Sesungguhnya Manusia Diwajibkan Untuk Berpikir


image

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bahwasanya manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi anugerah kelebihan untuk berfikir terhadap segala yang ada di alam sebagai wujud dalam kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan tidak satupun kata akal (‘aql) digunakan dalam bentuk kata benda (isim)
Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berkesinambungan tanpa henti, sebab  akal tidak akan memiliki makna kalau tidak digunakan. 
Alat untuk berfikir di dalam al-Qur’an juga disebut sebagai al-qalb, al-fu’ad, al-nuha, al-hijr, al-hilm dan al-lubb. 

Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menyerukan pentingnya proses berfikir bagi setiap manusia. Ayat-ayat ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

1• Ayat-ayat yang menyerukan berfikir dan penggunaan akal sebagai kekuatan alami yang dimiliki manusia. Di antaranya adalah: 

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya(menggunakan akal).” (QS. An-Nahl:12)
Ayat-ayat seperti ini juga dapat di lihat di Surat Al-Baqarah: 164,  Ar-Ra’d: 4,  An-Nahl: 64  dan  Ar-Rum: 24. 

Semua ayat-ayat tersebut di atas diakhiri dengan pernyataan “bagi kaum yang mau menggunakan akal” (li qaumin ya’qilun) sebagai penekanan terhadap sesuatu yang secara alami merupakan suatu keharusan untuk difikirkan dan difahami, yaitu suatu keharusan untuk memikirkan dan memahami semua kejadian yang ada di alam raya ini. 

2• Ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan khusus kepada para Uli al-bab, intellektual, dan mereka yang memiliki kemampuan berfikir secara sempurna. Orang-orang ini disebut dalam al-Qur ‘an sebanyak 16 kali, yang semuanya berirama pujian dan penghormatan, hal ini karena mereka menurut al-Qur’an adalah orang-orang yang memiliki tingkatan yang tinggi di dalam berfikir. Diantara ayat-ayat ini adalah firman Allah yang maksudnya: 

“Maka adakah orang yang mengetahui bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta mata hatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mau memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurna (uli al-bab).” (QS. Ar-Ra’d: 19).

3• Ayat-ayat yang mencela dan menghardik orang-orang yang tidak mau berfikir. Untuk mencela orang-orang yang tidak berfikir dan tidak menggunakan akal, al-Qur’an banyak menggunakan tanda tanya yang bersifat negatif seperti: 
Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran (afala ta’qilun)? 
Apakah kamu tidak berfikir (afala tatafakkarun?) 
Apakah kamu tidak melihat (afala tubsirun)? 
Apakah kamu tidak ingat (afala tadzakkarun)? 
Apakah mereka tidak mendalami (afala tadabbarun)? 

Ayat-ayat yang berkaitan dengan tanda tanya ini, banyak menyuruh manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, jahat dan mulia dan untuk menimbang dan memilih antara kelezatan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Seperti firman Allah yang maksudnya: 

“Jijik perasaanku terhadap kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Maka mengapa kamu tidak mau menggunakan akal fikiran kamu?” (QS. Al-Anbiya’: 67). 

Dalam banyak ayat Allah mensifatkan orang-orang yang tidak berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina daripada binatang, hal ini karena binatang memang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berfikir, sedangkan manusia sudah diberi alat untuk berfikir namun mereka tidak menggunakannya dengan sungguh. 

Kasus ini dapat dilihat dalam firman Allah: 

“Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau memahami sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (QS. Al-Anfâl: 22) ….terdapat juga  didalam Surat al-Furqan: 44.

4• Ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban manusia untuk melihat, meneliti, mengingat, memahami yang semuanya merupakan proses berfikir terhadap semua fenomena  kehidupan dalam berbagai istilah seperti berikut:

Kata-kata yang berasal dari fa-ka-ra yang berarti berfikir terdapat dalam 16 ayat. Semua ayat-ayat ini menyerukan manusia untuk berfikir tentang semua fenomena wujud, baik alam raya maupun diri manusia sendiri: 

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jathiyah: 13). 

