Soal Tafsir Al Maidah 51, Cak Nun: Kita ini Gabah den Interi, yang Sesat Mungkin Semuanya


image

Hampir dalam setiap kesempatan bersama Jamaah Maiyah (JM), dengan tegas dinyatakan bahwa Cak Nun tidak pernah mau ‘usil’ untuk ikut campur atas setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia. Posisi Cak Nun tak lebih dari pihak yang ditanyai atau diwawancarai tentang sejumlah hal aktual Indonesia, sebatas bertujuan untuk pembekalan ilmu bagi Jamaah Maiyah semata.

Begitupun ketika ditanya tentang apa yang disampaikan Nusron Wahid saat hadir di acara ILC episode “Sesudah Ahok Minta Maaf” dan menjadi perbincangan serius di tengah publik, Cak Nun menyatakan bahwa dia yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron.

Menurutnya, apapun yang diucapkan Nusron, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.

Lebih lanjut disebutkannya, inilah bagian yang tidak bisa kita tolak dari dialektika dan romantika proses berdemokrasi. Perjuangan untuk mencapai transparansi dalam berdemokrasi sangat kita puji, tetapi yang bisa dicapai hanyalah sebatas maksimalisasi transparansi.

Sayangnya, sebut Cak Nun, secara alamiah kehidupan ini terdiri atas ketidak-seimbangan yang sangat timpang dan curam, ketika faktor yang tersembunyi jauh lebih banyak dibanding yang transparan. Seperti kata pepatah: Musuh utama manusia adalah ketidaktahuan, musuh yang paling menakutkan dalam peperangan adalah pasukan siluman.

Itulah sebabnya semua pihak mesti pandai-pandai menahan diri, tahu diri, dan belajar bijak dalam menyikapi beragam persoalan, terutama hal-hal yang dimungkinkan menyulut kontroversi.

Untuk menggali lebih jauh pandangan Cak Nun, berikut petikan wawancara terkait pandangan pribadinya perihal tafsir Al Maidah 51:

» Apa pendapat Cak Nun sendiri tentang ayat 51 Surah Al-Maidah?

• Pertama, tafsir dan pemahaman itu dinamis sejalan dengan proses pendewasaan dan pematangan manusinya.

• Kedua, kalau Allah yang menginformasikan, saya langsung percaya dan mematuhinya tanpa menawar-nawar. Kalau ada yang belum saya pahami, yang saya salahkan adalah kebelum-matangan saya. Serta yakin ada rahasia Allah yang suatu hari kita semoga dihidayahi untuk mengetahuinya.

• Ketiga, mungkin nilai keyahudian, kenasranian dan keislaman memproduksi suatu entitas atau satuan atau kekentalan nilai sedemikian rupa pada pemeluknya. Menjadi bersifat seperti kimia. Maka setiap formulasi hubungan antar manusia, termasuk dalam bernegara dan berpolitik — harus memperhatikan sifat-sifat, logika-logika atau hukum-hukum persenyawaan kimiawinya. Dan karena kasus formula persenyawaan pada komunitas manusia bisa berbeda-beda kadarnya, maka kimia DKI Jakarta bisa saja berbeda dengan kimia Papua atau Kalteng.

DKI Jakarta sedang memproses probabilitas-probabilitas kimiawinya. Perlu dipastikan bahwa hasilnya bukan racun yang merusak. Ibarat makanan, belum pernah terjadi sebanyak itu orang-orang muntah-muntah karena keracunan sebagaimana di DKI. Tentu yang kita tolong adalah orang-orang yang keracunan, bukan membela makanan beracun untuk terus disuguhkan.

» Bagaimana dengan pernyataan bahwa hanya Allah yang mengerti Al-Qur’an?

Allah bukan temannya setan. Artinya tidak mungkin melakukan sesuatu yang mubadzir. Kalau firman Allah tidak untuk dipahami oleh manusia, untuk apa Allah mewahyukannya? Allah simpan sendiri saja di Lauhil Mahfudh dan dibaca-baca sendiri? Kalau manusia yang ahsanu taqwim saja tidak mungkin mengerti Al-Qur’an, apalagi Malaikat atau Jin.

» Jadi tegasnya, Al-Qur’an diturunkan tidak untuk dimengerti oleh Allah sendiri?

Kan kata pertama: “Bacalah“. Artinya Allah sudah membekali manusia untuk punya kemampuan membaca. Bahwa ada tingkat membaca, tahu, paham, mengerti, bisa, mau, ikhlas dst — itu soal eskalasi kualitas. Dan di situ letak asyiknya kehidupan manusia.

» Apakah Cak Nun punya pesan khusus tentang Pilkada DKI Jakarta serta daerah-daerah lainnya?

Banyak sekali, tapi saya ambil satu saja. Di Al-Fatihah, Tuhan menyebut manusia dengan tiga kategori: 1• Yang diberi kenikmatan 2• Yang dimurkai  3• Yang sesat.

Mungkin kita sedang dipilah oleh proses zaman. Kata orang Jawa “gabah den interi“. Dan cara kita memahami harus dinamis. Yang diberi kenikmatan belum tentu yang sedang menguasai modal dan kekuasaan politik. Yang dimurkai belum tentu bukan saya dan kamu. Yang sesat mungkin semuanya. Sangat dinamis dan sangat lebar cakrawala kemungkinannya. Maka mental “lita’arafu” harus menjadi modal utama. Kalau ada yang curang, menikam dari belakang, memperdaya diam-diam, wajahnya bertopeng dst — mohon jangan mentang-mentang menguasai modal dan pegang lis kuda politik lantas merasa benar-benar berkuasa, sejajar dengan Tuhan.

Sampai di ranah itu, memang hanya Allah yang mengerti. Serta Ahok dan Nusron tentunya.

Kita kembali ke rumus dasar kehidupan menurut Allah: “Apa yang kau benci mungkin itu baik bagimu, dan apa yang kau cintai mungkin itu buruk bagimu“. Ayat ini “bergetar”, tidak berhenti di salah satu kutub. Sebagus apapun demokrasi sebagai nilai, tapi kalau dipakai untuk alat penguasaan dan penjajahan, batal kebaikannya. Lebih celaka dan bencana lagi ketika Demokrasi dipertentangkan atau dipolarisasikan dengan Islam secara kuantitatif, dan tidak mencari puzzling-nya, peluang harmoni dan kerjasama parsial maupun komprehensifnya dengan metoda “lita’arufu”. Orang Demokrasi secara ilmu boleh menemukan Islam sebagai bagian dari Demokrasi, sebagaimana orang Islam berhak menemukan Demokrasi sebagai bagian dari Islam pada konteks tertentu yang terukur.

 

[EH / Islam Indonesia]

Iklan