Kenapa Setelah Menikah Istri Terlihat Kalah Cantik Dibanding Wanita Lain ? Ini Penjelasannya


image


Seorang suami mengadukan apa yang ia rasakan kepada seorang Syekh. Dia berkata:

“Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik darinya di dunia ini.
Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak perempuan seperti dia.
Ketika aku sudah menikahinya aku lihat banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari dirinya.
Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari pada istriku.”

Syekh berkata:  ﺃﻓﺄﺧﺒﺮﻙ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﺃﺩﻫﻰ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﻣﺮّ!؟

“Apakah engkau tahu, ada yang jauh lebih parah daripada yang engkau alami saat ini!?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau.”

Syekh: “Sekalipun engkau mengawini seluruh perempuan yang ada di dunia ini, pasti anjing-anjing yang berkeliaran di jalanan itu lebih cantik dalam pandanganmu dari pada wanita manapun.”

Laki-laki penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar: “Kenapa tuan Syekh berkata demikian?”

Syekh itu melanjutkan: ليس الأمر في عرسك ، وإنما هو في قلبك الطامع وبصرك الزائغ ، ولا يملأ عين ابن آدم الا التراب

“Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah kuburan.”

Rasulullah bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَانِيًا، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa yang mau bertaubat.”

Lalu Syekh itu bertanya: “Apakah engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?”

“Iya Syekh,” jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu.

Syekh: فاغضض ﺑﺼﺮﻙ ، فإن من ارتضى بحلاله رزق الكمال فيه

“Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram… Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut.”


© [fiqhmenjawab.net]


Semoga bermanfaat.


Iklan

MENCARI MAKHLUK PALING HINA


image
`MENCARI MAKHLUK PALING HINA`

DI sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar. Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.

Sebelum Santri tersebut pulang, Kyai memberinya satu ujian untuk membuktikan bahwa si Santri benar-benar sudah matang ilmunya dan siap menghadapi kehidupan diluar Pesantren.

Pak Kyai kemudian berkata pada santri itu: “Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu,“ ujar sang Kyai.

“Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini aku bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya,” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seorang ataupun makhluk paling hina itu ke hadapannya.

Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat: ”Hem, ujian yang sangat gampang!” kata si Santri

Hari itu juga, si Santri berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Di tengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang, dalam hatinya dia berkata:

“Ahay.. pasti dia orang yang lebih buruk daripadaku, setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Dalam perjalanan pulang si Santri kembali berpikir: “Sepertinya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk daripada aku, sekarang dia mabuk-mabukan tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa khusnul Khotimah, sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku, Allah justru menghendaki Suúl Khotimah, bagaimana? “Huuh… berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dari aku,” ujarnya bimbang.

Santri itu kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan,” teriak santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Pesantren, Namun ditengah perjalanan, tiba-tiba dia kembali berpikir: “Anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dari aku?” Oh tidak, kalau anjing ini mati, maka dia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka.

Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Hari semakin sore, Santri itu masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Pesantren dan menemui sang Kyai.

“Bagaimana Anakku, apakah kamu sudah menemukannya?” tanya sang Kyai.

“Sudah, Kyai,” jawabnya seraya tertunduk. “Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,” ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang Murid, kyai tersenyum lega: “Alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,” ujar Kyai terharu.

Kemudian Kyai berkata: “Selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia daripada orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakan-Nya.”


Kisah: Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis


Waktu Nabi Sulaiman As berkuasa ada seorang Ratu yang bernama Ratu Balqis. Ratu Balqis dari Kerajaan negeri Saba’ Ratu Balqis dan rakyatnya adalah penyembah matahari. Mengetahui akan hal itu, Nabi Sulaiman mengirim surat kepada Ratu Balqis dan surat itu dibawa oleh burung Hud-hud.

Burung Hud-hud melaksanakan perintah Nabi Sulaiman. Ia pergi ke negeri Saba’ untuk menyampaikan surat kepada Ratu Balqis. Ketika sampai di istana Ratu Balqis, burung Hud-hud langsung melemparkan surat itu tepat di hadapan Ratu Balqis. Ratu Balqis dan para pengawalnya tidak mengetahui siapa yang melemparkan surat itu. Dengan hati-hati, Ratu Balqis membuka dan membaca surat itu. Isi surat itu ialah Nabi Sulaiman mengajak kepada Ratu Balqis dan rakyatnya untuk menyembah kepada Allah.

image

Kisah ini di ceritakan dalam Al-Quran Surat An-Naml ayat 29-31 : “Berkata ia (Balqis); “Hai pembesar-pembesar, sesunnguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Setelah membaca surat itu, Ratu Balqis mengumpulkan para pembesar untuk membahas ajakan Nabi Sulaiman. Para pembesar cenderung menolak ajakan Nabi Sulaiman. Mereka berkata: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat hebat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah hal-hal yang akan kamu perintahkan.”

