Berikut Ini Ulasan Tentang TINGKATAN DIEN


image
– Tingkatan Dien –

A. Definisi Tingkatan Dien

Dien adalah keta’atan. Dien juga disebut millah, dilihat dari segi keta’atan dan kepatuhan kepada syari’at.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Sedangkan tingkatan dien itu adalah:


  1. Islam
    Menurut bahasa, Islam berarti masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’ Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadaNya, ta’at dan membebaskan diri dari syirik dan para pengikutnya.

  1. Iman
    Menurut bahasa, iman berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut syara’, berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan perbuatan dengan anggota badan.

  1. Ihsan
    Menurut bahasa, ihsan berarti berbuat kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji.
    Dan kata-kata ihsan mempunyai dua sisi:
    Pertama; Memberikan kebaikan kepada orang lain.
    Kedua; Memperbaiki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikkannya.

Sedangkan ihsan menurut syara’ adalah sebagaimana yang di-jelaskan oleh baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dalam sabdanya: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar)

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh Allah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112)

Agama Islam mencakup ketiga istilah ini, yaitu: Islam, iman dan ihsan. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ketika datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam di hadapan para sahabatnya dan bertanya tentang Islam, kemudian tentang iman dan ihsan. Lalu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan setiap dari pertanyaan tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Inilah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan dien kalian.” Jadi Rasulullah menjadikan dien itu adalah Islam, iman dan ihsan. Maka jelaslah agama kita ini mencakup ketiga-tiganya. Dengan demikian Islam mempunyai tiga tingkatan: Pertama ada- lah Islam, kedua iman dan ketiga adalah ihsan. (Lihat Majmu’ Fatawa, 8/10 dan 622 )


B. Keumuman dan Kekhususan dari Ketiga Tingkatan Tersebut

Islam dan iman apabila disebut salah satunya secara terpisah maka yang lain termasuk di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara keduanya ketika itu. Tetapi jika disebut keduanya secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri, sebagaimana yang ada dalam hadits Jibril.

Di mana Islam ditafsiri dengan amalan-amalan lahiriah atau amalan-amalan badan seperti shalat dan zakat. Sedangkan iman ditafsiri dengan amalan-amalan hati atau amalan-amalan batin seperti membenarkan dengan lisan, percaya dan ma’rifat kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan seterusnya.

Adapun keumuman dan kekhususan antara ketiganya ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah sebagai berikut: “Ihsan itu lebih umum dari sisi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada iman. Iman itu lebih umum dari segi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada Islam. Ihsan mencakup iman, dan iman mencakup Islam. Para muhsinin lebih khusus daripada mukminin, dan para mukmin lebih khusus dari para muslimin.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 7/10 )

Oleh karena itu para ulama muhaqqiq mengatakan; “Setiap mukmin adalah muslim, karena sesungguhnya siapa yang telah mewujudkan iman dan ia tertancap di dalam sanubarinya maka dia pasti melaksanakan amalan-amalan Islam sebagaimana yang telah disabdakan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :
“Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal darah, jika ia baik maka menjadi baiklah jasad itu semuanya, dan jika ia rusak maka rusaklah jasad itu semuanya. Ingatlah, dia itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tidak setiap muslim itu mukmin, karena bisa jadi imannya sangat lemah, sehingga tidak bisa mewujudkan iman dengan bentuk yang sempurna, tetapi ia tetap menjalankan amalan-amalan Islam, maka menjadilah ia seorang muslim, bukan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Orang-orang Arab Badwi itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah: ‘Kami telah tunduk’, …” (Al-Hujurat: 14)

Mereka bukanlah orang munafik secara keseluruhan, demikian menurut yang paling benar dari dua penafsiran yang ada, yakni perkataan Ibnu Abbas dan lainnya, tetapi iman mereka lemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; ..” (Al-Hujurat: 14)

Maksudnya tidaklah pahala mereka dikurangi berdasarkan iman yang ada pada diri mereka yang cukup sebagai syarat untuk diterimanya amalan mereka dan diberi balasan pahala. Seandainya mereka tidak memiliki iman, tentu mereka tidak akan diberi pahala apa-apa. (Syarah Arba’in, Ibnu Rajab, hal. 25-26.)

Maka jelaslah bahwa dien itu bertingkat, dan sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lain. Pertama adalah Islam, kemudian naik lagi menjadi Iman, dan yang paling tinggi adalah Ihsan.


© [Alquran-Sunnah.Com]


Kisah Hidup Nabi Isa


Artikel ini membahas seorang Nabi dalam agama Islam. Untuk tokoh yang sama dari sudut pandang agama Kristen  dan Yahudi

image
Kaligrafi bertuliskan Isa dalam bahasa arab

Isa (bahasa Arab: عيسى, `Īsā; Essa; sekitar 1 – 32M) adalah nabi penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu dari Ulul Azmi. Dalam Al-Qur’an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa al-Masih. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Cerita tentang Isa kemudian berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah, penolakan oleh Bani Israil dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke surga.

Asal-usul Kata Isa

Kata Isa ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umum digunakan umat Kristen untuk menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu’ al-Masih (bahasa Arab: يسوع المسيح).

Kemudian, ia diyakini mendapatkan gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah dan Kalimatullah. Karena Isa dicipta dengan kalimat Allah “Jadilah!”, maka terciptalah Isa, sedangkan gelar ruhullah artinya ruh dari Allah karena Isa langsung diciptakan Allah dengan meniupkan ruh kedalam rahim Maryam binti Imran.

Garis Keturunan

Narasi Qur’an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Al-Qur’an menceritakan keajaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah.

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Ali ‘Imran: 45)

Dikisahkan pula bahwa selama Isa berada didunia, ia tidak menikahi seorang wanita karena ia terlebih dahulu diangkat oleh Allah kelangit. Akan tetapi, ada riwayat yang mengatakan bahwa Isa akan menikah dengan salah satu umat Muhammad ketika ia turun dari langit, kejadian ini dikisahkan menjelang akhir zaman.

Wujud

Dalam buku dikatakan bahwa wujud fisik Isa digambarkan oleh Muhammad yaitu, rambutnya terbelah dua, wajahnya tampan, kulitnya putih agak kemerah-merahan. Muhammad bertemu dengan Isa, ketika ia sedang dalam Isra Mi’raj ke Sidrat al-Muntahā, dilangit kedua yang disebut sebagai Al-Maa’uun.

