Kajian: Bersikap Adil dalam Islam


image
• MENGKAJI •

Secara fitrah, setiap orang menginginkan keadilan meski terkadang kecenderungan manusiawi ini tidak selalu menjelma dalam tindakan. Baik tindakan abstrak seperti berpikir maupun yang lahir. Alih-alih berperilaku manusiawi, seseorang kerap terlihat tak kurang atau tak jarang seperti binatang buas.

Fenomena ini bisa ditonton –apalagi dalam lingkaran (perebutan) kekuasaan– lintas komunitas agama dan aliran. Bahkan dalam umat Islam sendri yang setiap Jum’at senantiasa diingatkan dari atas mimbar dengan ayat Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berbuat adil dan ihsan (kebajikan).”

Jika kita mulai dari ayat ini, sesungguhnya banyak hal yang bisa dikaji. Pertama, meski keadilan bersifat fitrah dan universal, Islam memiliki tawaran khas soal konsep keadilan yang tentunya ‘practicabel’. Mengapa? Karena apa yang ada dalam Al-Qur’an telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Kedua, bagaimana hubungan adil dan ihsan? Apakah keduanya sama saja sehingga tidak perlu dikaji? Tentunya Al-Qur’an –seperti ayat di atas– tidak menghadirkan satu huruf dan kata pun tanpa makna dan tujuan.

Secara umum, keadilan biasanya dikatakan sebagai jalan tengah atau garis tengah antara ‘ifrath’ dan ‘tafrith’. Antara sikap ‘kurang’ dan sikap ‘berlebihan’. Di tengah-tengah itulah yang disebut dengan keadilan. Katakan misalnya, boros berarti mengeluarkan apa yang dimiliki secara berlebihan tanpa dasar. Dan pelit berarti menahan apa yang dimiliki juga secara berlebihan.

Maka dalam hal ini, berhemat yang tidak masuk dalam dua kategori itu dianggap jalan tengah. Karena itu, secara akal sehat, hemat juga dinilai sebagai perbuatan baik.

Dalam kajian akhlak, keadilan bahkan dikategorikan sumber segala macam kebajikan dan kebaikan. Secara singkat, –masih perspektif akhlak dalam Islam– dalam diri manusia terdapat beragam potensi. Seperti potensi syahwat, imajinasi, keberpikiran atau akal dan lain sebagainya.

Jika masing-masing kekuatan itu melebihi kekuatan akal, maka manusia secara substansial bisa berubah menjadi binatang buas atau setan yang dipenuhi dengan khayalan dan fantasi. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda: “Sekiranya kalian tidak banyak bicara dan tidak ada fantasi dan imajinasi di hati kalian, pasti apa yang aku saksikan serta aku dengarkan kalian juga saksikan dan dengarkan.”

Dari sisi potensi manusia ini, keadilan ialah aktualisasi dari kekuatan pasukan akal. Apalagi kedudukan akal dalam Islam tidak kalah penting karena merupakan hujjah Allah dalam bentuk batin di samping hujjah-Nya dalam bentuk lahir yaitu para nabi dan rasul. Karena itu, pilihan akal senantiasa jalan tengah, tidak berlebihan.

Jika dilihat dari konteks bahasa, dalam bahasa Arab, adil serumpun dengan kata i’tidal yang bermakna seimbang atau tidak melenceng ke kanan maupun ke kiri. Nah, pengertian ini juga mengingatkan kita pada ayat yang sangat populer dalam surat Al Fatihah: “ihdinaa shiratal mustaqim.”

Artinya, Istiqamah dan i’tidal memiliki makna berdekatan. Karena itu pula adil dan ihsan (berbuat bijak) digandengkan dalam ayat sebelumnya. Tidak heran jika orang yang tidak adil cenderung tidak mampu berbuat ihsan. Umumnya mereka terbawa emosi dalam bertindak. Sebagai contoh, dalam persoalan mencintai dan membenci orang lain.

Mencintai dan membenci orang lain tidak lah dilarang. Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Cintailah orang lain tanpa berlebihan, karena boleh jadi orang itu suatu saat nanti menjadi musuhmu. Bencilah orang lain tanpa berlebihan karena bisa jadi ia akan menjadi orang yang engkau cintai suatu saat nanti.”

Lagi-lagi, selain sikap tengah yang paling dekat dengan sikap akal atau keputusan rasional, adil juga paling dekat dengan ihsan (kebajikan). Sebaliknya, setiap orang yang bersikap ekstrim, tidak ingin tahu alias ‘pokoknya’ fanatik, dengan mudah terseret pada keburukan dan kejahilan.

Dalam hal ini, ekstrim berarti berada di ujung kanan atau ujung kiri. Berseberangan dengan itu, ialah sikap moderat yang berada di tengah-tengah. Jika keadilan dekat dengan akal maka ekstrimisme dekat dengan kejahilan.

Nah, dalam praktek, keadilan bisa diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Misalnya, dalam hal antara putus asa dan harapan. Seorang Mukmin –sebagaimana dalam Islam– tidak boleh putus asa pada Allah. Ia harus selalu berharap pada Allah. Tapi terlalu berlebih-lebihan dalam harapan, sedemikian sehingga terlena, mengakibatkan ia mengentengkan dan meremehkan perintah Allah.

Contohnya, orang yang senantiasa bermaksiat karena berharap begitu besar pada pengampunan Allah. Sikap seperti ini hakikatnya bukan lagi tergolong jalan yang adil. Karena harapan yang berlebih-lebihan pada pengampunan Allah itu justru menjadikan ia meremehkan dosa. Dan kalau sudah mengentengkan dosa, ia telah termasuk menentang Tuhan.

Jadi dalam semua hal, sikap terbaik itu ialah di tengah. Dalam dunia pesantren dikenal istilah “Khairul umuri awsathuha” atau sebaik-baiknya perkara ialah tengah-tengahnya. Dalam contoh sebelumnya, ketika kita melihat diri, amalan, kemampuan, kelemahan, kita mungkin bisa dikatakan wajar berputus asa. Setiap kali kita melihat diri kita, keputus-asaan muncul, karena betapa lemah, banyak dosa, bodohnya kita.

Namun, sebagai orang beriman, pada saat kita ‘melihat’ Allah, muncul harapan pada diri kita. Jadi, harapan ketika melihat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya termasuk Yang Maha Pengampun. Tapi, karena kita ini makhluk, tetap harus juga melihat pada diri kita sendiri. Inilah sikap yang seimbang, tidak tenggelam dalam harapan sehingga mengentengkan syariat Allah, tidak juga putus asa karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Contoh sikap adil selanjutnya dalam soal “membenci” ialah, Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan: “Lihatlah ‘dengarlah’ apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan.”

Artinya, kalaupun kita benci pada orang yang mengatakan kebenaran, tidak menghalagi kita menerima apa yang ia katakan. Sebagaimana dikatakan: “Ambillah hikmah walau dari mulut serigala.” Agar sikap benci tidak menutupi kita menerima kebenaran, jangan sekali-kali memandang pada ‘siapa’ tapi pandanglah pada ‘apa’ yang ia katakan. Selama perkataannya benar, kebencian tidak membutakan kita untuk menerima pandangannya, inilah sikap adil.


© : [IslamIndonesia.Id]