Ternyata, Ratu Balqis tidak memilih jalan peperangan. Ia beranggapan bahwa Nabi Sulaiman mungkin iri dengan kekayaan yang dimiliki negerinya sehingga ia ingin menyerang negeri Saba’. Oleh karena itu, Ratu Balqis memutuskan untuk mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman. Ratu Balqis lebih memilih cara tersebut dan menunggu reaksi Nabi Sulaiman. Para pembesar pun menyetujui keputusan Ratu Balqis. Hadiah itu berupa kepingan emas dan permata yang dibungkus dengan kain sutera. Utusan Ratu Balqis pun pergi dengan membawa hadiah kepada Nabi Sulaiman.

Kedatangan Utusan Ratu Balqis

Para utusan Ratu Balqis pergi menuju ke istana Nabi Sulaiman. Mereka datang dengan membawa hadiah untuk Nabi Sulaiman.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, utusan Ratu Balqis sampai di istana Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman menerima utusan Ratu Balqis dengan baik. Namun, ia tidak mau menerima hadiah tersebut. Para utusan Ratu Balqis sangat takjub dengan keindahan istana Nabi Sulaiman. Mereka juga keheranan dengan pasukan Nabi Sulaiman karena di antara barisan pasukan perang itu terdapat hewan dan jin. Mereka menyadari betapa kecilnya hadiah yang mereka bawa dibandingkan kekayaan yang dimiliki kerajaan Nabi Sulaiman.

Selanjutnya Nabi Sulaiman berkata: “Apakah pantas kamu menolong aku dengan harta, sedangkan Allah memberiku sesuatu yang lebih baik dari pada yang diberikan kepada negerimu ? Namun, kalian merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah ke negeri kalian. Sungguh kami akan mendatangi negeri kalian dengan bala tentara yang tidak dapat kalian lawan dan pasti kami akan mengusir kalian dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan kalian menjadi tawanan-tawanan yang hina dina.” Nabi Sulaiman menyampaikan pesan agar Ratu Balqis dan rakyatnya untuk menyembah Allah semata.

Selanjutnya, para utusan Ratu Balqis pulang ke negerinya. Mereka kembali ke negeri Saba’ dengan membawa pesan dari Nabi Sulaiman.

Singgasana Ratu Balqis

Ketika tiba di istana Ratu Balqis, para utusan tersebut menyampaikan amanat Nabi Sulaiman. Mereka menceritakan kekuatan kerajaan Nabi Sulaiman. Kemudian, Ratu Balqis mengambil keputusan untuk melihat sendiri kerajaan Nabi Sulaiman. Ratu Balqis dan pembesar kerajaan bersiap diri untuk berangkat menuju istana Nabi Sulaiman.

Sementara itu, Nabi Sulaiman yang telah mendapat informasi bahwa Ratu Balqis dan beberapa pengikutnya telah bergerak menuju istananya dalam keadaan takut. Ketika itu, Nabi Sulaiman brada di dalam istana bersama dengan para pembesar kerajaannya. Beberapa saat Nabi Sulaiman berpikir tentang cara menunjukkan kekuasaan Allah kepada Ratu Balqis. Nabi Sulaiman teringat dengan singgasana Ratu Balqis yang sangat dikagumi oleh rakyat negeri Saba’. Singgasana Ratu Balqis memang sangat indah karena ditaburi emas dan batu permata.

Kemudian, Nabi Sulaiman berkata kepada para pembesar itu: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml : 38). Yang pertama menjawab pertanyaan Nabi Sulaiman adalah Ifrit dari kalangan jin yang telah ditundukkan oleh Allah kepada Nabi Sulaiman. Jin Ifrit yang cerdik berkata: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya.”

Setelah beberapa waktu, singgasana tersebut belum ada di hadapan Nabi Sulaiman. Jarak antara istana Nabi Sulaiman dan istana Ratu Balqis adalah ratusan kilometer. Istana Ratu Balqis berada di wilayah Yaman, sedangkan istana Nabi Sulaiman berada di wilayah Palestina. Nabi Sulaiman hanya menunggu saja.

Kemudian, ada seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab berkata: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya. Ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya Lagi Maha Mulia.”

Kisah ini diterangkan dalam Al-Quran surat An-Naml ayat 40. Al Quran tidak mengungkap identitas seseorang yang menghadirkan singgasana itu. Al quran hanya menjelaskan bahwa orang itu mempunyai ilmu dari Al-Kitab. Al quran tidak menjelaskan kepada kita, apakah ia seorang malaikat atau manusia atau jin. Begitu juga Al quran tidak menyatakan kitab yang dimaksud. Yang pasti mukjizat ini menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Bagaimana reaksi Nabi Sulaiman saat melihat singgasana Ratu Balqis berada di depannya ? Apakah ia merasa kagum dengan kemampuannya atau merasa dirinya hebat ? Ternyata, ia tidak merasa demikian. Ia mengagungkan nama Allah dan bersyukur kepada-Nya. —Sudahkah kita ‘pembaca’ berlaku demikian ?–

Setelah singgasana dihadirkan, Nabi Sulaiman memerintahkan agar mengubah singgasana Ratu Balqis. “Dia (Sulaiman) berkata: “Ubahlah singgasananya, maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya.” (QS. An-Naml : 41).