Riwayat

Kelahiran

Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan sepanjang dalam beberapa ayat dalam Al Qur’an. Menurut kisah di Al-Qur’an, Maryam selalu beribadah dan telah dikunjungi oleh malaikat Jibril. Jibril mengatakan kepada Maryam tentang akan diberikan calon anak yang bernama Isa, Maryam sangat terkejut, karena ia telah bersumpah untuk menjaga kesuciannya kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu dan bagaimana pula dia bisa hamil tanpa seorang lelaki, lalu Jibril menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah bagi Allah, yang ingin membuat dia sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya. Seperti halnya dalam konsep penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.

Pembicaraan mereka terekam dalam salah satu surah di dalam Al-Qur’an:

“Jibril berkata; “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (surat Maryam: 21)

“…Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Maryam: 35)

Beberapa ayat lain terkait dengan kelahiran Isa antara lain:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali Imran: 59)

“…dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa’: 21)

Setelah Isa berada di dalam rahim Maryam, ia lalu mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Disana ia melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah batang pohon kurma. Isa kemudian berbicara memerintahkan ibunya dari buaian, untuk mengguncangkan pohon untuk mengambil buah-buah yang berjatuhan, dan juga untuk menghilangkan rasa takut Maryam dari lingkungan sekelilingnya Maryam berzinah, kemudian Maryam menunjuk kepada anaknya yang baru lahir itu, maka Isa pun menjawab:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka..” (Maryam: 30-32)

Referensi dalam hadits lain adalah:

“Ketika setiap manusia lahir. Setan menyentuh seorang bayi di kedua sisi tubuh dengan dua jarinya, kecuali Isa, putera Maryam, Setan mencoba menyentuhnya tetapi gagal, karena dia hanya menyentuh plasentanya saja.”

Menurut al-Tabari, hal ini disebabkan karena doa Maryam: “Aku berlindung kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Misi Sebagai Nabi

Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil, untuk mengajarkan tentang ke-esaan Tuhan dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa telah dinubuatkan dalam Taurat, membenarkan ajaran-ajaran nabi sebelumnya. Isa digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya, seperti berbicara sewaktu masih bayi dalam peraduan, memberikan nyawa/kehidupan pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati dan meminta makanan dari surga atas permintaan murid-muridnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Yahya bin Zakariyya pernah bertemu dengan Isa di sungai Yordan, sewaktu Yahya pergi ke Palestina.

image
Sungai Yordan tempat dimana Isa bin Maryam pernah bertemu dengan Yahya bin Zakariyya. menurut beberapa kisah.

Beberapa ayat dari Al Qur’an yang menegaskan tentang kenabian Isa antara lain:

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka, dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Maryam: 30-35)

“…dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).” (Az Zukhruf: 63-65)

“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al Maa’idah: 75)

“…dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka, dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al Maa’idah: 116-117)

Isa dan Ruhul Qudus

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mukjizat Isa

Qur’an juga menceritakan perihal Isa yang diberikan kekuatan dengan ruh kudus oleh Tuhan:

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat, dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus, dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al Baqarah: 253)

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa’idah: 110)

Isa Tidak Dibunuh Ataupun Disalib

Al-Qur’an menerangkan dalam surat An Nisaa’:157 bahwa Isa tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa.

“…dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (An Nisaa’: 157)

Isa Diangkat Ke Langit

Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa ditangan musuhnya. Al-Qur’an menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Al Qur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini:

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisaa’:158)

Ramalan dan Misi Isa di Akhir Zaman

Turun Kembali Ke Bumi :

Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi. Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:

“Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah.”

“Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “Kemarilah dan imamilah salat kami”. Ia menjawab: ”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam).”

“Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah salat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam salat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab: ”Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami salat kamu.”

Menurut Islam, hal pertama yang dilakukan Isa setelah turun dari langit adalah menuaikan salat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Isa akan menjadi makmum dalam salat yang di imami oleh Imam Mahdi.

Adapun lokasi turunnya Isa dijelaskan oleh Muhammad dalam sebuah hadist berikut:

“Isa ibnu Maryam akan turun di ‘Menara Putih’ (Al Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik.”

Kedatangan Isa akan didahului oleh keadaan dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan & peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.

Membunuh Dajjal

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dajjal

Turunnya Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.

Dikisahkan setelah Isa selesai menunaikan salat, ia berkata:

“Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal.” Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi. Begitu Isa dilihat oleh dajjal, dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air. Kemudian dajjal melarikan diri, akan tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina. Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan.” Lalu Isa menombak dan membunuhnya, maka Isa memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal (dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Isa.

Menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ya’juj dan Ma’juj

Salah satu tugas besar dia setelah membunuh dajjal adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj.

• Dikisahkan, fitnah dan kejahatan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sangat besar dan menyeluruh, tiada seorang manusiapun yang dapat mengatasinya, jumlah mereka pun sangat banyak sehingga kaum Muslimin akan menyalakan api selama 7 tahun untuk berlindung dari penyerangan mereka, para pemanah dan perisai mereka.

• Maka saat mereka telah keluar (dari dinding tembaga yang mengurung mereka sejak zaman raja Zulkarnain) maka Allah berkata kepada Isa ibnu Maryam: ”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba (Ya’juj dan Ma’juj) yang tidak mampu diperangi oleh siapapun, maka hendaklah kamu mengasingkan hamba-hambaKu ke Thur (Thursina)”

• Di Thur terkepunglah Nabiallah ‘Isa beserta para sahabatnya, sehingga harga sebuah kepala sapi lebih mahal dari 100 dinar kamu hari ini.Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para sahabatnya, menginginkan itu, maka mereka tidak menemukan sejengkalpun dari tanah di bumi kecuali ia dipenuhi oleh bau anyir dan busuk mereka. Kemudian Isa dan sahabatnya meminta kelapangan kepada Allah, maka Allah mengutus seekor burung yang akan membawa mereka kemudian menurunkan mereka sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah menurunkan air hujan yang tidak meninggalkan satu rumahpun di kota atau di kampung, maka Ia membasahi bumi sehingga menjadi seperti sumur yang penuh.”
Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist rasulullah sebagai berikut:

• Dinding Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.” (Al Anbiyaa’ 21:96)

• Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebahagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: “Dulu di sini pernah ada air”, dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit”, kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah.

• Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslim berkata: “Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami berani mati) untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?” maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian dia menemui bahwa mereka semua telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berhimpitan), maka laki-laki tersebut menyeru: “Wahai semua kaum Muslim bergembiralah kamu sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri sudah membinasakan musuhmu”, maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.”

