Cara Menghadapi Tetangga Yang Tidak Baik


image


Tidak bisa di hindari & tidak bisa di pungkiri, terkadang kita harus berhadapan dengan orang yang tidak baik di lingkungan sekitar, termasuk tetangga. Dari mulai di sindir, di cibir hingga tidak di ajak bertegur sapa, mungkin pernah kita alami.

Memiliki tetangga yang tidak baik / jahat memang menimbulkan berbagai macam perasaan, dari mulai khawatir, segan, sedih, hingga kesal dan benci.

Kadang hidup ini lucu, orang yang tadinya baik-baik kepada kita, tiba-tiba menjadi benci kepada kita. Orang yang selalu baik-baik dikala di depan kita, ternyata dibelakang kita menghina atau menjelek-jelekan kita habis-habisan. Kenapa orang bisa berlaku seperti itu, apakah mereka tidak punya hati, apakah mereka tidak bisa bicara jujur, ataukah mereka memang ada niat yang jelek terhadap diri kita.

Biasanya orang yang tidak bisa menahan emosi dan hanya bisa berani bicara di belakang itu, tandanya mereka lebih senang menusuk dari belakang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati apabila menghadapi orang seperti itu, karena adakalanya mereka bicara didepan kita manis, tetapi dibelakang kita malah menjelek-jelekan kita.

Sekarang pertanyaannya kenapa orang bisa ‘tiba-tiba’ benci kepada orang lain ? Secara ilmu psikologi, hal ini terjadi dari pikiran sadar kita yang menyerap atau menerima respon yang masuk kedalam otak, kemudian lambat laun tertanam dalam syaraf-syaraf pikiran kita dan akhirnya sampai masuk kedalam pikiran bawah sadar. Pikiran kita pada akhirnya sedikit demi sedikit terkontaminasi oleh perasaan tersebut.

Bagi sebagian orang yang mempunyai pikiran positif dalam diri mereka, kemungkinan kecil mereka akan terkena pikiran negatif, sehingga kemungkinan kecil mereka akan mempunyai penyakit hati. Tetapi bagi mereka yang dalam kesehariannya selalu berpikir negatif, maka kemungkinan besar hati dan pikiran mereka juga menjadi negatif pula.

Ada kalanya orang yang benci terhadap kita, pada akhirnya berkomplot untuk membuat tudingan atau tuduhan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Apalagi ada orang yang tidak mempunyai prinsip kebenaran, maka jika mereka diajak bicara mereka bisa dengan mudah terbawa ikut-ikutan. Hal ini terjadi sebagai akibat dari adanya masalah pribadi atau benci karena masalah pribadi terhadap diri kita.

Memang kalau dilihat dari sisi orang yang benci terhadap kita, mungkin mereka akan selalu berpikiran terbalik dengan apa yang kita pikirkan atau yang kita inginkan. Tetapi satu hal yang harus kita ingat bahwa, kadang orang benci terhadap kita bisa menjalar atau menjadi hal yang besar bagi diri kita. Untuk itu dalam menghadapi hal seperti itu, apabila kita sebagai korban tentu harus mawas diri, dan harus mencari solusi bagaimana agar bisa keluar dari masalah yang sedang dihadapi.

image
–Cara Menghadapi Tetangga Jahat–

Berikut sedikit kiat / cara ringan yang seharusnya perlu anda (kita) terapkan dalam menghadapi situasi tetangga yang saling membenci, iri dengki, mencemooh, main belakang terhadap anda (kita) :


1• Bersabar Dan Berlapang Dada

Terhadap tetangga yang tidak baik ini hendaknya kita jangan membalas perbuatanya, melainkan mencoba bersabar. Dengan begitu kita justru menjadi pribadi yang mulia di mata Allah.

Hal ini di tegaskan dalam Hadits Abu Dzaar:

Ketika Mutaarif bin Abdullah bertemu dengannya, ia berkata: “Wahai Abu Dzaar, aku mendengar tentang apa yang engkau  katakan dan aku ingin bertemu denganmu.” Abu Dzaar berkata: “Ayahmu adalah seorang laki-laki besar! Sekarang engkau telah bertemu denganku.” Mutaarif berkata: “Aku mendengar engkau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wassalam bersabda: Allah mencintai tiga kelompok dan membenci tiga kelompok.”

Abu Dzaar menjawab: “Aku tidak berpikir bahwa aku akan berbohong mengenai Rasulullah.”

Mutaarif berkata: “Maka siapakah tiga kelompok orang yang di cintai Allah itu?” Abu Dzaar (dengan mengutip sabda Rasulullah) berkata: “Orang yang bertempur mencari ridha Allah, dengan penuh semangat dan mengharap pahala dari-Nya, dan bertempur hingga dia tewas, dan engkau bisa menemukan hal ini dalam kitab Allah.” Kemudian ia membaca: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” (Ash-Shaf: 4)

Mutaarif bertanya: “Kemudian siapa lagi?.” Ia menjawab: “Seorang laki-laki yang memiliki seorang tetangga jahat  yang menjengkelkan dan mengganggunya, namun ia menghadapinya dengan kesabaran kelapangan sehingga Allah menyelesaikan persoalan tersebut selama masa hidupnya atau setelah kematian salah satu dari mereka.”


2• Jangan Terbawa Emosi

Memang kalau dilihat dari sisi orang yang benci terhadap kita, mungkin mereka akan selalu berpikiran terbalik dengan apa yang kita pikirkan atau yang kita inginkan. Tetapi satu hal yang harus kita ingat bahwa, kadang orang benci terhadap kita bisa menjalar atau menjadi hal yang besar bagi diri kita. Untuk itu dalam menghadapi hal seperti itu, apabila kita sebagai korban tentu harus mawas diri, dan harus mencari solusi bagaimana keluar dari masalah yang sedang dihadapi.

Kita janganlah terbawa emosi terhadap orang-orang yang benci kepada kita, karena dengan kita emosi mungkin inilah yang mereka inginkan. Mereka ingin melihat kita emosi dan akhirnya kita lepas kontrol akan situasi yang ada, dan tentunya ini akan membuat mereka menjadi senang. Untuk itu, kita haruslah bijak menghadapi orang yang benci terhadap kita, dan janganlah kita terbawa arus dengan pola pikir dan pola permainan mereka.