Kedatangan Ratu Balqis

Setelah melakukan perjalanan berhari-hari, Ratu Balqis dan pengikutnya sampai di istana Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman menyambut mereka.

Al quran surat An-Naml ayat 42 mengisahkan dialog antara Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis: “Dan ketika Balqis datang, dinyatakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu ?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Yang dimaksud pengetahuan sebelumnya adalah pengetahuan tentang kenabian Sulaiman As. Balqis telah mengetahui kenabian Sulaiman itu, sebelum dipindahkan singgasananya dari negeri Saba’ ke Palestina dalam sekejap mata.

Ketika itu, Ratu Balqis tercengang melihat singgasananya berada di sana. Namun, sejenak ia menjadi ragu karena ia yakin singgasananya berada di istananya. Ia juga berpikir: “Bagaimana singgasana itu sampai sebelum dirinya ?” Ia pun menjadi ragu, beberapa bagian singgasana itu telah diubah. Setelah mengalami kebingungan sesaat Ratu Balqis menjawab: “Sepertinya benar.” Nabi Sulaiman berkata: “Ini adalah singgasanamu. Aku telah memindahkan singgasanamu ke sini. Allah telah memberi pengetahuan kepadaku dan aku adalah orang yang berserah diri kepada Allah.” Ratu Balqis pun yakin bahwa itu adalah singgasananya.

Nabi Sulaiman mempersilahkan Ratu Balqis masuk ke istana. Ketika masuk, Ratu Balqis menyingkapkan kainnya hingga kedua betisnya terlihat. Ia mengira lantai istana penuh dengan air. Nabi Sulaiman berkata: “Ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca tipis dan licin.” Ratu Balqis tersipu malu.

Ratu Balqis sangat kagum dengan pengetahuan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman. Ia tidak menyangka bahwa semua itu disebabkan oleh keimanan Nabi Sulaiman kepada Allah Swt.

Ratu Balqis Beriman Kepada Allah Swt

Ratu Balqis mengagumi ilmu yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman. Ia sama sekali tidak menyangka semua itu karena keimanan Nabi Sulaiman kepada Allah. Pada saat itulah, keyakinan Ratu Balqis mulai goyah. Ia menyadari kesalahannya selama ini karena telah menyembah matahari, padahal matahari adalah ciptaan Allah.

“Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegah (untuk melahirkan keislamanannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. An-Naml : 43)

Kemudian, Ratu Balqis menyatakan keislamanannya. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Allah telah mengaruniakan ilmu dan kelebihan yang amat banyak kepada Nabi Sulaiman. Namun, kelebihannya itu tidak membuat Nabi Sulaiman lupa diri (tidak sombong). Ia menggunakannya untuk berdakwah menyeru kaumnya untuk menyembah Allah semata. Dan salah satunya juga adalah dengan menyadarkan Ratu Balqis dari kesesatannya. Nabi Sulaiman berhasil mengajak Ratu Balqis untuk menyembah Allah Swt. Akhirnya, Nabi Sulaiman memperistri Ratu Balqis dan mereka hidup bahagia selamanya.

Demikian kisahnya, semoga bermanfa’t.

KISAH 5 PERKARA ANEH


image

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fikih yang masyhur. Suatu ketika dia pernah berkata: Ayahku menceritakan bahwa ada di antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi, didalam mimpinya ia diperintahkan  yang berbunyi: “Besok engkau harus keluar dari rumah pada waktu pagi mengarah ke barat. Engkau harus berbuat, Pertama: Apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah. Kedua: Engkau sembunyikan. Ketiga: Engkau terimalah. Keempat: Engkau jangan putuskan harapan. Dan yang Kelima: Larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke arah barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata: “Aku diperintahkan memakan yang pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika langkahnya semakin mendekat, tiba-tiba bukit itu mengecil sehingga menjadi seukuran sebuah roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan rasanya sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan pesan dalam mimpinya yang kedua yaitu supaya disembunyikan, lantas Nabi itu menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba saja mangkuk emas itu keluar lagi. Nabi itu pun menanamnya kembali sampai tiga kali berturut-turut.

Maka berkatalah Nabi itu: “Aku telah melaksanakan perintah-Mu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya, tanpa disadari oleh Nabi itu mangkuk emas itu keluar lagi seperti semula dari tempat ia tanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengar burung kecil itu berkata: “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”

Mendengar ratapan burung itu, Nabi teringat pesan dalam mimpinya yang ketiga yaitu terimalah (tolonglah), hatinya merasa kasihan lalu dia pun mengambil burung itu dan memasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan seperti itu, lantas burung elang pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata: “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh sebab itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Mendengar kata seperti itu, Nabi teringat pesan dalam mimpinya yang keempat, yaitu engkau jangan putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging, elang itu pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Setelah kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari tempat itu karena tidak tahan menghirup bau busuk yang menyengat hidungnya. Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, dan Nabi pun berdo’a. Dalam do’anya dia berkata: “Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahukan di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku apa artinya semua ini.”

Didalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah SWT, bahwa:
Pertama: Yang engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bisa bersabar dan bisa mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua: Semua amal kebaikan, walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak juga.
Ketiga: Jika sudah menerima amanah dari seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat: Jika seseorang meminta bantuan kepadamu, maka usahakanlah bantuanmu untuknya, meskipun kamu sendiri mempunyai hajat (kepentingan).
Kelima: Bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan aib seseorang / menggunjing). Maka larilah kamu dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat gibah.

Saudara-saudariku, kelima kisah ini hendaklah kita tanamkan didalam diri kita, sebab kelima perkara ini senantiasa saja berlaku didalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang sangat sulit untuk kita elakkan disetiap harinya ialah memperbincangkan keburukan orang lain, memang menjadi tabiat seseorang itu suka memperbincangkan perihal aib orang lain. Haruslah kita ingat bahwa menggunjing seseorang itu hanya akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadits menceritakan di akhirat kelak ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dia kerjakan. Lalu dia bertanya: “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Engkau berikan ini tidak pernah aku kerjakan semasa aku masih hidup di dunia dulu.”

Maka Allah SWT berfirman: “Ini adalah pahala orang yang telah menghina (menggibah) tentang dirimu.” Dengan ini harusnya kita sadar bahwa menceritan perihal keburukan orang lain walau apa yang kita katakan itu memang benar adanya, tetapi menceritan aib orang lain itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak menceritakan perihal aib orang lain, walaupun apa yang kita katakan itu memang benar adanya. 🙏 🙇

Seorang Raja Di Surga


image
~Kisah Sahabat Nabi~

Di dalam suatu majelis pengajaran, tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda: “Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang bersembahyang bersama kamu!!”

Abu Hurairah, yang meriwayatkan hadits ini, berkata dalam hati: “Aku berharap, akulah yang ditunjuk oleh beliau….!”

Waktu subuh esok harinya, Abu Hurairah shalat di belakang beliau. Ia tetap tinggal di tempatnya ketika beberapa orang pamit untuk pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba/budak hitam berpakaian compang-camping datang mendekat dan menjabat tangan Rasulullah SAW, ia berkata: “Ya Nabiyallah, do’akanlah aku semoga aku mati syahid!!”

Rasulullah SAW memenuhi permintaan orang tersebut. Sementara beliau berdo’a, tercium bau kesturi dari tubuhnya yang kelihatan kumuh dan kotor. Setelah orang itu berlalu, Abu Hurairah bertanya: “Apakah orang tersebut, Ya Rasulullah?”

“Benar,” Kata Nabi SAW: ”Ia hamba sahaya dari Bani Fulan…“

“Mengapa tidak engkau beli dan engkau merdekakan, Ya Rasulullah?” Kata Abu Hurairah.

“Bagaimana aku akan berbuat seperti itu, kalau karena keadaannya tersebut, Allah akan menjadikannya seorang raja di surga.”

Beberapa saat kemudian, beliau bersabda lagi: “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka, dan dia ini salah satu raja dan orang terkemuka tersebut. Ya Abu Hurairah, sesungguhnya Allah amat kasih kepada orang yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambutnya, yang kempis perutnya kecuali dari hasil yang halal. Mereka ini, bila masuk menghadap penguasa tidak akan diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak akan diterima, bila tidak ada ia tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila mati tidak dihadiri jenazahnya.”

Salah seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada kami salah seorang dari mereka (selain budak hitam tadi)!”

”Uwais al Qarny,“ Kata Nabi SAW: “Seseorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya dan selalu menundukkan kepalanya sambil membaca al Qur’an. Tidak terkenal di bumi, tetapi Sangat Terkenal di Langit. Jika ia bersungguh-sungguh meminta kepada Allah, pasti dikabulkan. Di bawah bahu kirinya ada bekas belang sedikit… Wahai Umar dan Ali, jika kamu bertemu dengannya, mintalah agar ia membacakan istighfar untukmu…!”

Dalam riwayat lainnya, beliau berpesan kepada Umar dan Ali, agar Uwais membacakan istrighfar untuk umat beliau.

Kisah: Mu’adz Bin Jabal Ra


image
· Kisah Sahabat Nabi ·

Mu’adz bin Jabal termasuk sahabat Anshar pada periode awal, ia telah memeluk Islam pada Ba’iat Aqabah ke dua, sehingga ia termasuk dari golongan as sabiqunal awwalun. Saat itu ia masih sangat muda, tetapi justru kemudaannya tersebut yang membuat ia lebih mudah dan lebih banyak menyerap ilmu-ilmu keislaman.