Menjadi Pemimpin Yang Adil

Menurut suatu riwayat, Isa setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut:

“Demi yang diriku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Ibnu Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.”

Menunaikan ibadah haji
Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa Isa akan melaksanakan haji.

”Demi Dzat yang diriku berada ditanga-Nya, sesungguhnya Ibnu Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak.”

Isa Akan Wafat

Setelah Isa menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah akan mewafatkan dia. Hanya Allah saja yang tahu kapan dan dimana Isa akan diwafatkan. Setelah wafatnya Isa Al-Masih kemudian dunia akan mengalami kiamat.

Al-Hawâriyyûn (Pengikut)

Dalam berdakwah, Isa didampingi para pengikutnya yang disebut al-Hawâriyyûn, yang jumlahnya 12 orang, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing hawari ini ditugaskan untuk menyampaikan risalah Injil bagi masing-masing suku Bani Israil. Namun nama-nama hawari tersebut tidaklah disebutkan di dalam Al-Quran. Kisah para sahabat Isa ini terdapat dalam surat Al-Mâ’idah: 111-115 dan surat Ãli-‘Imrân: 52. Dalam surat tsb diceritakan bahwa al-Hawâriyyûn meminta Isa untuk menurunkan makanan dari langit. Nama surat Al-Maidah yang berarti makanan diambil karena mengandung kisah ini. Kejadian turunnya makanan dari langit ini makin menambah ketebalan iman para pengikut Isa

Kepercayaan dasar Islam tentang Isa

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pandangan Islam tentang Yesus

Isa disebutkan dengan banyak nama di dalam Al-Quran. Sebutan yang paling umum adalah “Isa bin Maryam” (Isa putra Maryam), kadang-kadang diawali dengan julukan lain. Isa juga diakui sebagai seorang nabi dan utusan (rasul) Allah. Istilah wadjih (“patut dihargai dalam dunia ini dan selanjutnya”), mubārak (“diberkati” atau “sumber manfaat bagi orang lain”), `abd-Allah (hamba Allah) adalah semua yang digunakan dalam Al-Qur’an dalam memberikan nama/julukan kepada Isa.

Nama lain yang sering disebutkan adalah Al-Masih, yang diterjemahkan ke “Mesias”. Islam menganggap semua nabi, termasuk Isa, sebagai manusia biasa dan tanpa berbagi dalam Ketuhanan, sehingga tidak sama dengan konsep Kristen tentang Mesias. Muslim menjelaskan penggunaan kata Masih dalam Al Qur’an sebagai merujuk kepada Isa, yaitu status sebagai seorang yang diurapi dan merupakan bentuk pujian, dengan mukjizatnya antara lain ialah dapat menyembuhkan orang sakit dan menyembuhkan mata orang buta. Ayat Qur’an juga menggunakan istilah kalimatullah (yang berarti “firman Tuhan”) sebagai penjelasan tentang Isa, yang mengakui dirinya sebagai utusan Allah, dan berbicara atas nama Allah.

Teologi (Ketuhanan)

Ajaran Islam menganggap Isa hanya sebagai utusan Allah saja. Kepercayaan yang menganggap Isa sebagai Allah atau Anak Allah, menurut Islam adalah perbuatan syirik (mengasosiasikan makhluk sama dengan Allah), dan dengan demikian dianggap sebagai suatu penolakan atas konsep Keesaan Tuhan (tauhid).

Islam melihat Isa sebagai manusia biasa yang mengajarkan bahwa keselamatan datang dengan melalui kepatuhan manusia kepada kehendak Tuhan dan hanya dengan cara menyembah Allah saja. Dengan demikian, Isa dalam ajaran Islam dianggap sebagai seorang muslim, begitu pula dengan semua nabi Islam. Islam dengan demikian menolak konsep trinitas dalam Ketuhanan Kristen, seperti juga konsep tentang Ketuhanan Yesus.

Pendahulu Muhammad

Muslim meyakini bahwa Isa adalah sebagai seorang nabi pendahulu Muhammad, dan menyatakan bahwa setelah ia akan muncul seorang nabi terakhir, sebagai penutup dari para nabi utusan Tuhan. Hal ini berdasarkan dari ayat Al-Qur’an, di mana Isa menyatakan tentang seorang rasul yang akan muncul setelah dia, yang bernama Ahmad. Islam mengasosiasikan Ahmad sebagai Muhammad. Muslim juga berpendapat bahwa bukti Isa telah memberitahukan tentang akan hadirnya seorang nabi terakhir ada di dalam kitabnya.

Suatu argumentasi dari pakar muslim menyatakan bahwa kata bahasa Yunani parakletos, yang berarti “penghibur” yang diramalkan akan datang dalam Injil Yohanes, sesungguhnya adalah kata periklutos, yang berarti “termasyhur, agung, terpuji”. Kata terakhir ini dalam bahasa Arab dianggap sebagai Ahmad, atau Muhammad, diperkuat dengan sebuah dalil Al-Qur’an, yang berbunyi:

“…dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (A-Shaf 61:6).


[Sumber]

PENJELASAN HAKIKAT JAHILIYAH, KEFASIKAN, KESESATAN KELUAR DARI KEISLAMAN (RIDDAH), MACAM-MACAM DAN HUKUMNYA


image

A. Jahiliyah

Jahiliyah adalah keadaan yang ada pada bangsa Arab sebelum Islam, yakni kebodohan tentang Allah, para Rasul-Nya dan syariat agama. Ia berasal dari kata al- jahl (kebodohan) yaitu ketiadaan ilmu. Jahiliyah terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Jahiliyah ‘Ammah (Jahiliyah Umum).

Yaitu yang terjadi sebelum diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan ia telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam.

Kedua: Jahiliyah Khashshah (Jahiliyah Khusus).

Yakni yang terjadi pada sebagian negara, sebagian daerah dan sebagian orang. Jahiliyah jenis ini masih ada hingga sekarang. Karena itu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِيْ أُمَّتِيْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ.

“Ada empat (perkara) dalam umatku yang termasuk perkara jahiliyah.”
(HR .Muslim).

Dan beliau shallallaahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiyallaahu ‘anhu:

إِنَّكَ امْرُءٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ.

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang masih memiliki (sifat) jahiliyah”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, nyatalah kesalahan orang yang mengenelarisir jahiliyah pada zaman sekarang hingga mengatakan, jahiliyah pada abad ini atau yang semisalnya. Yang benar adalah hendaknya dikatakan, jahiliyah sebagian orang yang hidup di abad ini, atau mayoritas yang hidup di abad ini. Adapun mengeneralisir jahiliyah, maka hal itu tidak benar dan tidak diperbolehkan, sebab dengan diutusnya Nabi shallallaahu alaihi wasallam berarti jahiliyah secara umum itu telah hilang.

