Suka Berdebat: Menyukai Dunia: Yang Demikian Itu Berbahaya


image

» LARANGAN BERDEBAT «

Orang Baik Tidak Menyukai Perdebatan.

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alahi wa sallam telah memperingatkan (melarang) kepada kita semua supaya jangan sampai apalagi suka berdebat dan berjidal (berdegil) :

 
((ما ضلّ قوم بعد هدىً إلا أوتوا الجَدلّ)) ثم قرأ ) {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} (الزخرف:58)

“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah diberi petunjuk kecuali setelah mereka mendapati jidal” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Tidaklah mereka itu memberikan perumpamaan kepada engkau kecuali sekedar untuk membantah saja, tetapi mereka itu adalah kaum yang suka bertengkar.”
(HR. At Tirmidzi no: 3253, hasan shahih).

Telah berkata sebagian salaf:
“Apabila Allah mengehendaki suatu kebaikan untuk seorang hamba, Allah membukakan untuknya pintu amal, dan menutup darinya pintu jidal, dan apabila Allah mengehendaki kejelekan untuk seorang hamba, Allah menutup untuknya pintu amal dan membuka baginya pintu jidal.”

Berkata imam Malik:
“Berjidal adalah menghilangkan cahaya ilmu dan mengeraskan hati, serta menyebabkan permusuhan.”
(Ibnu rajab, Fadhlu ilmu salaf: 35).

Diantara sifat salaf adalah sedikit berbicara, diamnya salaf dari berbantah-bantahan dan berjidal bukannya karena mereka itu lemah dan bodoh, tetapi mereka diam diatas penuh ilmu dan penuh takut kepada Allah.

Adapun banyak pembicaraan dan komentar dari orang-orang setelah mereka bukan berarti mereka lebih berilmu dari salaf tetapi disebabkan karena mereka suka banyak bicara dan kurangnya warak.

Sebagaimana yang dikatakan hasan Al Bashri tatkala ia menyaksikan orang saling berdebat: “Mereka adalah kaum yang malas beribadah dan suka berbicara serta tidak memiliki warak, makanya mereka suka ngobrol.”
(Ibnu rajab, Fadhlu ilmu salaf: 36).

Berkata Ibnu mas’ud radhiallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya kalian berada di zaman yang banyak ulamanya sedikit para khatibnya, akan datang sesudah kalian masa yang banyak khatibnya tetapi sedikit ulamanya, barang siapa yang luas ilmunya dan sedikit omongannya, maka ia adalah terpuji, dan barang siapa yang sebaliknya maka ia adalah tercela.”

Ibnu rajab berkata:
“Kebanyakan generasi sekarang mengira bahwa banyak bicara, suka berjidal, suka berbantah dalam masalah agama, adalah lebih tau dari orang yang tidak seperti demikian, inilah suatu kebodohan, coba kita lihat bagaimana para sahabat sangat sedikit perkataan mereka bila dibandingkan dengan perkataan tabi’iin, sedangkan para sahabat jauh lebih berilmu bila dibandingkan dengan tabi’iin, begitu juga halnya tabi’ tabi’iin dengan tabi”in, ilmu bukanlah diukur dengan banyak riwayat dan tidak pula diukur dengan banyak omongan tetapi ilmu adalah cahaya yang diberikan Allah kedalam hati seseorang yang menjadikannya paham tentang kebenaran, dan mampu membedakan antara yang hak dengan yang batil, serta mengungkapkannya dengan perkataan yang sederhana dan padat serta tepat dalam menyampaikan kepada apa yang di maksud.”
(Ibnu Rajab, Fahdul Ilmi salaf: 37-38)

Maka perlu untuk diketahui bahwa sesungguhnya bukanlah setiap orang yang luas pembicaraanya, pintar ngomongnya lebih berilmu dari orang yang tidak demikian halnya, sungguh di akhir zaman ini kita telah mendapat cobaan dari sebagian manusia yang berpandangan demikian.

Mendahulukan kepentingan duniawi diatas kepentingan ukhrawi.

Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab beliau (fadhlu ilmu salaf hal: 52-54) beberapa bentuk sikap orang yang memburu kesenangan dunia dengan memobilisasi ukhrawi, adakalanya mengaku memiliki ilmu tentang keagamaan, tetapi tujuannya dibalik itu adalah ingin mencari kududukan ditengah-tengah manusia, baik dikalangan penguasa atau lainnya, atau untuk mencari pengikut yang banyak dan berbangga dengannya, seperti mengaku sebagai wali dan sebagainya.

Diantara ciri-cirinya lagi adalah tidak mau tunduk kepada kebenaran, dan memiliki kesombongan terhadap orang yang menegakkan kebenaran, apalagi bila orang tersebut tidak terpandang dimata manusia, kemudian tetap berpegang dengan kebatilan karena takut terbukanya kedok kesesatan dan kebodohannya, saat tersebarnya kebenaran ditengah-tengah manusia.

Boleh jadi kadangkala ia mencela dirinya sendiri, agar dianggap sebagai orang yang memiliki sifat tawadhuk, supaya orang lain memujinya.