Ia termasuk sahabat yang berani mengemukakan buah pikirannya, seperti halnya Umar bin Khathab, namun demikian ia tetap seorang yang rendah hati. Ia tidak pernah begitu saja mengemukakan pendapat atau pemikirannya (ijtihadnya) kecuali jika diminta atau diberi waktu mengemukakannya. Karena begitu luas dan mendalamnya pengetahuan yang dimilikinya, terutama menyangkut hukum-hukum Islam (Ilmu Fikih), Nabi SAW pernah bersabda tentang dirinya: “Ummatku yang paling tahu akan halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal…”

Atas dasar sabda Nabi SAW inilah banyak sahabat-sahabat yang menjadikan Mu’adz sebagai rujukan jika ada permasalahan menyangkut hukum-hukum Islam (Fikih). Bahkan Umar bin Khathab, yang diakui kecerdasannya oleh Nabi SAW, pada saat menjadi khalifah banyak meminta pendapat dan buah fikiran Mu’adz dalam memutuskan suatu permasalahan. Sampai akhirnya Umar berkata: ”Kalau tidaklah karena Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar…“

Ketika Nabi SAW akan mengirimnya ke Yaman untuk membimbing dan mengajarkan seluk-beluk keislaman kepada penduduk di sana, beliau bertanya kepada Mu’adz: “Apa yang menjadi pedoman bagimu untuk mengadili dan memecahkan suatu masalah, ya Mu’adz?”

“Kitabulah, ya Rasulullah!” Jawab Mu’adz.

“Jika tidak engkau temukan dalam Al Qur’an?”

“Akan saya cari pemecahannya berdasarkan sunnah-sunnahmu, Ya Rasulullah!!”

“Jika tidak engkau dapatkan juga??”

“Saya akan menggunakan fikiran saya untuk berijtihad, dan saya tidak akan berlaku sia-sia (dholim, tidak untuk kepentingan pribadi dan duniawiah)…”

Bersinarlah wajah Rasulullah SAW pertanda bahwa beliau puas dan senang dengan penjelasan Mu’adz, kemudian beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah, sebagaimana yang diridhai Rasulullah…”

Suatu malam Mu’adz bermaksud menemui Rasulullah SAW, tetapi ternyata beliau sedang mengendarai unta, entah hendak pergi kemana?? Melihat kedatangannya, beliau meminta Mu’adz untuk naik ke belakang beliau, berboncengan berdua, unta pun melanjutkan perjalanan. Beliau memandang ke langit, setelah menyanjung dan memuji Allah SWT, beliau bersabda kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, aku akan menceritakan suatu kisah kepadamu, jika engkau menghafalnya akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika engkau meremehkannya, engkau tidak akan punya hujjah (argumentasi) di hadapan Allah kelak.”

Nabi SAW menceritakan, bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Setelah bumi dan langit tercipta, Allah menempatkan tujuh malaikat tersebut pada pintu-pintu langit, menurut derajat dan keagungannya masing-masing. Allah juga menciptakan malaikat yang mencatat dan membawa amal kebaikan seorang hamba ke langit, menuju ke hadirat Allah, yang disebut dengan malaikat hafadzah.

Suatu ketika malaikat hafadzah membawa ke langit, amalan seorang hamba yang berkilau seperti cahaya matahari. Ketika sampai di langit pertama, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit pertama itu berkata: “Tamparkan amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah penjaga (penyeleksi) orang-orang yang suka mengumpat (Ghibah, jawa: ngerasani). Aku ditugaskan untuk menolak amalan orang yang suka ghibah. Allah tidak mengijinkannya melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat banyak dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah. Ketika sampai di langit kedua, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke dua itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, sebab ia beramal dengan mengharap duniawiah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan seperti ini dan melarangnya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat memuaskannya, penuh dengan sedekah, puasa dan berbagai kebaikan lainnya, yang dianggapnya sangat mulia dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama dan kedua karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah dan tidak mengharapkan balasan duniawiah.

Ketika sampai di langit ke tiga, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tiga itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga kibr (kesombongan), Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka sombong (bermegah-megahan) dalam majelis. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Saat yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar seperti bintang kejora, bergemuruh penuh dengan tasbih, puasa, shalat, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama, ke dua dan ke tiga karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah dan juga tidak sombong.

Ketika sampai di langit ke empat, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke empat itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat ujub. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang disertai ujub. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat mulia, terdiri dari jihad, haji, umrah dan berbagai kebaikan lainnya sehingga sangat cemerlang seperti matahari. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke empat, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong dan juga tidak ujub dalam beramal.

Ketika sampai di langit ke lima, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke lima itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat hasud (iri dengki). Meskipun amalannya sangat baik, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Itu artinya ia membenci Allah yang memberikan kenikmatan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat sempurna dari wudhu, shalat, puasa, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke lima, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, dan juga tidak suka hasud pada orang lain.

Ketika sampai di langit ke enam, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke enam itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga sifat rahmah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan jika ada orang yang ditimpa musibah, ia merasa senang. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar-sinar seperti kilat menyambar dan bergemuruh laksana guruh menggelegar, terdiri dari shalat, puasa, haji, umrah, wara’, zuhud dan berbagai amalan hati lainnya. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke enam, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, dan juga seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya.