B. Kefasikan

Secara bahasa kefasikan اْلفِسْقُ(al-fisq) adalah al-khuruj (keluar). Sedangkan yang dimaksud kefasikan menurut syara’ adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Kefasikan ada dua macam :

Pertama: Kefasikan yang membuatnya keluar dari agama, yakni kufur. Karena itu orang kafir juga disebut orang fasik, maka ketika menyebut Iblis, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
“Maka ia berbuat fasik (mendurhakai) perintah Rabbnya.”
(Al-Kahfi: 50)

Kefasikan Iblis di atas adalah kekufurannya, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
“Dan adapun orang-orang fasik maka tempat mereka adalah neraka.”
(As-Sajdah: 20)

Yang dimaksud orang-orang fasik di atas adalah orang-orang kafir, hal itu sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu waTa’ala sesudahnya:

Artinya:
“Setiap kali mereka hendak keluar dari padanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya’.”
(As-Sajdah: 20)

Kedua: kefasikan yang tidak membuat seseorang keluar dari agama, sehingga orang-orang fasik dari kaum muslimin disebut al-‘ashi (pelaku maksiat), dan kefasikan itu tidak mengeluarkannya dari Islam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
“Dan orang- orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(An-Nur: 4)

Artinya:
“Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengucapkan ucapan-ucapan kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”
(Al-Baqarah: 197)

Dalam menafsirkan kata-kata fasik dalam ayat di atas, para ulama mengatakan, ia adalah perbuatan maksiat.(1)

C. Kesesatan

Kesesatan (الضَّلاَلُ) adalah berpaling dari jalan yang lurus. Ia adalah lawan dari petunjuk (الْهِدَايَةُ), Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
”Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya ia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya ia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri.“
(Al-Isra’: 15)

Kesesatan dinisbatkan kepada beberapa makna:

1. Terkadang diartikan kekufuran (الْكُفْرُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala:

Artinya:
”Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.“
(An-Nisa’: 136)

2. Terkadang diartikan kemusyrikan (الشِّرْكُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala:

Artinya:
“Barangsiapa menyekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(An-Nisa’: 116)

3. Terkadang diartikan menyalahi (kebenaran), tetapi di bawah kekufuran, sebagaimana dikatakan, الْفِرَقُ الضَّالَّةُ (kelompok-kelompok yang sesat), artinya yang menyalahi (kebenaran).

4. Terkadang diartikan kesalahan (الْخَطَأ), sebagaimana ucapan Musa alaihissalam:

Artinya:
“Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf (salah).”
(As-Syu’ara: 20)

5. Terkadang diartikan lupa(النِّسْيَانُ) , Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
“Supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya”
(Al-Baqarah: 282)

6. Terkadang diartikan hilang dan tidak ada (الضَّيَاعُ وَالْغَيْبَةُ), seperti dikatakan,ضَالَّةُ اْلإِبِلِ (unta yang hilang).

D. Riddah, Macam-macam dan Hukumnya

Secara bahasa riddah (الرِّدَّة) artinya kembali (الرُّجُوْعُ). Dan menurut istilah yara, riddah berarti kufur setelah Islam, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

Artinya:
“Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”
(Al-Baqarah: 217)

Riddah ada empat macam:

1. Riddah dengan ucapan. Seperti mencaci Allah Subhanahu waTa’ala atau Rasul-Nya shallallaahu alaihi wasallam atau malaikat-malaikat-Nya atau salah seorang dari rasul-Nya. Atau mengaku mengetahui ilmu ghaib atau membenarkan orang yang mengaku nabi. Atau berdo’a kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala atau memohon pertolongan kepadanya, sesuatu yang tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala atau berlindung kepadanya dalam hal yang juga tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala.

2. Riddah dengan perbuatan. Seperti sujud kepada patung, pohon, batu, kuburan, dan memberikan sembelihan untuknya. Termasuk juga membuang mushaf al-Qur’an di tempat-tempat yang kotor, melakukan sihir, mempelajari dan mengajarkannya serta memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan meyakini kebolehannya.

3. Riddah dengan kepercayaan (i’tiqad). Seperti kepercayaan adanya sekutu bagi Allah Subhanahu waTa’ala atau kepercayaan bahwa zina, khamar dan riba adalah halal. Atau percaya bahwa roti adalah haram, shalat adalah tidak wajib atau hal semisalnya yang telah disepakati kehalalan, keharaman atau kewajibannya secara ijma’ (konsensus) yang pasti, yang tak seorang pun tidak mengetahuinya.

4. Riddah dengan keraguan tentang sesuatu sebagaimana yang disebutkan di atas. Seperti ragu tentang diharamkannya syirik atau diharamkannya zina atau khamr. Atau ragu tentang halalnya roti atau ragu terhadap risalah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam atau risalah nabi-nabi selainnya, atau ragu tentang kebenarannya, ragu tentang agama Islam atau ragu tentang kesesuaian dengan zaman sekarang.

Konsekuensi Hukum Setelah Terjadinya Riddah

1. Yang bersangkutan diminta untuk bertaubat. Jika bertaubat dan kembali kepada Islam dalam masa tiga hari, maka taubatnya diterima kemudian ia dibiarkan (tidak dibunuh).

2. Jika ia tidak mau bertaubat, maka ia wajib dibunuh, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ.

“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia.”
(HR. Bukhari dan Abu Daud).

3. Dilarang membelanjakan hartanya di saat ia dalam masa diminta untuk bertaubat, jika ia masuk Islam kembali, maka harta itu miliknya, jika tidak maka harta itu menjadi rampasan (fai’) Baitul Mal sejak ia dibunuh atau mati karena riddah. Pendapat lain mengatakan; ‘begitu ia jelas-jelas murtad, maka hartanya dibelanjakan untuk kemaslahatan umat Islam’.

4. Terputusnya hak waris mewarisi antara dirinya dengan keluarga dekatnya, ia tidak mewarisi harta mereka dan mereka tidak mewarisi hartanya.

5. Jika ia mati atau dibunuh dalam keadaan Riddah, maka ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dikubur di kuburan umat Islam. Sebaiknya ia dikubur dikuburan orang-orang kafir atau dipendam dalam tanah, di mana saja, selain di kuburan umat Islam.