3• Analisa Perbuatan Mereka

Orang yang suka mencela kita secara serius, biasanya sedang stress, punya masalah dan biasanya punya masa lalu yang negatif (kegagalan, bangkrut, iri dengki dan lain-lain).

Apa yang dilakukan tiap orang pada dasarnya ada penyebabnya dan ada tujuannya. Oleh karena itu, marilah kita belajar menganalisa perilaku orang lain dan menemukan kesimpulan tentang motivasi atau latar belakangnya.

Menghadapi orang yang demikian sebaiknya kita bersifat realistis. Artinya, kita tidak mungkin mengubah watak orang lain. Adanya memang begitu. Bersikap mengalah merupakan langkah terbaik, sebab suatu saat orang tersebut akan mengetahui kesalahannya walaupun tidak mau mengakui kesalahannya.


4• Sabar

Inilah kata yang paling ampuh menghadapi berbagai ulah.

Orang-orang yang tak seide atau bahkan bertentangan atau berlawanan, bahkan bisa jadi seperti ”benalu” di sebuah pohon, kemana orang yang dibencinya bergerak, orang ini akan mengikutinya dan membuat komen yang bisa saja menjengkelkannya, karena memang itu tujuannya.
Orang seperti ini sengaja membuat marah, hobinya yang “menghantam” pihak lain. Begitu juga yang terjadi di lingkungan tetangga dan lain sebagainya, ada saja orang yang “menghantam” orang lain karena beda kelas ekonominya, beda paham, dan lain sebagainya, baik dilakukan terang-terangan maupun diam-diam. Bahkan bila yang dibenci adalah musuh dalam sebuah penciptaan karya, maka racunpun bicara !


 5• Tidak Membalas Dengan Kalimat Yang Kasar Pula

Kalau terjadi, maka “pancingan”nya berhasil.
Karena orang yang membalas kekasaran dengan kekasaran, kejahatan dengan kejahatan, ibarat api ditambah api, maka akan semakin “berkobar” merajalela dan “kebakaran” akan semakin meluas. Sifat api yang panas, bukan dilawan dengan panas pula, tapi dengan lawannya, yaitu air yang dingin. Api dibalas dengan air, panas dibalas dengan dingin, kekerasan dibalas dengan kelembutan dan caci maki dibalas dengan do’a !

Ingat ! Semakin pohon itu tumbuh tinggi menjulang, semakin kencang pula angin menerpanya.
Semakin kita dewasa, semakin banyak pula permasalahannya.
Dulu kita hidup belum berumah tangga, permasalahanpun relatif sedikit yang menimpa dalam kehidupan, semenjak kita memutuskan untuk hidup berumah tangga dan berpindah-pindah tempat tinggal, pastilah kita menemukan berbagai macam pelangi, hiruk pikuk, warna-warni permasalahan, pun termasuk permasalahan dengan tetangga sekitar kita.
Ada yang suka ngegosip, ada yang suka mengarang cerita ekstrim, ada yang suka mempengaruhi tetangga lain untuk membenci kita, dan masih banyak lagi cara-cara kotor yang akan mereka pergunakan untuk menjatuhkan dan melemahkan kita.

Ingat & pikirkan, hidup ini cuma sekali (hidup dimuka bumi ini sungguh sangat singkat), buatlah untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, tidak perlu mengurusi yang tidak perlu untuk diurusi maupun celoteh orang lain.
Bersabarlah √


“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar.”
(An-Nahl: 96)
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(Al-Baqarah: 45)
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”
(Al-Ahqaf: 35)
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(Al-Anfal: 46)
“(Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita semua akan kembali. Mereka itu akan dikaruniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.”
(Al-Baqarah: 156-157)
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).”
(Al-A’raf: 126)


“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(Az-Zumar: 10)


Muslim Tidak Perlu Berhijab


image
-Muslim Tidak Perlu Berhijab-


Sebuah kajian yang diisi oleh Yusuf Estes, seseorang melemparkan pertanyaan padanya.

Pertanyaan itu ditulis lewat secarik dan Yusuf Estes membacakannya:

“Apakah semua orang Islam harus berhijab?.”

[Dalam video tersebut], Yusuf Estes sontak menjawab:

“Tidak. Semua muslim tidak wajib berhijab,” jawab Yusuf Estes. Hadirin yang mendengarnya terkejut.

“Kan hanya wanita muslim saja yang wajib berhijab. Laki-laki masa pakai hijab,” jelas Yusuf Estes.

“Tapi, jika wanita muslim tetap tidak ingin berhijab. Silakan. Saya katakan wanita Muslim boleh jika tidak ingin berhijab,” lanjutnya.

Hadirin kembali tegang mendengar perkataan Yusuf Estes.

“Tapi dengan syarat dia harus tinggal di dalam rumah. Tidak boleh kemana-mana dan jangan bertemu dengan orang selain mahramnya,” katanya.



10 CARA MENJADI PRIBADI TANGGUH MENGHADAPI COBAAN



image
10 CARA MENJADI PRIBADI TANGGUH MENGHADAPI COBAAN

Saya yakin Anda setuju, Anda ingin menjadi pribadi tangguh saat menghadapi cobaan bukan?

Lalu mengapa terasa begitu berat saat cobaan itu datang?

Kita tidak bisa meminta cobaan itu tidak pernah datang. Cobaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup kita.

Akan jauh lebih baik kita mampu menghadapi cobaan dibandingkan berharap tidak mendapatkan cobaan. Saat kita sanggup dan bisa melalui cobaan, maka kita akan mendapatkan hikmah, pelajaran, dan kebaikan dari cobaan itu.

Mari kita belajar bersama, bagaimana caranya agar menjadi pribadi yang tangguh.