Ketika sampai di langit ke tujuh, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tujuh itu berkata: “Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke muka pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat sum’ah (suka pamer). Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka memamerkan amalannya untuk memperoleh ketenaran, derajad dan pengaruh terhadap orang lain. Amalan seperti ini adalah riya’, dan Allah tidak menerima ibadahnya orang yang riya’. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk sampai ke hadirat Allah SWT.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

Pada saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba berupa shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak mulia, pendiam suka berdzikir, dan beberapa lainnya yang tampak sangat sempurna. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke tujuh karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya, dan juga tidak suka memamerkan amalannya (sum’ah). Paramalaikat dibuat terkagum-kagum sehingga mereka ikut mengiringi amalan itu sampai di hadirat Allah SWT.

Ketika amal tersebut dipersembahkan malaikat hafadzah kepada Allah:

Allah berfirman:
“Hai malaikat hafadzah, Aku-lah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku tetapi untuk selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian, dan Aku laknat mereka yang menipu orang lain dan menipu kalian (malaikat hafadzah, dan malaikat-malaikat lainnya yang menganggapnya sebagai amalan hebat), tetapi Aku tidak akan tertipu olehnya. Aku-lah yang mengetahui hal-hal ghaib, Aku mengetahui isi hatinya. Yang samar, tidaklah samar bagi-Ku, Yang tersembunyi, tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah terjadi, sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang belum terjadi. Ilmu-Ku atas segala yang telah lewat, sama dengan Ilmu-Ku atas segala yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang terdahulu, sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang kemudian. Aku yang paling mengetahui segala sesuatu yang samar dan rahasia, bagaimana bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa saja mereka menipu mahluk-Ku tetapi Aku yang mengetahui hal-hal yang ghaib…. tetaplah laknat-Ku atas mereka…!!”

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat juga berkata: “Ya Allah, kalau demikian keadaannya, tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka….!!”

Kemudian para malaikat dan seluruh penghuni langit berkata: “Ya Allah, tetaplah laknat-Mu dan laknat orang-orang yang melaknat atas mereka…!!”

Begitulah, panjang lebar Nabi SAW menceritakan kepada Mu’adz bin Jabal, dan tanpa terasa ia menangis tersedu-sedu di boncengan unta beliau. Ia berkata di sela tangisannya: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan itu??”

“Wahai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan!!” Kata Nabi SAW.

“Engkau adalah Rasulullah, sedangkan aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari semua itu…” Kata Mu’adz.

“Memang begitulah,” Kata Nabi SAW, “Jika ada kelengahan dalam ibadahmu, jagalah lisanmu agar tidak sampai menjelekkan orang lain, terutama jangan menjelekkan ulama…..”

Panjang lebar Nabi SAW menasehati Mu’adz bin Jabal, yang intinya adalah menjaga lisan dan hati, jangan sampai melukai dan menghancurkan pribadi orang lain. Akhirnya beliau bersabda: “Wahai Mu’adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Bencilah (larilah) dari sesuatu yang engkau membencinya (yakni, akibat buruk yang diceritakan Nabi SAWdi atas), niscaya engkau akan selamat…!”

Rasulullah SAW tahu betul bahwa Mu’adz bin Jabal sangat mengetahui hukum-hukum Islam (Fikih), yang pada dasarnya bersifat lahiriah. Dengan menceritakan kisah tersebut, beliau ingin melengkapi pengetahuan dan pemahamannya dari sisi batiniah, sehingga makin sempurna pengetahuan keislamannya. Dan tak salah kalau kemudian Nabi SAW pernah bersabda: “Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari kiamat….!”

Sebagaimana umumnya para sahabat Anshar, Mu’adz hampir tidak pernah terlewat dalam berbagai perjuangan dan jihad bersama Rasulullah SAW. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan berbagai pertempuran lain diterjuninya. Ketika Nabi SAW wafat, Mu’adz sedang berada di Yaman untuk mengemban tugas Nabi SAW, menjadi Qadhi dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada penduduknya, yang kebanyakan memeluk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah SAW. Mu’adz sendiri meninggal pada masa Khalifah Umar bin Khathab akibat wabah penyakit thaun yang melanda kota Amwas, antara Ramalah dan Baitul Maqdis, termasuk wilayah Syam.

Kisah: Abu Hurairah Ra


image
· Kisah Sahabat Nabi ·

Abu Hurairah, atau nama aslinya Abdu Syamsi bin Sakher hanyalah seorang buruh upahan penggembala kambing dari keluarga Busrah bin Ghazwan, salah satu pemuka dari kabilah Bani Daus di Yaman. Tetapi sepertinya Allah menghendaki akan meningkatkan derajadnya setinggi mungkin, dengan jalan membawanya kepada hidayah Islam.

Ketika salah satu pemuka Bani Daus, yakni Thufail bin Amr ad Dausi melaksanakan ibadah haji ke Makkah (tentunya sebagai ritual ibadah jahiliah) pada tahun ke sebelas dari kenabian, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebenarnya kaum kafir Quraisy telah ‘menasehati’ dirinya agar tidak bertemu Nabi SAW, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali ia diingatkan. Tetapi justru karena intensitas peringatan itu yang membuatnya penasaran dan tergelitik untuk menemui Nabi SAW, dan akhirnya memeluk Islam. Sepulangnya ke Yaman, ia mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Pada mulanya hanya sedikit saja orang yang menanggapi seruannya, yang salah satunya adalah Abu Hurairah tersebut.