Kata ‘berfikir’ dalam ayat ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kalau Allah telah menghamparkan dan menundukkan untuk manusia alam raya ini maka pada saat yang sama manusia tidak boleh bersikap abai dan pasif tapi harus mengambil posisi aktif dan dinamis. Kedinamisan ini diwujudkan dalam bentuk menela’ah, melakukan eksperimen dan  memanfaatkan alam bagi kebaikan kehidupan umat manusia. 

Pengendalian dan pemanfaatan segala apa yang terhampar di alam raya ini harus dengan belajar dan meneliti. Pandangan yang sedemikian ini terhadap objek alam raya, langit dan bumi akan dapat meningkatkan kehidupan material, dan dalam waktu yang sama dapat meningkatkan kehidupan spiritual, seperti apa yang ditegaskan oleh al-Qur’an: 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ” (QS. Al-Fushshilat: 53).

Kata-kata yang berasal dari na-dla-ra yang maknanya melihat terdapat dalam 129 ayat, ada yang bermakna melihat dengan mata secara biasa, tapi secara umum memberi makna melihat dengan akal fikiran, seperti: 

“(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memperhatikan (memikirkan): dari apakah ia diciptakan.” (QS. At-Thaariq: 5). Ayat yang sama juga terdapat  di Surat ‘Abasa: 24,  Al-A’raf: 185.

Kata-kata yang berasal dari ba-sha-ra yang secara bahasa bermakna melihat dengan mata, maksudnya meneliti dan menggunakan akal secara rasional terhadap semua fenomena kehidupan yang tampak secara empiris [nyata] di depan mata. 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasehat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179) 
Ayat yang sama juga terdapat di surat Al-Dzariyat: 21, Al-Sajdah: 28.

Kata-kata yang berasal dari dab-ba-ra yang secara bahasa bermakna memahami, terdapat dalam 4 ayat yang semuanya berkaitan dengan pemahaman terhadap al-Quran, yang memberi perintah terhadap kita untuk memahami dengan teliti dan memikirkan rahasia-rahasia dan keajaiban yang terkandung didalamnya, seperti: 

“(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka yang memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal(berfikir).” (QS. Shaad: 29). Ayat yang lainnya terdapat dalam Surat An-Nisa’: 82,  Al-Mu’minun: 68 dan  Surat Muhammad: 24.

Kata-kata fa-qi-ha di dalam al-Qur’an bermakna mendalami, dan fa-qi-ha termasuk proses berfikir yang tinggi. Akar kata fa-qi-ha terdapat dalam 20 ayat, dan diantaranya adalah: 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengambil iktibar/pelajaran baik dari peristiwa sejarah dan pengalaman kehidupan manusia maupun dari peristiwa alam: 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111). Ayat-ayat yang lain terdapat dalam Surah al-Hashr: 2, Ali-‘Imran: 13, dan  An-Nur: 43-44.

Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengingat (tadzakkur). Dalam psykologi, mengingat adalah juga merupakan proses yang penting, dan karena itulah al-Qur’an banyak mengkaitkan proses ini dengan para ulil albab (intellektual), seperti firman Allah yang maksudnya: 

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Al-Qur’an memberikan contoh metode berfikir secara ilmiah dan methodologis. 

Diantaranya adalah sebagai berikut:

1· Metode Sejarah:
Terhadap sejarah, sebagai salah satu sumber pengetahuan manusia, al-Qur’an telah menjabarkan secara serius dengan membicarakan kembali keadaan dan pengalaman umat manusia di masa lalu, dan menyuruh setiap manusia untuk melihat dan menemukan hukum-hukum (sunnatullah) yang terdapat di dalam setiap peristiwa dan perubahan sejarah manusia: 

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali-Imran: 137). 

Demikian juga Al-Qur’an telah memperingatkan pentingnya memastikan secara kritis dan objektif terhadap kebenaran setiap berita dan data-data sejarah: 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6). 

Dan Al-Qur’an telah meletakkan dasar yang paling utama dalam kritik sejarah, dimana ia telah meletakkan etika penyampaian berita sebagai faktor yang paling dominan untuk menilai kandungan sebuah berita. Orang-orang Islam telah menerapkan prinsip ini dalam periwayatan hadits Nabi. 

Prinsip kritik yang telah diterapkan oleh para perawi hadits inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam metode penelitian sejarah.