Allah Swt telah berfirman didalam kitab suci-Nya:

{مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ  * أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَمَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ} [هود: 15-16]

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan,” (QS. 11: 15)
“Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 11: 16)

Tafsir :
Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra mengenai ayat ini, ia berkata: “Orang-orang yang gemar berbuat riya’ akan diberikan balasan kebaikan mereka di dunia dan mereka tidak dizalimi sedikitpun. Barang siapa yang mengerjakan amal shalih dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan dunia, baik puasa, shalat, ‘sedekah’ ataupun tahajjud pada malam hari, (dll)…, dan ia melakukannya semata-mata untuk tujuan duniawi, maka Allah Swt berfirman: “Berikanlah kepadanya apa yang ia cari di dunia. Dan sia-sia lah amal yang ia kerjakan demi meraih kesenangan dunia, sedangkan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ath Thabari (XV/263))

Demikian itulah yang diriwayatkan dari Mujahid, Adh-Dhahak dan beberapa ulama lainnya. (Ath Thabari (XV/264, 265))

Qatadah berkata:
“Barangsiapa yang dunia menjadi perhatian, niat dan tujuannya, maka Allah akan membalas kebaikannya di dunia. Lalu di akhirat, ia tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun.” (Ath Thabari (XV/264))

Surat 42: Asy-Syuuraa, Ayat 20:
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”

Tafsir :
Allah Swt berfirman: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat”, yakni amalan akhirat ”akan Kami tambah keuntungan itu baginya”, Yakni Kami akan menguatkan dan menolongnya dalam menghadapi sesuatu yang menghalanginya, memperbanyak perkembangan keuntungannya, dan membalas satu kebaikan darinya dengan sepuluh kebaikan yang serupa, sampai tujuhratus kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang dikehendaki oleh Allah. ”Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”
Yakni, barang siapa yang berusaha hanya untuk memperoleh bagian dunia, dan ia sama sekali tidak memiliki keinginan terhadap bagian akhirat, maka Allah mengharamkan bagian akhirat untuknya. Adapun bagian dunia, maka jika Dia berkehendak, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, baik bagian dunia maupun bagian akhirat. Dan orang yang berusaha dengan niat demikian akan memperoleh kerugian di dunia dan akhirat.

Surat 17: Al-Israa’, Ayat 18-19:
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir,” (QS. 17: 18)
“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS.17: 19)

Tafsir:
Allah Swt mengabarkan bahwa tidak semua orang yang mencari dunia dan kesenangannya berhasil mendapatkannya. Akan tetapi hanya orang-orang yang Allah kehendaki saja yang dapat merasakan kesenangan tersebut, dan itu pun sekedar apa yang dikehendaki-Nya. Ayat inilah yang membuat ayat-ayat lainnya menjadi lebih terfokus. Karena pada ayat ini Allah Swt berfirman: ”maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam” yakni di negeri akhirat, “Yang ia akan memasukinya,” hingga api Neraka itu akan mengepungnya dari segala penjuru. “Dalam keadaan tercela,” tercela karena buruknya tindakan dan perbuatannya, tatkala ia lebih memilih dunia yang fana daripada akhirat yang kekal, “Dan terusir”, dijauhkan (dari rahmat-Nya), dalam keadaan sangat hina dina.
Firman Allah Swt: ”Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat” yakni orang yang menghendaki negeri akhirat dengan segala kenikmatan dan kebahagiaannya. ”dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh”, yakni berusaha meraih akhirat itu dengan cara yang benar, yaitu dengan mengikuti Rasulullah Saw ”sedang ia adalah mukmin” yakni hatinya iman dan membenarkan adanya pahala serta balasan (di akhirat),” maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.”

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b ra, ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw  bersabda:
“Berikan kabar gembira kepada umat ini, berupa keluhuran, kemenangan dan kejayaan di bumi. Barangsiapa diantara mereka beramal dengan amalan akhirat untuk tujuan dunia, maka di akhirat ia tidak mendapatkan satu bagianpun.”
(HR. Ahmad (V/134) (Shahih, lihat Shahiihul Jaami’ (no.2825))


Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:

((لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك))

“kalaulah seandainya pemilik ilmu menjaga ilmu dan meletakannya pada orang yang sebagai pemiliknya, sungguh mereka akan memimpin zaman mereka, tetapi mereka memberikannya pada pemilik dunia, supaya mereka memperoleh keduniaan mereka, maka mereka dihinakan (dihadapan) pemilik dunia, aku telah mendengar Nabi kalian bersabda:
“Barangsiapa yang menjadikan kepentingannya satu kepentingan yaitu kepentingan akhiratnya niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhan dunianya, barangsiapa yang terpencar-pencar kepentingannya dalam urusan dunia, Allah tidak menghiraukan dilembah manapun ia binasa.”
(HR. Ibnu Majah no: 257).

Dalam kenyataan sehari-hari kita sering menyaksikan orang-orang yang binasa dan celaka dalam berbagai lembah yang hina, demi mencari kesenangan duniawi dengan memperdagangkan urusan ukhrawi, ada yang binasa dilembah maksiat, lembah partai politik, lembah muzawwir dan mutawwif (khusus bagi yang berada di Madinah dan Makkah), dan lain-lain sebagainya, harapan orang tua, sanak family dan orang kampung serta umat telah lenyap ditelan masa entah dilembah mana tercecernya.

Imam Asy Syaukany mengulas dalam kitabnya (Adabuthalab wal muntahal’arib) : diantara sebab yang membuat seseorang menjauhi kebenaran, dan menyembunyikan dalil-dalil kebenaran serta tidak menerangkan apa yang diwajibkan Allah kepadanya untuk menerangkannya adalah kecintaan kepada kehormatan dan harta.

Banyak fenomena yang kita saksikan di tengah para thalabul ilmi, yang tidak mungkin kita kupas dalam bahasan yang ringkas ini, tetapi orang yang arif dan bijak dengan isyarat saja sudah cukup untuk mengingatkannya.

image

Wallahu a’alam bishawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s