Pada awal tahun 7 hijriah, Nabi SAW berencana menggerakkan pasukan untuk menyerang kaum Yahudi di Khaibar. Kabar ini sampai juga ke Yaman, maka Thufail bin Amr mengajak kaum muslimin dari kabilahnya, Bani Daus untuk berhijrah ke Madinah dan menyertai Nabi SAW dalam medan jihad tersebut. Walau dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta yang mencukupi, Abu Hurairah turut juga menyambut seruannya, dan bergabung dalam rombongan hijrah ini.

Setibanya di Madinah, ternyata Nabi SAW dan sebagian besar sahabat baru saja berangkat ke Khaibar. Rombongan Bani Daus tersebut langsung menyusul ke Khaibar untuk bergabung dengan pasukan Nabi SAW, tetapi Abu Hurairah tertinggal di Madinah karena tidak memiliki kendaraan dan perbekalan. Usai shalat subuh keesokan harinya, Abu Hurairah bertemu sahabat yang ditunjuk menjadi wakil Nabi SAW di Madinah, yakni Siba’ bin Urfuthah al Ghifary (atau sebagian riwayat menyebutkan Numailah bin Abdullah al Laitsy), ia memberi Abu Hurairah kendaraan dan perbekalan untuk bisa menyusul ke Khaibar. Ia berhasil menjumpai Nabi SAW, dan beliau menyuruhnya langsung bergabung dengan pasukan yang telah siap bertempur.

Dalam pertemuan pertama itu, Nabi SAW bersabda kepadanya: “Siapakah namamu?”

Abu Hurairah berkata: “Abdu Syamsi!!”

Abdu Syamsi artinya adalah hamba atau budaknya matahari. Tampaknya Rasulullah SAW kurang berkenan dengan namanya itu, maka beliau bersabda: “Bukankah engkau Abdur Rahman!!”

Maksud Nabi SAW adalah ia dan manusia semua itu adalah hamba Allah Ar-Rahman, maka dengan gembira Abu Hurairah berkata: “Benar, ya Rasulullah, saya adalah Abdur Rahman!!”

Sejak saat itu namanya berganti dari Abdu Syamsi bin Sakher menjadi Abdur Rahman bin Sakher, sesuai dengan pemberian Nabi SAW. Sedangkan nama gelaran Abu Hurairah yang berarti ‘bapaknya kucing (betina)’, berawal ketika ia menemukan seekor anak kucing yang terlantar, maka ia mengambil dan merawatnya. Setelah itu ia selalu membawa anak kucing itu didalam lengan jubahnya kemanapun ia pergi, sehingga orang-orang memanggilnya dengan sebutan Abu Hurairah. Ketika Nabi SAW mendengar kisah tentang nama gelarannya itu, beliau terkadang memanggilnya dengan nama ‘Abul Hirr”, yang artinya adalah : bapaknya kucing (jantan).

Sepulangnya dari Khaibar, sebagaimana sahabat pendatang (Muhajirin) miskin lainnya, Nabi SAW menempatkan Abu Hurairah di serambi masjid yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah, yang berarti menjadi tetangga Nabi SAW. Mereka tidak makan kecuali apa yang diberikan Nabi SAW, sehingga mereka sering mengalami hal-hal yang bersifat mu’jizat dalam hal ini. Misalnya Nabi SAW mendapat hadiah segantang susu, beliau akan menyuruh Abu Hurairah memanggil seluruh penghuni Ahlus Shuffah yang berjumlah sekitar 70 orang (sebagian riwayat, 40 orang) untuk menikmati susu tersebut, dan mencukupi. Kadang hanya sepanci masakan daging, atau setangkup kurma, atau sedikit makanan lainnya, tetapi mencukupi untuk mengenyangkan keluarga Nabi SAW dan para penghuni Ahlus Shuffah.

Sebagai buruh gembala kambing, Abu Hurairah juga seorang yang buta huruf (ummi). Tetapi kalau Allah SWT memang telah berkehendak akan memberikan kemuliaan kepada seseorang, mudah sekali ‘jalannya’ walau mungkin ia memiliki banyak kekurangan, bahkan derajat yang rendah dalam pandangan manusia. Seperti halnya terjadi pada Bilal bin Rabah, ternyata Allah SWT mengaruniakan kelebihan lain pada Abu Hurairah, yakni otak yang sangat jenius sehingga mempunyai kemampuan menghafal yang tidak ada bandingannya. Dengan karunia Allah ini, akhirnya ia menjadi seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Kemampuan Abu Hurairah tersebut ternyata didukung dengan berkah yang diperolehnya dari Nabi SAW. Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda pada beberapa sahabat: “Siapa yang membentangkan surbannya di depanku hingga selesai pembicaraanku, kemudian meraihnya atau menangkupkan ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan sesuatu apapun yang didengarnya dari diriku…”

Abu Hurairah bereaksi cepat mendahului para sahabat lainnya membentangkan surbannya di depan Nabi SAW. Setelah beliau selesai berbicara, ia segera menangkupkan surbannya tersebut ke dirinya.