© [Al Qur’an – Sunnah]

Semoga Bermanfa’at Untuk Kita Semua.

7 Ayat Yang Akan Memotivasi Anda Saat Menghadapi Tantangan Berat


image

Saat Menghadapi Tantangan Berat

Pernahkah Anda merasakan kebingungan, khawatir, ketakutan, dan putus asa saat menghadapi sebuah tantangan yang berat, baik itu masalah atau memiliki target yang sangat tinggi ?

Semua orang mungkin pernah mengalami ini. Justru jika Anda belum pernah menghadapinya, ada masalah pada diri Anda. Gerak Anda kurang, usaha Anda kurang, daya juang Anda kurang. Semua orang yang memiliki cita-cita atau impian yang tinggi, mungkin pernah mengalami hal ini.

Atau seseorang yang berani mengambil resiko, kemudian kegagalan menerpa, bisa jadi pernah menghadapi kondisi seperti ini.

» Kabar gembira bagi Anda.

Kabar gembira bagi Anda yang pernah menghadapi tantangan berat, sebab ada pertumbuhan disana. Anda akan lebih baik setelah melaluinya. Sementara, yang tidak pernah mengalaminya tidak akan mendapatkan kemajuan.

Kuncinya adalah, tidak menyerah meski menghadapi tantangan sebesar apa pun. Jika menyerah, tidak akan ada pelajaran yang Anda dapatkan.

Nah, pada artikel ini, saya akan berbagi ada 7 ayat diantara sekian banyak ayat yang memotivasi dari Al Quran yang menjadi favorite saya, sebab selama ini sangat memotivasi saya. Saya yakin, akan memotivasi Anda juga agar tetap berjuang, tetap bertahan, dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan yang berat.

Ayat 1: Anda Bisa Berubah, Jika Anda Mau Mengubah Diri Anda

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”
(Q.S. Ar-Ra’d:11)

Apa pun kondisi Anda saat ini, jika Anda mau berubah, maka Anda harus mengubah diri sendiri. Maka Allah akan mengubah Anda. Inilah yang sering dilupakan, banyak yang berharap orang lain atau yang diluar berubah, tetapi melupakan diri sendiri yang diubah.

Ayat ini memotivasi kita untuk mengubah diri kita, maka yang lain akan berubah atas bantuan Allah. Jangan hanya menuntut yang diluar diri berubah.

Anda jauh lebih mudah mengubah diri sendiri, daripada mengubah orang lain. Ayat ini adalah motivasi untuk berubah.

Sungguh aneh, banyak yang ingin berubah tetapi tidak mau mengubah dirinya sendiri.

Ayat 2: Kebaikan Dibalik Yang Tidak Kita Sukai

“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui“
(Q.S. Al-Baqarah:216)

Sering kali, saat seseorang mendapati sesuatu yang tidak dia sukai, maka dia marah, kecewa, sedih, ngomel, dan akhirnya putus asa. Padahal, bisa jadi apa yang tidak dia sukai itu malah baik baginya.

Jangan kecewa saat Anda tidak diterima di sebuah perusahaan untuk menjadi karyawannya. Bisa jadi itu yang terbaik bagi Anda. Bisa jadi Anda akan mendapatkan perkerjaan lebih baik. Bisa jadi, justru akan mendapatkan hal buruk jika diterima diperusahaan itu.

Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi. Untuk itu, syukuri apa pun yang terjadi saat ini termasuk penolakan dan kekecewaan lainnya.

Jangan putus asa, berbaik sangkalah kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Ayat 3: Anda Pasti Sanggup

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Q.S. Al-Baqarah: 286)

Jika Anda mengatakan, “saya tidak akan sanggup”, sebenarnya Anda sudah mendahului Allah. Anda sok tahu, bahwa Anda tidak akan mampu. Kata siapa? Itu hanya pemikiran negatif Anda. Bisa karena malas, manja, atau cengeng.

Padahal jelas, dalam ayat diatas bahwa kita tidak akan dibebani beban apa pun kecuali sesuai dengan kesanggupan kita. Jika Anda berpikir tidak sanggup, itu hanya anggapan Anda saja.

Anda pasti sanggup jika Anda menyanggupinya. Jangan kalah oleh pikiran negatif Anda yang dengan mudah mengatakan tidak sanggup.

Ayat 4 dan 5: Kesulitan Bersama Kemudahan

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

Kebanyakan orang, saat menghadapi kesulitan, dia berhenti alias menyerah. Ada juga yang mengeluh, berharap orang lain mau membantunya mengatasi kesulitan dia. Padahal, bersama kesulitan itu adalah kemudahan.

Jika Anda menghindari kesulitan, Anda tidak akan mendapatkan kemudahan. Jika Anda berharap orang lain yang mengatasi kesulitan, maka kemudahan akan menjadi milik orang lain. Anda tidak akan mendapatkan kemudahan dari kematangan, keterampilan, dan pengalaman yang didapatkan.

Perhatikan ayat ke 6, ada kata “sesungguhnya”, artinya sebuah penguatan atau penegasan akan kalimat sebelumnya.

Ayat 6 dan 7: Takwa dan Tawakal

“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya”
(Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Dua  akhlaq ini luar biasa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sedang menghadapi masalah atau tantangan besar? Butuh jalan keluar? Maka bertakwalah, Allah akan memberikan jalan keluar juga rezeki yang tidak ia sangka.

Jika kekuatan tawakal, Anda akan dicukupkan, termasuk dicukupkan segalanya untuk menghadapi rintangan, halangan, tantangan, dan juga masalah.

 :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Mudah-mudahan dengan rajin membaca dan merenungi ketujuh ayat diatas akan menjadikan kita semua menjadi pribadi yang pantang menyerah. Hafalkan ayat-ayat diatas dan bacalah sambil merenungi maknanya saat Anda sedang menghadapi tantangan atau masalah. Insya Allah Anda akan mendapatkan motivasi luar biasa

© [Motivasi Islami]

Kabar Tentang Kiamat di Dalam Al-Qur’an


image

Hari kiamat, disebut dalam Al Qur’an dengan banyak nama, hari kiamat juga disebut sebagai Yaumul fashl yang berarti hari pemisah antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir.