Ketangguhan Dalam Menghadapi Cobaan Akan Menjadikan Kita Pribadi Yang Lebih Baik


Mengapa kita harus tangguh menghadapi cobaan, sebab cobaan itu bagian dari hidup kita dan ada kebaikan dari cobaan tersebut. Kita tidak bisa menghindari cobaan selama hidup ini. Maka daripada kita menghindari cobaan, maka langlah yang benar adalah membina diri untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi cobaan.

Cobaan datang dari Allah dan Allah sudah memberikan cara menghadapi cobaan tersebut. Jika kita telusuri Al Qur’an Dan Hadits, banyak sekali ayat dan Hadits yang membimbing kita agar tangguh menghadapi cobaan.

Langkah pertama yang harus kita yakini adalah, yakinlah bahwa ujian atau cobaan itu untuk kebaikan kita sendiri.


“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”
(QS. 7: 168)

“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. 11: 11)

“Tiada seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dari dosa.”
(HR Bukhari)

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah).”
(HR Bukhari)

Kita menghadapi cobaan dengan benar, artinya kita akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya jika kita salah dalam menghadapi cobaan, maka malah keburukan dan siksa yang kita dapat dan cobaan itu sendiri tidak hilang. Rugi 2 kali!


Sikap Positif Dalam Menghadapi Cobaan


Lalu bagaimana cara kita menghadapi cobaan? Kata kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi ujian tersebut. Mungkin kita berada dalam sebuah kondisi dimana kita memang tidak punya pilihan, artinya kita harus mengalami ujian itu. Namun, sebenarnya kita selalu punya pilihan, setidaknya dalam sikap.

Menyikapi cobaan dengan positif sebenarnya sudah cukup, sebab sikap positif akan melahirkan semangat tidak menyerah, semangat mencari solusi, dan yang jelas, jika sikap positif itu berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, diiringi dengan niat ikhlas, maka kita Pasti akan mendapatkan balasannya di akhirat nanti.

image


Apa saja sikap positif yang harus kita pegang? – Berikut 10 cara dan solusinya :

1• Yakinlah Anda Sanggup

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
(QS. 65: 7)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(QS. 2: 286)

Yakinlah bahwa setiap cobaan yang diberikan Allah kepada kita sesuai dengan kadar kemampuan kita. Jika kita merasa tidak sanggup menghadapi cobaan atau ujian yang kita alami, itu adalah sinyal bahwa kita harus meningkatkan kualitas diri kita.

Bukan ujiannya yang terlalu berat, tapi diri kita sendiri yang loyo dan payah. Perbaiki diri, bukan mengeluh akan beratnya ujian.

Keyakinan diri bahwa kita akan sanggup menghadapi ujian, menjadikan diri kita tidak akan menyerah, sehingga mengambil tindakan untuk memperbaiki diri dan mencari solusi. Yakinlah Anda bisa, Insya Allah.


2• Yang Kita Benci Bisa Jadi Baik Bagi Kita

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. 2: 216)

Kita harus yakin, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Mungkin kita menyukainya, padahal itu buruk bagi kita sehingga Allah menghilangkannya dari kita. Terasa pahit, padahal justru itu yang terbaik bagi kita. Kita mungkin tidak mengetahuinya, tapi Allah mengetahui.

Jadi berprasangka baiklah bahwa apa yang terjadi itu untuk kebaikan Anda. Allah Maha Penyayang.


3• Cobaan Bukan Berarti Allah Benci Kepada Kita

“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”
(QS. 93: 3)

Cobaan itu tidak menunjukkan bahwa Allah membenci kita. Rasulullah Saw pun diberikan ujian oleh Allah, padahal beliau adalah habibillah (kekasih Allah). Jadi ujian bukan berarti benci. Justru untuk kebaikan sebagainya dijelaskan melalui ayat dan hadits yang sudah dibahas diatas.


4• Tenanglah, Kemudahan Akan Datang

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. 94: 5-6)

Jangan khawatir dengan kesulitan, sebab Anda akan menemukan kemudahan. Syaratnya Anda harus bersedia melalui kesulitan tersebut.


5• Jika Anda Menghadapi Cobaan, Perbanyak Shalat

“Apabila Rasulullah Saw menemui suatu kesulitan, maka beliau segera mengerjakan shalat.”
(HR Abu Dawud)

Shalatlah bukan malah melamun, bukan malah mengeluh. Jika mau menangis, menangislah kepada Allah. Bangun malam, dirikan shalat malam, dan mintalah petunjuk dan pertolongan kepada Allah.


6• dan 7• Berdo’a dan Selesaikan Kesulitan Orang Lain

“Barangsiapa ingin do’anya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya, hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.”
(HR Ahmad)

Berdo’alah, karena Allah akan mengabulkan do’a kita. Dan, salah satu rahasia agar do’a itu dikabulkan, selesaikan atau bantu kesulitan orang lain. Mungkin aneh, kita sendiri sedang mengalami kesulitan tetapi malah harus menyelesaikan kesulitan orang lain. Ini adalah perintah Allah dan tidak mungkin salah.


8• Bersabarlah

“Aku (rasulullah) mengagumi seorang mukmin yang bila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, dia memuji Allah dan bersabar.”
(HR Ahmad)

“Orang yang berbahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang terkena ujian dan cobaan, dia bersabar.”
(HR Ahmad)

Ada yang mengatakan bahwa sabar adalah resep untuk segala masalah. Memang benar. Tentu saja dengan definisi sabar yang benar. Seseorang yang sedang berperang membela agama Allah yang bersabar, adalah mereka yang teguh dalam peperangan itu.

Justru Allah melarang kita menyerah atau meninggalkan pertempuran. Artinya menyerah bukanlah definisi sabar. Sabar adalah keteguhan dalam kebenaran.

Sabar juga bisa berarti adalah tetap teguh dalam mecari solusi. Anda tetap teguh dalam perjuangan keluar dari masalah. Jika Anda melakukan sabar dengan sabar yang benar, Insya Allah solusi akan datang.


