahkan ratusan wanita ‘melamar’ pekerjaan tersebut, tetapi Musa sama sekali tidak mau menyusu, bahkan tidak mau melepaskan jempolnya dari mulutnya. Kemudian Maryam mendatangi Fir’aun dan menawarkan diri untuk mencarikan seseorang yang bisa menyusui Musa. Setelah mendapat persetujuan, ia membawa Jukabad datang ke istana, dan segera saja Musa mau menyusu kepada ibunya sendiri itu. Benarlah janji Allah, bahwa Dia akan menyelamatkan putranya, dan mengembalikannya lagi kepada dirinya. 

Suatu ketika Fir’aun sedang ‘bermain-main’ dengan si kecil Musa yang telah mulai merangkak, tanpa disangka-sangka Musa menarik jenggotnya dengan kerasnya. Fir’aun sangat marah, dan tiba-tiba saja terfikirkan bahwa sangat mungkin bayi ini yang menjadi sebab kejatuhannya. Istrinya berusaha mendinginkan suasana hati Fir’aun, dan menyatakan kalau Musa masih kecil dan tidak mengerti apa yang dilakukannya. Fir’aun tidak bisa menerima alasan itu begitu saja, ia berkata: “Aku akan menguji dirinya, benarkah ia belum mengerti? Kalau ia berbuat seperti itu karena pengertiannya, tentu aku akan membunuhnya!!”

Fir’aun memerintahkan pembantunya untuk menyediakan sepotong roti dan sebuah bara api. Kemudian Fir’aun membiarkan Musa merangkak menghampiri dua benda tersebut, jika ia mengambil roti, berarti ia punya pengertian dan ketika menarik jenggotnya adalah dengan kesengajaan. Ketika merangkak menghampiri dua benda tersebut, sebenarnya tangan Musa terulur ke arah roti, tetapi Malaikat Jibril memukul tangannya sehingga terpegang bara, yang langsung dimasukkan ke mulutnya sebagaimana umumnya anak kecil. Seketika itu lidah Musa terpanggang sehingga mengkerut, tetapi segera diselamatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Karena keadaan lidahnya tersebut, hingga dewasa Nabi Musa agak susah dalam berbicara, suara yang terdengar cenderung cedal. Itulah sebabnya, ketika Musa diangkat sebagai Nabi, ia meminta kepada Allah untuk mengangkat saudaranya, Harun sebagai Nabi juga, sekaligus juru bicara yang menjelaskan dakwah-dakwahnya. 

Melihat keadaan tersebut, amarah Fir’aun jadi mereda, dan ia makin sayang kepada Musa Ia memelihara dan membesarkannya hingga remaja, sehingga Musa layaknya seorang pembesar dan bangsawan Qibti lainnya. Musa baru berpisah dan melarikan diri dari kerajaan Fir’aun, setelah ia membantu seorang Bani Israil yang terlibat pertengkaran dengan seorang Qibti. Seperti biasanya, orang Qibti itu berbuat sewenang-wenang kepada orang Bani Israil yang dianggapnya sebagai warga kelas dua. Tampaknya ‘bahan’ kenabian yang tertanam di dalam dirinya tidak bisa membiarkannya berdiam diri, Musa berusaha melerai. Tetapi ketika orang Qibti itu bersikap arogan, ia memukulnya dan seketika itu mati. 

Mendengar berita tersebut, Fir’aun mengirimkan pasukannya untuk menangkap dan mengeksekusi pembunuh orang Qibti itu, yakni Musa. Ada seseorang yang memberitahukan rencana Fir’aun kepada Musa, dan ia segera melarikan diri. Ia berjalan meninggalkan Mesir menuju negeri Madyan, dan di sana ia diambil menantu oleh Nabi Syu’aib

Lanjut: KISAH NABI MUSA AS DAN FIR’AUN [2]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s