Pada hari itu pula, manusia akan dikelompokkan berdasarkan keyakinannya masing-masing. Selain itu, hari kiamat juga disebut dengan Yaumul jam’i, adalah hari berkumpulnya seluruh manusia sejak zaman Nabi Adam sampai dengan manusia akhir zaman untuk di tanyakan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Oleh karena itu, kiamat juga disebut sebagai Yaumul hisab, yaitu hari perhitungan amal, dan juga Yaumul mizan atau hari penimbangan, yaitu hari diadakannya timbangan amal perbuatan yang telah di lakukan manusia selama hidup di dunia. Tidak ada suatu amalpun yang terlewatkan. Semua akan di berikan balasan yang setimpal. Karena itu pula, hari kiamat disebut dengan Yaumul jaza atau hari pembalasan.

Allah SWT sudah menjelaskan tentang bagaimana kejadian pada hari kiamat itu dalam Al Qur’an :

“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan”
[QS. Al-Waqi’ah ayat 1-6]

Tidak satupun yang dapat selamat dari bencana maha dahsyat ini. Semuanya akan musnah, baik yang dilangit maupun di bumi. Semoga kita menjadi orang-orang yang berada dalam lindungan-Nya pada hari kiamat nanti.

Lalu bagaimana alam semesta ini akan hancur? Berbagai teori ilmu pengetahuan memperkuat keterangan dari kitab suci Al Qur’an. Suatu saat, bintang-bintang akan kehabisan bahan bakarnya akibat gravitasinya sendiri dan menyusut menjadi sebuah titik kecil dengan ratapan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga seperti pada teori penciptaan alam semesta ini.

Alam semesta ini tercipta dari simularitas yang kemudian meledak dan mengembang terus hingga radius maksimum. Inilah peristiwa yang disebut dengan Big Bang, dan hingga saat ini alam semesta terus mengembang.

Dan kehancuran total, bermula karena mengerutnya alam semesta hingga galaksi makin berdekatan kemudian saling membentur dan alam semesta makin mengecil ukurannya sehingga menjadi satu kesatuan seperti pada awal penciptaan, dan inilah yang disebut dengan Big Crunch.

Karena itulah, Allah mengilustrasikan kehancuran alam semesta ini seperti melipat lembaran buku. Dalam surat Al-Anbiya Allah berfirman:

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”
[QS. Al-Anbiya ayat 104]

Allah SWT juga menjelaskan tentang kondisi kiamat yang ditandai dengan hancurnya matahari dan bintang. Allah berfirman:

“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan,”
[QS. At-Takwir ayat 1-2]

Meski keberadaan benda-benda langit hingga saat ini belum membahayakan kehidupan manusia, namun menjelang kiamat akan terjadi hujan batu seperti yang dijelaskan oleh Al Qur’an.

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.”
[QS. Al-Mulk ayat 16-18]

Betapa dahsyatnya peringatan Allah tentang kiamat, jangan sampai kita mendustakan apa yang telah Allah firmankan dalam Al Qur’an. Semoga kita termasuk golongan yang diberi pertolongan-Nya di hari kiamat kelak.

© [makintau.com]

Keutamaan Dzikir dan Kalimat Tauhid


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mondar-mandir di jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka mendapat kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka memanggil-manggil : Marilah kepada keperluanmu.

Beliau bersabda : Malaikat itu mengitari dengan sayap mereka ke langit dunia. Beliau bersabda : Tuhan mereka berfirman pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka : Apakah yang diucapkan oleh para hambaKu?. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : Mereka sedang meMaha SucikanMu, meMaha BesarkanMu, memujiMu dan meMaha MuliakanMu. Tuhan berfirman : Apakah mereka melihatKu?. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : Bagaimana seandainya mereka melihatKu?. Beliau bersabda : Mereka menjawab: Seandainya mereka melihatMu, niscaya mereka lebih beribadah kepadaMu, lebih memuliakan, lebih memuji dan lebih mensucikanMu. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : Apakah yang mereka pinta kepadaKu?. Beliau bersabda : Mereka meminta surga kepadaMu. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Apakah mereka melihatnya? Beliau bersabda : Malaikat menjawab : Tidak, demi Allah mereka tidak melihatnya. Tuhan berfirman : Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih loba terhadapnya, lebih meminta dan lebih gemar terhadapnya. Tuhan berfirman : Terhadap apa mereka berlindung ?. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : Dari neraka. Beliau bersabda : Tuhan berfirman: Apakah mereka melihatnya ?. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih sangat lari dan sangat takut. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : Aku persaksikan kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka. Beliau bersabda : Salah satu malaikat berkata: Diantara mereka ada Fulan yang bukan dari golongan mereka. Kedatanganya hanya karena ada keperluan. Tuhan berfirman : Mereka teman-teman duduk, dimana orang yang duduk bersama mereka tidak celaka.”
(HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dan Abu Said Al Khudri ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berkelana di bumi sebagai tambahan dari para pencatat manusia. Apabila mereka menjumpai kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka memanggil-manggil : Marilah kepada tujuanmu.

Malaikat berdatangan, dan mengitari mereka kelangit dunia. Allah berfirman : Kalian tinggalkan hamba-hambaKu sedang mengerjakan apa ?. Mereka menjawab : Kami tinggalkan mereka sedang memujiMu, memuliakanMu dan berdzikir kepadaMu. Beliau menjawab : Dia berfirman Apakah mereka melihat Aku ?. Mereka menjawab : Tidak. Dia berfirman : Bagaimanakah seandainya mereka melihat Aku ?. Beliau bersabda : Mereka menjawab : Seandainya mereka melihatMu niscaya mereka lebih memujiMu, lebih memuliakanMu dan lebih berdzikir kepadaMu.

Beliau bersabda : Dia berfirman : Apakah yang mereka inginkan ? Beliau bersabda : Mereka berkata : Mereka memohon surga. Beliau bersabda: Dia berfirman : Apakah mereka melihatnya ?. Beliau bersabda : Dia berfirman : Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?.

Beliau bersabda : Mereka menjawab : Seandainya mereka melihatnya niscaya mereka lebih meminta dan loba atasnya. Beliau bersabda : Dari apakah mereka berlindung ? Mereka menjawab : Seandainya mereka melihatnya niscaya mereka lebih lari, lebih takut dan lebih mohon perlindungan dari padanya. Beliau bersabda : Dia berfirman : Sungguh Aku mempersaksikan kepadamu bahwa Aku mengampuni mereka. Mereka menjawab : Sesungguhnya di kalangan mereka terhadap Fulan yang salah yang datang hanya karena keperluan. Dia berfirman : Mereka adalah kaum yang teman duduknya tidak celaka.”
(HR. Tirmidzi)

Dari Abu Ishaq dari Al Agharr Abu Muslim bahwasanya ia menyaksikan Abu Hurairah dan Abu Said Al Khudri ra., bahwasanya kedua orang itu menyaksikan Rasulullah bersabda : Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAHU AKBAR
(Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar).