9• Dakwah

“Kalian harus menyeru kepada kebikan dan melarang dari kemungkaran. Kalau tidak, Allah akan mengirim hukuman kepada kalian, saat kalian berdo’a kepada-Nya, Dia tidak mengabulkan do’a kalian.”
(HR At Tirmidzi)

Berdo’alah kepada Allah, dan agar do’a kita dikabul kita harus berdakwah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Jangan berhenti berdakwah karena kita sedang dalam kesulitan, justru dakwah akan memudahkan kita mengatasi kesulitan.

Jangan mengeluh masalah begitu berat, sementara kemungkaran kita diamkan saja. Jangan mengeluh tidak bisa mengatasi ujian, sementara kita tidak mengajak orang kepada kebaikan.


10• Khusyu’

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
(QS. 2: 45-46)

Dan, mintalah pertolongan dari Allah dengan shabar dan shalat. Ini memang tidak mudah kecuali bagi mereka yang khusyu’, yaitu orang yang yakin bahwa dia akan menemui Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Saat kita yakin bahwa kita akan kembali kepada Allah, maka sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, semuanya menjadi kecil, sebab urusan besar itu mempersiapkan diri untuk di akhirat nanti.

image

Inilah berbagai panduan dari Al Qur’an dan Hadits bagaimana cara menyikapi cobaan (dalam hidup) dengan benar dan akan membawa solusi.


© [motivasi-islami.com]


Jikalau Suami Yang Cuci Pakaian, Bukan istrinya – Ini Kata Rasulullah !



Adabaiknya kita simak pesan Ulama berikut, Syaikh Fuad Shalih dalam bukunya Liman Yuriidu Az Ziwaaj wa Tazawuj menyampaikan empat nasehat Rasulullah SAW untuk para suami. Termasuk mengenai tugas cuci pakaian.
Syaikh Fuad merasa perlu mencantumkan hadits ini agar para suami berbenah diri; tidak hanya menuntut istri mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya, tetapi juga ia mempersembahkan yang terbaik untuk istrinya.


image


Empat nasehat ini secara khusus mengajarkan para suami untuk berpenampilan menarik di rumah.

Berikut ini, empat nasehat itu:

1• Cucilah Bajumu

Nasehat pertama ini memiliki dua dimensi. Dimensi pertama ada pada proses. Dimensi kedua terletak pada hasilnya.

Sebagai sebuah proses, “cucilah bajumu” berarti berbagi dengan istri dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah (domestik), khususnya bagi keluarga yang tidak memiliki khadimat (pembantu).
Mencuci baju tidak dibebankan kepada istri saja, melainkan suami juga melakukannya. Baik mencuci dengan tangan maupun dengan mesin cuci.

Konsep berbagi peran inilah yang diteladankan oleh Rasulullah. Kendati beliau adalah Nabi, pemimpin negara, qiyadah dakwah dan panglima perang, beliau menyempatkan diri untuk membantu istri-istrinya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
Ditinjau dari dimensi hasil, “cucilah bajumu” membuat suami tampil dengan pakaian rapi di depan istrinya. Tidak kusut. Tidak menyebalkan.

Mungkin sebagian suami tidak merasa perlu tampil rapi di hadapan istrinya, terlebih ketika malam tiba. Namun, jika ia menuntut istrinya tampil prima di depannya, mengapa ia tidak menuntut dirinya melakukan hal yang sama?

Bukankah Islam menjunjung keadilan? Kita para suami kadang belum juga mengerti bahwa wanita itu tidak selalu mencurahkan perasaannya kepada suami.

Ia kadang menyimpannya di hati dan berusaha menyabarkan diri. Saat kita para suami dengan mudah mengatakan “Pakaialah baju yang indah”, para istri hanya menahan sabar melihat kita menghampirinya dengan baju berbau.

Mari kita berusaha berubah. Menjadi suami yang lebih rapi di depan istri.


2• Rapikan Rambutmu

Ketika berangkat kerja, ketika pergi ke kantor, ketika hendak syuro, ketika mau mengisi pengajian, kita para lelaki yang katanya tidak suka dandan, minimal merapikan rambut.
Lalu saat hanya berdua dengan istri, mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Bukankah jika begitu kita lebih mengutamakan orang lain daripada istri kita sendiri? Padahal rekan-rekan kerjanya tidak memasakkannya.

Teman-temannya juga tak bisa merawatnya ketika ia sakit. Yang setia menemani, yang setia merawat adalah istri. Dan tidak ada orang lain yang bisa menghangatkannya di kala kedinginan kecuali istrinya sendiri. Lalu mengapa kita sebagai suami justru tak bisa tampil rapi saat bersamanya?


3• Gosoklah Gigimu

Bau mulut adalah satu hal yang mengganggu komunikasi dan menjadi pembatas kedekatan. Ketika seorang suami tak suka istrinya mengeluarkan bau saat ia berbicara, demikian pula istri sebenarnya tak suka jika suaminya menghampirinya dengan bau yang tak sedap.
Adalah junjungan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap akan masuk rumah, beliau bersiwak (menyikat gigi) terlebih dahulu.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Bunda Aisyah menjadi saksi kebiasaan Rasulullah ini. Ketika ditanya: “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak.”
Maka sungguh nasehat ini harus dikerjakan oleh para suami. Hendaklah ia rajin bersiwak atau menggosok giginya.

Jika berduaan dengan istri, pastikan sudah gosok gigi. Pastikan tak ada bau yang mengganggu. Hingga curhat pun menjadi mengasyikkan. Hingga berduaan pun jadi penuh kemesraan.

Dan lebih dari itu, menggosok gigi atau bersiwak mendatangkan dua kebaikan. Kebersihan dan kesehatan mulut, serta mendatangkan keridhaan Tuhan. “Bersiwak itu membersihkan mulut dan membuat Tuhan ridha” (HR. Al Baihaqi dan An Nasa’i).


4• Berhiaslah untuk Istrimu

Para sahabat Nabi adalah suami-suami yang terdepan dalam mengamalkan nasehat ini. Ibnu Abbas mengatakan: “Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka istriku berhias untukku.”

Mengapa demikian, karena Ibnu Abbas yakin: “Sesungguhnya berhiasnya suami di hadapan istrinya akan membantu istri menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki selain suaminya. Berhiasnya suami di hadapan istrinya juga makin mendekatkan hati keduanya.”