2· Metode Silogisme:
Metode ini termasuk cabang ilmu mantik (logika Aristoteles), yaitu metode berfikir untuk menetapkan keyakinan dalam keputusan atau hasil dari dua mukadimah.(Premis dan Silogis) 
Metode ini diisyaratkan oleh al-Qur’an dalam kisah Iblis ketika menolak untuk bersujud kepada Adam:

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”
Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shaad: 75-76). 

Dalam peristiwa ini Iblis membuat silogisme sebagai berikut: Saya (Iblis) diciptakan daripada api, sedangkan Adam diciptakan daripada tanah (premis I). 
Api lebih baik daripada tanah (premis II), maka saya (Iblis) lebih baik daripada Adam (keputusan) . 
Karena silogisme ini Iblis menolak untuk bersujud pada Adam. Dalam silogisme, untuk mendapatkan keputusan yang benar premis pertama dan kedua harus betul dan ilmiah. 
Struktur silogisme yang digunakan Iblis ini memang betul tetapi tidak ilmiah, karena premis yang dia bangun bersifat subjektif dan masih dapat ditolak. 
Bagi Iblis api lebih baik daripada tanah, tapi bagi manusia tanah lebih baik dan lebih bermanfaat daripada api, dan dengan demikian dalam perspektif manusia Adam lebih baik daripada Iblis.

3· Metode Qiyas (analogical deducation):
Metode ini digunakan dalam Ushul Fiqh. Ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan metode ini adalah: 

“…maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Hashyr: 2). 

Dalam ayat ini Allah menceritakan apa yang telah terjadi pada Bani Nadhir, dimana mereka ditimpa azab yang pedih di dunia akibat dari kekafiran, pelanggaran perjanjian dan tipu muslihat mereka kepada Rasul dan Kaum Mukmin. Kemudian Allah memberi pernyataan: “..Maka ambilah iktibar/pelajaran wahai orang-orang yang berakal.” 

Maknanya wahai orang-orang yang berakal ambilah iktibar terhadap apa yang menimpa mereka dan sebab-sebab mengapa mereka ditimpa bencana tersebut, kemudian berusahalah untuk tidak melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, sehingga kamu tidak ditimpa bencana seperti mereka, kamu semua adalah manusia-manusia seperti mereka, dan apa yang terjadi pada mereka bisa juga terjadi pada kamu sekalian jika terdapat alasan/sebab (‘illah) yang sama. 

Qiyas dalam Ushul Fiqh berbeda dengan Silogisme. Dalam Usul Fiqh, Qiyas tidak harus memiliki dua premis seperti dalam Silogisme, sebagai contoh praktikal, Rasulullah menentukan: 
Seorang pembunuh tidak boleh menerima warisan dari orang yang dia bunuh. Secara analogi seorang pembunuh juga tidak boleh menerima bagian wasiat dari orang yang dia bunuh. Atau contoh lain: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra’: 23).
Secara analogi seseorang benar-benar dilarang untuk memarahi apalagi memukul kedua orang tuanya.

4· Metode Induksi:
Induksi adalah metode berfikir untuk mendapatkan kesimpulan dan hukum tertentu dari hal atau fenomena yang umum. Metode ini adalah metode empirik yang menekankan pada penelitian secara mendalam dan terus-menerus terhadap suatu objek untuk mendapatkan kaedah-kaedah atau hukum-hukum tertentu.
Dalam al-Qur’an proses ini diawali dengan penelitian terhadap bagian-bagian dari alam raya ini, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam tentang hubungan dan pengaruh suatu objek terhadap objek yang lain.

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101).

“Tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit bagaimana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20).

“Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (yaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halaukan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan.” (QS. Al-A’raf: 57).

Dan proses-proses inilah kemudian manusia dapat menyingkap kaidah-kaidah, hukum-hukum dan teori-teori tertentu tentang alam.

5· Metode Perbandingan:
Al-Qur’an banyak menggunakan metode ini, dengan maksud membandingkan antara hak dan batil, baik dan buruk, cahaya dan kegelapan, dan antara Tuhan yang patut disembah dan yang tidak :

“Adakah Allah yang menciptakan semuanya itu sama seperti makhluk-makhluk yang tidak menciptakan sesuatu?” (QS. An-Nahl: 17)

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?.” Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ar-Ra’d: 16).