Beliau bersabda : Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : Benarlah hambaKu, tidak ada Tuhan selain Aku, dan Akulah Allah Maha Besar.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAH
(Tiada Tuhan selain Allah sendiri).

Dia berfirman : Benarlah hambaKu, tiada Tuhan selain Aku sendiri.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYA­RIIKA LAH
(Tiada Tuhan selain Allah, sendirian tiada sekutu bagiNya).

Dia berfirman : Benarlah hambaKu, tiada Tuhan selain Aku, dan tidak ada sekutu bagiKu.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAHLAHUL MULKU WALA­HUL HAMDU
(Tiada Tuhan selain Allah, bagiNya kerajaan itu, dan bagiNya segala puji).

Dia berfirman : Benarlah hambaKu, tiada Tuhan selain Aku, bagiKu kerajaan itu dan bagiKu segala puji.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
(Tiada Tuhan selain Allah, dan tiada daya dan kekuatan melainkan pertolongan Allah)

Dia berfirman : Tiada Tuhan selain Aku, dan tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolonganKu.

Abu Ishaq berkata : Kemudian Al Agharr mengatakan sesuatu yang tidak saya pahami. Ia Berkata : Lalu saya bertanya kepada Abu Ja’far : Apakah yang ia ucapkan ?. Ia berkata : Barang siapa yang pada waktu menjelang mati mengucapkan kalimat-kalimat itu maka ia tidak tersentuh neraka.”
(Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah)

Dari Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw bercerita kepada mereka bahwa salah seorang hamba Allah mengucapkan :

YAA RABBI LAKAL HAMD U YANBAGHII LIJALAA­LI WAJHIKA WALI ‘AZHIIMI SULTHAANIKlA
(Wahai Tuhanku, hanya bagimulah segala puji, sebagaimana seyogya dengan kebesaran DzatMu dan keagungan kekuasaanMu), maka bersungguh-sungguhlah dua malaikat namun mereka tidak tahu bagaimana mencatatnya. Lalu keduanya naik ke langit dan berkata : Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu mengucapkan dzikir, kami tidak mengetahui bagaimana mencatatnya. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hal Dia lebih mengetahui terhadap apa yang dikatakan oleh hambaNya : Apakah yang diucapkan hambaKu ?. Keduanya menjawab : Bahwasanya ia mengucapkan : Wahai Tuhanku, hanya bagiMu segala puji sebagaimana seyogya dengan kebesaran DzatMu dan keagungan kekuasaanMu. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : Tulislah seperti apa yang diucapkan oleh hambaKu, sehingga ia menjumpai Aku, lalu Aku membalasnya dengan apa yang diucapkan itu.”
(Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i)

Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw memperbanyak ucapan:

SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGH­FIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH
(Maha Suci Allah, dengan pujiNya saya memohon ampun kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya).

Saya bertanya : Wahai Rasulullah, saya melihat engkau memperbanyak ucapan : Maha Suci Allah dengan pujiNya saya memohon ampun kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya. Beliau bersabda: Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberitakan kepadaku bahwa aku akan melihat tanda pada umatku. Apabila aku telah melihatnya maka aku memperbanyak ucapan :

SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGH­FIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH

Saya telah melihatnya :

IDZAA JAA-A NASHRULLAAHI WALFATHU WARA-AITANNAASA YADKHULUUNA FII DIINI­LLAAHI AFWAAJAN FASABBIHBIHAMDI RABBIKA WASTAGHFIRHU INNAHU KAANA TAWWAABA
(Apabila datang pertolongan Allah dan penaklukan (Kota Mekah). Dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunlah kepadaNya karena sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat).
Dalam riwayat Muslim dari Aisyah ada tambahan :

‘ALLAAHUMMAGHFIR LII YATA-AWWALUL QUR­AANA
(Wahai Allah ampunilah saya, karena mengamalkan perintah Al Qur’an).
(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah akan membersihkan salah seorang umatku atas para kepala makhluk pada hari qiyamat. Lalu Allah menebarkan sembilan puluh sembilan catatannya. Setiap’ catatan seperti pandangan mata. Kemudian Dia berfirman : Apakah kamu mengingkari hal ini barang sedikit ?. Apakah tukang catatKu Malaikat Hafazhah menganiaya kamu ?. Ia menjawab : Tidak wahai Tuhan. Dia berfirman : Apakah kamu punya alasan ? Ia menjawab : Tidak. Dia berfirman : Baiklah, kamu mempunyai kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini tidak ada penganiayaan atasmu. Maka dikeluarkan secarik kertas yang didalamnya terdapat :

‘ASYHADUALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHA­DUANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WARA­SUUL UH
(Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya).

Dia berfirman : Datangkan timbanganmu. Ia menjawab : Wahai Tuhanku, apakah (artinya) secarik kertas ini dibandingkan dengan catatan-catatan ini ?. Dia berfirman : Sungguh kamu tidak dizhalimi. Beliau bersabda : Catatan-catatan itu diletakkan pada sebuah piringan neraca dan secarik kertas itu di dalam piringan neraca. Secarik kertas itu berat, karena tidak ada sesuatu yang mempunyai timbangan berat dibandingkan dengan sesuatu yang bersama nama Allah.”
(Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Rasulullah saw. . . bersabda : Dua malaikat Hafazhah menghadapkan kepada Allah akan apa yang ia jaga baik siang maupun malam, di mana Allah mendapatkan baik pada awal dan akhir halaman itu, kecuali Allah berfirman : Sesungguh Aku meinpersaksikan kepadamu bahwa Aku mengampuni hambaKu yang tercatat di antara dua ujung halaman (catatan) ini.”
(Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Anas ra dari Nabi saw., beliau bersabda : Allah berfirman : Keluarkanlah dari neraka orang yang ingat kepadaKu pada suatu hari atau takut kepadaKu pada suatu tempat.”
(Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : Sesungguhnya Allah berfirman : Wahai anak Adam (manusia) luangkanlah waktu untuk ibadah kepadaKu maka Aku isi dadamu dengan kekayaan, dan Aku tutup kekafiranmu. Jika tidak demikian maka Aku isikan kesibukan di mukamu dan Aku tidak menutup kefakiranmu.”
(Hadits ditakhrij oleh At Tirmidzi)

Dari Uqbah bin Amir ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Tuhanmu kagum. terhadap penggembala kambing di ujung bukit yang di kala didengungkan adzan ia mendirikan Shalat. Lalu Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : Lihatlah hambaKu ini, didengungkan adzan kemudian ia shalat karena takut terhadapKu, Aku telah mengampuni hambaKu dan memasukkannya ke Sorga.”
(Hadits di takhrij oleh An Nasa’i).