Jika para sahabat yang sibuk berdakwah dan berjihad tidak lalai berhias untuk istrinya, bagaimana dengan kita ? –Para suami– Semoga bisa meneladani mereka.


73 Golongan Ummat Islam


image
~73 Golongan Ummat Islam~

KEDUDUKAN HADITS ‘TUJUH PULUH TIGA GOLONGAN UMMAT ISLAM’


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


MUQADDIMAH

Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar adalah hadits yang berbunyi bahwa tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang masuk Surga’ disebabkan tiga hal:

1• Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan.
2• Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya; satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan batas.
3• Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau minimal menjadi separuh penghuni Surga.


Dalam tulisan ini, Insya Allah, saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya dari hadits tersebut, serta penjelasannya dari para ulama Ahli Hadits, sehingga dengan demikian akan hilang ke-musykil-an yang ada, baik dari segi sanadnya maupun maknanya.

JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMMAT ISLAM

Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu:

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
  3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.
  4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
  6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
  7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
  8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
  9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
    10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
  10. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.
  11. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
  12. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
  13. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

HADITS PERTAMA:

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.
2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi VII/397-398.)
3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.
4. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad II/332, tanpa me-nyebutkan kata “Nashara.”
5. Al-Hakim, dalam kitabnya al-Mustadrak, Kitabul Iman I/6, dan ia berkata: “Hadits ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.”
6. Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawaariduzh Zhamaan, 31-Kitabul Fitan, 4-Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834.
7. Abu Ya’la al-Maushiliy, dalam kitabnya al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut).
8. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya as-Sunnah, 19-Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- anna Ummatahu Sataftariqu, I/33, no. 66.
9. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraaqil Umam fii Diiniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah? I/374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi.
10. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fii Diinihi, I/306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiiji.

Perawi Hadits:
a. Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy.
• Imam Abu Hatim berkata: “Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia adalah seorang Syaikh (guru).”
• Imam an-Nasa-i berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.”
• Imam adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Syaikh yang terkenal dan hasan haditsnya.”
• Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia se-orang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.”
(Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu VIII/30-31, Mizaanul I’tidal III/ 673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib IX/333-334, Taqribut Tahdzib II/119 no. 6208.)
b. Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah ber-kata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.”
(Lihat Tahdzibut Tahdzib XII/115, Taqribut Tahdzib II/409 no. 8177.)

Derajat Hadits
Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.

Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul ‘Ilmi I/128.)

Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab al-I’tisham (II/189).

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih at-Tirmidzi no. 2128.

HADITS KEDUA:

Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.
2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.
3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.
9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.

Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”

Perawi Hadits
a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.
b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
• Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”
• Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
• Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)

Derajat Hadits
Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.

Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”
(Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)

HADITS KETIGA:

Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

Keterangan
Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992.
2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.
3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.

Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

Perawi Hadits:
a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.
An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang tsiqah.”
b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi.
Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya.”
Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya).”
(Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib I/470 no. 3165.)
c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.” (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)
d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.” (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib I/289 no. 1859.)

Derajat Hadits
Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.

HADITS KEEMPAT:

Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]

Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no. 3227.
(Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/360-361)

HADITS KELIMA:

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”

Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.”)

Perawi Hadits
Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang lemah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um al-Ifriqiy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, an-Nasa-i dan selain mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Ia lemah hafalannya.”
(Tahdzibut Tahdzib VI/157-160, Taqribut Tahdzib I/569 no. 3876.)

Derajat Hadits
Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena banyak syawahid-nya. Bukan beliau menguatkan perawi di atas, karena dalam bab Adzan beliau melemahkan perawi ini.
(Lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah no. 1348 dan kitab Shahih Tirmidzi no. 2129.)

KESIMPULAN

Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

Hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli di bidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ummat Islam ini berpecah belah, berfirqah-firqah (bergolongan-golongan), dan setiap golongan bang-ga dengan golongannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin:

“Artinya : “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rum: 31-32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

ALASAN MEREKA YANG MELEMAHKAN HADITS INI SERTA BANTAHANNYA

Ada sebagian orang melemahkan hadits-hadits tersebut karena melihat jumlah yang berbeda-beda dalam penyebutan jumlah bilangan firqah (kelompok) yang binasa tersebut, yakni di satu hadits disebutkan sebanyak 70 (tujuh puluh) firqah, di hadits yang lainnya disebutkan sebanyak 71 (tujuh puluh satu) firqah, di hadits yang lainnya lagi disebutkan sebanyak 72 (tujuh puluh dua) firqah, dan hanya satu firqah yang masuk Surga.

Oleh karena itu saya akan terangkan tahqiqnya, berapa jumlah firqah yang binasa itu?

Pertama, di dalam hadits ‘Auf bin Malik dari jalan Nu’aim bin Hammad yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya (I/98) no. 172, dan Hakim (IV/ 430) disebut tujuh puluh (70) firqah lebih, dengan tidak menentukan jumlahnya yang pasti.

Akan tetapi, sanad hadits ini dha’if (lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad al-Khuzaa’i.

Ibnu Hajar berkata, “Ia banyak salahnya.”

An-Nasa-i berkata, “Ia orang yang lemah.”

(Lihat Mizaanul I’tidal IV/267-270, Taqribut Tahdzib II/250 no. 7192 dan Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhuu’ah I/148, 402 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.)

Kedua, di hadits Sa’ad bin Abi Waqqash dari jalan Musa bin ‘Ubaidah ar-Rabazi yang diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam kitab asy-Sya’riah, al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar no. 284. Dan Ibnu Baththah dalam kitab Ibanatil Kubra nomor 263, 267. Disebutkan dengan bilangan tujuh puluh satu (71) firqah, sebagaimana Bani Israil.

Akan tetapi sanad hadits ini juga dha’if, karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah, ia adalah seorang perawi yang dha’if.
(Lihat Taqribut Tahdzib II/226 no. 7015.)

Ketiga, di hadits ‘Amr bin ‘Auf dari jalan Katsir bin ‘Abdillah, dan dari Anas dari jalan Walid bin Muslim yang diriwayatkan oleh Hakim (I/129) dan Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, disebutkan bilangan tujuh puluh dua (72) firqah.

Akan tetapi sanad hadits ini pun dha’ifun jiddan (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada dua orang perawi di atas.
(Taqribut Tahdzib II/39 no. 5643, Mizaanul I’tidal IV/347-348 dan Taqribut Tahdzib II/289 no. 7483.)

Keempat, dalam hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah, ’Auf bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib dan sebagian dari jalan Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh para imam Ahli Hadits disebut sebanyak tujuh puluh tiga (73) firqah, yaitu yang tujuh puluh dua (72) firqah masuk Neraka dan satu (1) firqah masuk Surga.

Dan derajat hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

TARJIH

Setelah kita melewati pembahasan di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa yang lebih kuat adalah yang menyebutkan dengan 73 (tujuh puluh tiga) golongan.

Kesimpulan tersebut disebabkan karena hadits-hadits yang menerangkan tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan adalah lebih banyak sanadnya dan lebih kuat dibanding hadits-hadits yang menyebut 70 (tujuh puluh), 71 (tujuh puluh satu), atau 72 (tujuh puluh dua).

MAKNA HADITS

Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih mendahulukan akal daripada wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah yang sah lebih tinggi dan jauh lebih utama dibanding dengan akal manusia. Wahyu adalah ma’shum sedangkan akal manusia tidak ma’shum. Wahyu bersifat tetap dan terpelihara sedangkan akal manusia berubah-ubah. Dan manusia mempunyai sifat-sifat kekurangan, di antaranya:

Manusia ini adalah lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : “Dan diciptakan dalam keadaan lemah.” [An-Nisaa’: 28]

Dan manusia itu juga jahil (bodoh), zhalim dan sedikit ilmunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesung-guhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” [Al-Ahzaab: 72]

Serta seringkali berkeluh kesah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya ; “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [Al-Ma’aarij : 19]

Sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” [Al-Fushshilat : 42]

Adapun masalah makna hadits yang masih musykil (sulit difahami), maka janganlah dengan alasan tersebut kita terburu-buru untuk menolak hadits-hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena betapa banyaknya hadits-hadits sah yang belum dapat kita fahami makna dan maksudnya.

Permasalahan yang harus diperhatikan adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui daripada kita. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih tidak akan mungkin bertentangan dengan akal manusia selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa ummatnya akan mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga) firqah, semuanya ini telah terbukti.

Dan yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri mereka berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sah dan penjelasan para Shahabat dan para ulama Salaf, agar kita termasuk ke dalam “Golongan yang selamat” dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari kian berkembang.

Golongan yang selamat hanya satu, dan jalan selamat menuju kepada Allah hanya satu, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’am: 153]

Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sha-habatnya.

Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Mudah-mudahan Allah membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Wallahu a’lam bish shawab.



MARAJI’

  1. Al-Qur-anul karim serta terjemahannya, DEPAG.
  2. Shahih al-Bukhari dan Syarah-nya cet. Daarul Fikr.
  3. Shahih Muslim cet. Darul Fikr (tanpa nomor) dan tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Syarah-nya (Syarah Imam an-Nawawy).
  4. Sunan Abi Dawud.
  5. Jaami’ at-Tirmidzi.
  6. Sunan Ibni Majah.
  7. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
  8. Sunan ad-Darimi, cet. Daarul Fikr, th. 1389 H.
  9. Al-Mustadrak, oleh Imam al-Hakim, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
  10. Mawaariduzh Zham-aan fii Zawaa-id Ibni Hibban, oleh al-Hafizh al-Haitsamy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
  11. Musnad Abu Ya’la al-Maushiliy, oleh Abu Ya’la al-Maushiliy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1418 H.
  12. Kitaabus Sunnah libni Abi ‘Ashim, oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1413 H.
  13. Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Najiyah (Ibaanatul Kubra), oleh Ibnu Baththah al-Ukbary, tahqiq: Ridha bin Nas’an Mu’thi, cet. Daarur Raayah, th. 1415 H.
  14. As-Sunnah, oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim.
  15. Kitaabusy Syari’ah, oleh Imam al-Ajurry, tahqiq: Dr. ‘Ab-dullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiji, th. 1418 H.
  16. Al-Jarhu wat-Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim ar-Raazy, cet. Daarul Fikr.
  17. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
  18. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
  19. Mizaanul I’tidaal, oleh Imam adz-Dzahabi.
  20. Shahiih at-Tirmidzi bi Ikhtishaaris Sanad, oleh Imam al-Albani, cet. Maktabah at-Tarbiyah al-‘Arabi lid-Duwal al-Khalij, th. 1408 H.
  21. Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Makatabah al-Ma’arif.
  22. Al-I’tisham, oleh Imam asy-Syathibi, tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. II-Daar Ibni ‘Affan, th. 1414 H.
  23. Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah, oleh Imam al-Lalikaa-iy, tahqiq: Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghamidi, cet. Daar Thayyibah, th. 1418 H.
  24. Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, oleh al-Ashbahani, tah-qiq: Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi ‘Amir al-Madkhali, cet. Daarur Raayah, th. 1411 H.
  25. Ats-Tsiqaat, oleh Imam al-’Ijly.
  26. Ats-Tsiqat, oleh Imam Ibnu Hibban.
  27. Al-Kasyif, oleh Imam adz-Dzahaby.
  28. Silsilatul Ahaadits adh-Dhai’fah wal Maudhuu’ah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  29. Shahih Ibnu Majah, oleh Syaikh Muhammad Nashirud-din al-Albany, cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy lid-Duwalil Khalij, cet. III, thn. 1408 H.
  30. Mishbahuz Zujajah, oleh al-Hafizh al-Busairy.
  31. Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar, oleh al-Hafizh al-Haitsami.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]


Footnote

1] Lihat kitab Mishbahuz Zujajah (IV/180). Secara lengkap perkataannya adalah sebagai berikut: Ini merupakan sanad (hadits) yang shahih, para perawinya tsiqah, dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga dalam Musnad-nya dari hadits Anas pula, begitu juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushiliy.