Dari Iyadh bin Khammar saudara Bani mujasyi’, ia berkata : Rasulullah saw. pada suatu hari berdiri di tempat kami dengan berkhuthbah, lalu beliau bersabda : Sesungguhnya Tuhanku menyuruh aku dan meneruskan hadits itu seperti hadits Hisyam dari Qatadah dan ia menambahnya :

WA ANNALLAAHA AUHA ILAYYA AN TAWAADLA ‘UU HATTAA LAA YAFKHARA AHADUN ‘ALAA AHADIN WALAA YABGHII AHADUN ‘LAA AHADIN
(Sesungguhnya Allah memberi wahyu kepadaku agar kamu merendahkan diri, sehingga seseorang tidak berbangga terhadap orang lain, dan seseorang tidak menganiaya terhadap orang lain).

Dan menurut haditsnya beliau saw bersabda :

WAHUM FIIKUM TABA’AN LAA YABGHUUNA AHLAN WALAA MAALAN
(Mereka sebagai pengikutmu, dengan tidak mencari keluarga dan harta).

Lalu aku bertanya : Keadaannya demikian itu wahai Abu Abdillah? Ia menjawab : Ya, demi Allah aku telah menjumpai mereka pada masa Jahiliyah, dan seseorang laki­-laki menggembala di kampung, yang ada hanya ibunya dimana ia mensetubuhinya.”
(HR. Muslim)

Hadits Qudsi

Wallahu A’lam.

Mudah-mudahan Allah memberi manfa’at kepada kita sekalian. Amin ya Robbal al amin

image

Selamat menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya & sebenar-benarnya.

Sifat-sifat Manusia Yang Disebutkan Didalam Al-Qur’an


↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓-↓

Manusia diciptakan Allah adalah sebaik-baiknya bentuk dan kepadanya telah dihiasi aneka kebaikan di dalam dirinya. Perkara tampilnya manusia sebaliknya adalah karena kelemahan diri dan aneka godaan dari luar yang tidak dapat dihadapinya sehingga dirinya cenderung atau memperturutkan hawa nafsunya. 

Dikala manusia melakukan kesalahan diri dan orang yang melihatnya akan sepakat.. ”ya namanya manusia” atau ”ya memang begitulah, manusia sudah kodratnya sebagai tempatnya salah khilaf dan dosa” …Lebih parah lagi ada orang yang beranggapan bahwa sifat buruk dan kasar seseorang adalah mengacu pada kodrat manusia sebagai makhluk kasar bukan makhluk halus. Bila hal ini demikian, terlihat persoalan dan segala sesuatunya selesai sampai disitu. 

& ini beberapa sifat manusia yang disebutkan didalam Al Quran, banyak sekali sebenarnya sifat-sifat itu, diantaranya sebagai berikut :

1• Lemah.
Firman Allah : ”Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”
(An Nisa : 28)

2• Lalai.
Firman Allah : ”Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.”
(Al Araf : 146)

3• Bodoh.
Firman Allah : ”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”
(Al Ahzab : 72)

4• Zalim.
Firman Allah : ”Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(Ibrahim : 34)

5• Pelupa.
Firman Allah : ”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; …. ”
(Al Isra : 83).

6• Ingkar.
Firman Allah : ”sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya”
(Al Adiyat : 6).

7• Kikir.
Firman Allah : ”Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir.”
(Al Isra : 100)

8• Serakah.
Firman Allah :  ”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik.”
(Al Baqarah : 96)

9• Pamer.
Firman Allah: ”bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”
(Al Takatsur : 1)

10• Berdalih.
Firman Allah: ”Janganlah kamu berdalih (dengan alasan-alasan yang dusta)”
(At Taubah : 66)

11• Takut.
Firman Allah :  ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(Al Baqarah : 155)

12• Tidak percaya diri & ragu-ragu.
Firman Allah: ”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(Al Baqarah : 147)

13• Mudah terpedaya.
Firman Allah : ”Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”
(Al Infithar : 6)

14• Khawatir dan bersedih.
Firman Allah : ”Siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Al Baqarah : 62)

15• Suka tergesa-gesa.
Firman Allah : ”Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”
(Al Isra : 11)

16• Suka bermain-main & bersenda-gurau.
Firman Allah : ”(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”.
(Al Araf : 51)

17• Berputus asa.
Firman Allah : ”Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”
(Al Fushilat : 49)

18• Kufur nikmat.
Firman Allah : ”Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”
(Az Zukhruf : 15)

19• Menuruti prasangka.
Firman Allah : ”Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
(Yunus : 36).

20• Selalu berangan-angan.
Firman Allah : ”…..dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.”
(Al Hadid : 14)

21• Berlaku tidak adil / curang.
Firman Allah : ”Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”
(Hud : 85)

22• Tidak pernah merasa puas.
Firman Allah : ”Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum ”
(Al Waqiah : 55)

23• Suka berdebat.
Firman Allah : ”Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).”
(Al Baqarah : 176)

24• Suka membuat kerusakan.
Firman Allah : ”Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Ali Imran : 64)

25• Suka meremehkan.
Firman Allah : ”Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?”
(Al Waqiah : 81)

26• Hitung-hitung rezeki.
Firman Allah : ”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(An Nahl : 18)

27• Mencampur aduk yang hak dan batil.
Firman Allah : ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”
(Ali Imran : 71)

28• Suka mengejek & mengolok-olok.
Firman Allah : Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
(At Taubah : 65)

29• Suka mengambil hak orang lain.
Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.”
(At Taubah : 34)

30• Berlebih-lebihan hingga melampaui batas.
Firman Allah : ”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,”
(Al Alaq : 6)

Banyak sekali sifat-sifat manusia itu dan bila dicari lagi bahkan bisa lebih dari 30, namun yang terpenting adalah bagaimana diri dapat mendeteksi dan menjadikannya sebagai  cerminan, karena mungkin saja sifat-sifat diatas ada didalam diri. Mendapat ilmu dan pengetahuan dari Allah mengenai sifat-sifat diatas, khususnya yang ada didalam diri,  sudah merupakan karunia besar, karena  dapat dijadikan modalitas untuk memperbaiki diri menuju kearah yang lebih baik. Insya Allah

Wallahu a’lam.

::Perkara Hati::

Dan Inilah 23 Karakter Orang Munafik

image

Selamat menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya & sebenar-benarnya.