Sumber: https://almanhaj.or.id/453-kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam.html


Demikian:
Semoga Bermanfa’at Untuk Kita Semua.


Pesan -Nasehat- Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra


 

image

Silahkan di-baca di-simak Pesan -Nasehat- Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra berikut ini yang di-kutip dari berbagai sumber.


Nasehat Rasulullah SAW kepada Putrinya


Bismillahirrahmanirrahim


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, sesungguhnya dia berkata: ‘Pada suatu hari Rasulullah SAW datang kepada puterinya, Fatimah Az-Zahra. Beliau dapati Fatimah sedang menumbuk gandum di atas lumpang (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul bertanya kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fatimah?  Allah tiada membuat matamu menangis.” Fatimah kemudian menjawab: ”Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan  kesibukanku didalam rumah.”

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fatimah berkata lagi:
“Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang (pembantu) untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan  menyelesaikan urusan rumah.”

Kemudian Nabi berkata kepada puterinya: “Kalau Allah menghendaki wahai Fatimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu.”


“Wahai Fatimah, kepada wanita yang menumbuk membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”


“Wahai Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka 7 tabir pemisah.”


“Wahai Fatimah, tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah menetapkan pahala setara seperti memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”


“Wahai Fatimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahanya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.”


“Wahai Fatimah, yang lebih utama dari keutamaan diatas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendo’akanmu. Ketahuilah, wahai Fatimah. Kemarahan suami adalah pertanda kemurkaan Allah.”


“Wahai Fatimah, apabila wanita mengandung, maka Malaikat memohonkan ampunan baginya,dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasakan sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Setelah seorang wanita melahirkan kandunganya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya. Apabila seorang wanita meninggal dunia ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun dan akan di anggap sebagai mati syahid. Di dalam kubur akan mendapat tamanan indah yang merupakan bagian dari taman syurga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala 1000 orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu Malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”


“Wahai Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau (pakaian di syurga), dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala 100 kali beribadah haji dan umrah.”


“Wahai Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum (berwajah manis) di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih sayang (rahmat).”


“Wahai Fatimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, melainkan para Malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”


“Wahai Fatimah, tiadalah seorang wanita yang membantu meminyaki kepala suaminya dan menyisir rambutnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman dari air syurga yang di kemas indah yang di datangkan dari sungai-sungai syurga. Dan Allah mempermudah sakaratul maut baginya, bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal mustaqim dengan selamat.”


Demikian, semoga apa yang telah di urai di atas bisa di jadikan renungan dan bermanfa’at bagi kita semua.


Inilah Kumpulan Kata-kata Cinta Menggugah Jiwa !


image

Bahwasanya mereka saudara kita dengan nama dan karakter yang berbeda telah berkenan merangkaikan kata-kata cinta —Dari Sang Maha Cinta— untuk kita dengan nama dan karakter yang berbeda pula. Berharap semoga mereka semua beserta kita semua senantiasa mampu memanfa’atkan {menyesuaikan} cinta yang ada dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan yang semestinya, dimanapun berada.

image


Berikut Rangkaian Kata-kata Cintanya :

“Mempersatukan dua karakter insan yang berbeda tidaklah mudah. Apakah ada yang mampu melakukannya selain cinta ?”

“Jika cinta adalah jawabannya, dapatkah kita mengabaikan pertanyaannya ?”

“Kisah cinta yang sebenarnya takkan pernah ada akhirnya.”

“Kau belum pernah hadir dalam sketsa mimpiku namun kau sudah tercatat sebagi belahan jiwaku.”

“Kekuatan cinta yang sebenarnya, hidup dan menghidupkan, segar dan menyegarkan, serta kuat dan menguatkan.”

“Kasih sayang bukanlah tebak-tebakan. Ia adalah komitmen yang kokoh bahkan tanpa jaminan yang berarti, hanya ada keyakinan didalamnya.”

“Cinta membutuhkan pasangan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan kekosongan diantara jemari tangan kita agar nanti ada jemari lainnya yang akan melengkapi dan membantu mengisi kekosongan itu.”

“Hadirnya tak mengenal waktu dan tempat, Hinggap disetiap jiwa yang mampu merasakan. Memberikan harapan baru disetiap episode kehidupan, dan menebar sejuta rasa yang terkadang tak mampu diungkapkan. Itulah cinta.”

“Cinta itu terlalu suci untuk dinodai, terlalu tinggi untuk dikhianati, terlalu indah untuk dikotori. Karena ia adalah anugerah yang harus dijaga kesuciannya, diagungkan ketinggiannya, dan dikagumi keindahannya.”

“Kasih sayang lebih kuat daripada keadilan.”

“Ketika Satu pintu tertutup maka akan ada pintu lainnya yang terbuka. Artinya selalu ada jalan bagi setiap kesulitan yang menaungi kehidupan.”

“Bencilah jika memang dengan kebencian itu kau mampu memulai sesuatu yang lebih berarti.”

“Jangan pernah meninggalkan hubungan karena beberapa alasan yang salah. Ingatlah tidak ada orang yang sempurna, tidak ada orang yang selalu benar. Cinta datang untuk membenarkan dan menyempurnakan segala kesalahan dan kekurangan.”

“Cinta sejati tidak harus berarti menyatu, terkadang cinta sejati itu terpisah namun tak ada yang berubah.”

“Tanda kedewasaan adalah ketika seseorang menyakitimu dan kamu mencoba memahami situasi mereka daripada balik menyakiti mereka.”

“Temukanlah cinta dengan Hati bukan dengan Mata.”

“Seseorang yang benar-benar mencintaimu takkan pernah membuatmu pergi, walau seberat apapun situasinya.”

“Jika sesuatu menantangmu, mengujimu, dan membuatmu terjatuh, percayalah itulah yang akan membuatmu menjadi apa yang kamu inginkan.”

“Jangan pernah menangis untuk seseorang yang menyakitimu. Tersenyumlah dan katakan “terima kasih” karena dia telah memberimu kesempatan untuk menemukan seseorang yang lebih baik.”

“Aku akhirnya mengerti bahwa cinta adalah kepedulian atas kebahagiaan orang lain yang jauh lebih berarti daripada kebahagiaanku sendiri.”

“Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, jangan berniat untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.”

“Saling memahami adalah ketika kalian saling menceritakan segala sesuatu tanpa rahasia dan tanpa kebohongan.”

“Cinta sejati itu mirip dengan hantu. Setiap orang membicarakannya namun hanya sedikit yang pernah menyaksikannya.”

“Terkadang dua orang harus berpisah untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan diantara mereka.”

“Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu yang sama, maka pilihlah orang kedua karena jika kamu benar-benar mencintai orang yang pertama, kamu tidak mungkin jatuh cinta pada orang kedua.”

“Aku akan menjadi alasan kenapa kamu tersenyum, menemanimu ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau jatuhkan. Karena aku ada untuk menjadi bagian dari sejarah hidupmu.”

“Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi sahabatmu merupakan pilihan, namun jatuh cinta kepadamu diluar kendali diriku.”

“Cinta itu tidak buta. Hanya saja tidak semua orang yang memiliki mata mampu melihatnya.”

“Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melemparkanmu, bahkan jika ada ratusan alasan untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan.”

“Kecantikan tanpa kecerdasan adalah mahakarya yang dilukis di atas pasir.”

“Sayangnya aku tak mampu membuatmu mencintaiku seperti halnya caraku mencintaimu.”

“Beberapa orang masuk dalam kehidupanmu hanya untuk mengajarkanmu bagaimana menjadi kuat.”

“Kamu hanya akan jatuh (terpuruk) jika berhenti mencoba.”

“Kamu takkan pernah menemukan kedamaian jika terus mengeluhkan kehidupan, karena hidup akan terus berjalan.”

“Tidak ada kata terlambat untuk menjadi apa yang kamu inginkan.”

“Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan tetapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena satu bahkan ribuan alasan.”

“Cinta sejati itu bukan ditemukan melainkan dibangun.”

“Aku seorang pecinta bukan pejuang, tapi aku akan memperjuangkan apa yang aku cintai.”

“Hati yang kuat takkan pernah goyah dengan berbagai tekanan, karena tekad telah mengalahkan segalanya.”

“Mencintai bukan sekedar perasaan. Ia lebih kepada tindakan pengorbanan.”

“Cinta mampu membangun jembatan yang menghubungkan dua jiwa insan yang berbeda.”

“Kala wanita menangis itu bukan berarti ia lemah, justru itu adalah ekspresi kekuatan dirinya.”

“Satu hal yang pasti bahwa cinta mampu menumbuhkan harapan, menimbulkan pengorbanan, dan menembus batas ruang dan waktu.”

“Cinta itu memberi untuk menerima sekaligus memberi untuk menumbuhkan.”

“Cinta datang dengan pengorbanan yang akan memberikan petunjuk siapa diri kita yang sebenarnya.”

“Wanita adalah buah karya terindah Sang Pencipta maka perlakukanlah mereka dengan penuh kelembutan, keimanan, dan cinta.”

“Kecantikan bukanlah untuk dipertontonkan karena ia adalah hadiah yang harus dijaga, harta yang harus di investasikan, dan jiwa yang harus ditanam untuk seorang yang akan menjadi cinta sejati kita.”

“Cinta begitu lembut dan merdu, namun jangan kau gunakan untuk merayu. Karena rayuan hanyalah akan mengosongkan makna kecintaan yang sesungguhnya.”

“Perlakukanlah wanita dengan lemah lembut. Karena besar dan hancurnya bangsa akan diperankan oleh wanita.”

“Kualitas cinta bukan dilihat dari besarnya kasih sayang, melainkan dari besarnya pengorbanan.”

“Cinta bukanlah penuntutan, penguasaan, pemaksaan, dan pengintimidasian. Tak lain itu hanyalah cara manusia mendefinisikannya. Karena cinta adalah perjuangan, pengorbanan, tanggung-jawab, kejujuran, dan keikhlasan.”

“Tak ada yang salah dengan cinta. Karena ia hanyalah sebuah kata dan kita sendirilah yang memaknainya.”

“Kasih sayang adalah keindahan jiwa bukan kecantikan rupa.”

“Jika kita ingin disukai maka akuilah setiap kesalahan tanpa menuntut besarnya kebajikan yang telah kita lakukan.”

“Setiap momen kehidupan akan berakhir dengan kebahagiaan. Jika kebahagiaan itu belum kita rasakan maka belum ada yang namanya kata akhir.”

“Derajat cinta hanya bisa diukur dengan seberapa besar ‘pemberian’ yang kita korbankan.”

“Cinta yang menciptakan peradaban mulia. Melahirkan generasi bercita rasa tinggi, yang tak mau korupsi dan mengintimidasi, bahkan menjadi solusi di zaman ini.”

“Bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Berjuang meningkatkan kualitas diri. Maka lihatlah, kelak akan kau temukan cinta yang berkualitas tinggi.”

“Cinta sejati hanyalah sebuah penyesuaian menuju derajat manusia yang lebih berkelas bukan kelasnya pecundang melainkan kelas para pejuang.”

“Banyak yang akan membencimu, menilaimu, menggoyahkan bahkan menghancurkanmu. Seberapa kuat kau tegar akan membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya.”

‘Yakinilah bahwa cinta bukan hanya sekedar hiasan bibir, atau syair para pujangga. Namun ia menjadi kekuatan yang menggerakkan.’



“Banyak orang yang mengatakan: mencintai wanita itu sangat menyiksa. Tapi, sebenarnya yang sangat menyiksa itu adalah mencintai orang yang tidak mencintaimu.”


“Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Kalau dia berani meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.”


“Cinta yang paling sejati adalah pertama kepada Allah, lalu kepada para Rasul-Nya, kedua orang tua, keluarga, dan semua orang yang ada di dunia ini.”


“Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.”
image