Dalam peristiwa lainnya, Abu Hurairah bersama dua orang sahabat lainnya tengah berdzikir dan berdo’a. Tiba-tiba Nabi SAW datang sehingga mereka menghentikan aktivitasnya untuk menghormati, tetapi beliau bersabda: “Lanjutkanlah do’a kalian!!”

Maka salah seorang sahabat melanjutkan berdo’a, dan setelah ia selesai berdo’a, Nabi SAW mengaminkannya. Sahabat satunya ganti berdo’a, dan setelah selesai Nabi SAW mengaminkan do’anya. Giliran Abu Hurairah, ia berdo’a: “Wahai Allah, aku memohon kepada-Mu, apa yang dimohonkan oleh dua sahabatku ini, dan aku juga bermohon kepada-Mu karuniakanlah kepadaku ilmu yang tidak akan dapat aku lupakan!!”

Nabi SAW tersenyum mendengar do’a Abu Hurairah itu dan mengaminkannya pula.

Setelah kejadian itu, ia tidak pernah terlupa apapun yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Ia pernah berkata tentang kemampuannya itu, walau bukan bermaksud menyombongkan dirinya: “Tidak ada sahabat Nabi SAW yang lebih hafal daripada aku akan hadits-hadits beliau, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia mendengar dan menuliskannya, sedangkan aku mendengar dan menghafalkannya.”

Sebenarnyalah cukup banyak sahabat yang mempertanyakan bagaimana mungkin ia tahu begitu banyak hadits-hadits Nabi SAW padahal ia tidak termasuk sahabat yang memeluk Islam dan bergaul langsung dengan beliau sejak awal. Tetapi sebenarnya mudah dipahami dengan melihat kondisi yang ada. Walaupun hanya sekitar empat tahun hidup bersama Nabi SAW, tetapi ia hampir selalu bersama-sama beliau, kecuali ketika beliau sedang bersama istri-istri beliau. Ia tidak memiliki perniagaan untuk dijalankannya sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin. Ia juga tidak memiliki tanah pertanian dan perkebunan yang menyibukkannya seperti kebanyakan kaum Anshar. Di waktu-waktu senggangnya, kadang Nabi SAW menceritakan berbagai hal dan peristiwa sebelum keislamannya, atau terkadang Abu Hurairah yang menanyakannya kepada beliau. Jadi, pantaslah ia lebih banyak mengetahuinya daripada kebanyakan sahabat lainnya.

Pada masa khalifah Muawiyah, sang khalifah pernah mengetes kemampuan hafalannya, walau tanpa sepengetahuannya. Abu Hurairah dipanggil menghadap Muawiyah, kemudian diperintahkan menyebutkan semua hadits yang ia dengar dari Nabi SAW. Diam-diam Muawiyah menyiapkan beberapa penulis di tempat tersembunyi untuk mencatat semua hadits yang disampaikan Abu Hurairah itu secara berurutan. Setahun kemudian, Abu Hurairah dihadapkan kembali kepada Muawiyah dan disuruh menyebutkan hadits-hadits tersebut, dan diam-diam juga, Muawiyah memerintahkan para pencatat itu untuk mengecek kebenarannya.

Setelah Abu Hurairah berlalu, para penulis hadits tersebut mengatakan pada Muawiyah bahwa yang disampaikannya tersebut seratus persen persis sama dengan setahun sebelumnya, termasuk urut-urutannya, bahkan tidak ada satu hurufpun yang terlewat atau berbeda. Muawiyah hanya geleng-geleng kepala seolah tidak percaya, tetapi ini memang nyata.

Lebih dari seribu enamratus hadits yang diriwayatkan dari jalan sahabat Abu Hurairah. Tidak akan mencukupi jika semua kisah yang menyangkut dirinya dalam riwayat-riwayat tersebut dijabarkan dalam halaman ini.

Sepeninggal Nabi SAW, Abu Hurairah selalu mengisi sisa waktu hidupnya dengan ibadah dan berjihad di jalan Allah. Ia mempunyai kantung yang berisi biji-biji kurma untuk menghitung dzikirnya, ia mengeluarkannya satu persatu dari kantung, setelah habis ia memasukkannya lagi satu persatu. Secara istiqamah, ia mengisi malam hari di rumahnya dengan beribadah secara bergantian dengan istri dan anaknya (atau pelayannya pada riwayat lainnya), masing-masing sepertiga malam. Kadang ia pada sepertiga malam pertama, atau sepertiga pertengahan dan terkadang pada sepertiga malam akhirnya yang merupakan saat mustajabah. Sehingga malam hari di keluarganya selalu terisi penuh dengan ibadah.

Pada masa khalifah Umar, ia sempat diangkat menjadi amir di Bahrain. Seperti kebanyakan sahabat pilihan Nabi SAW lainnya, ia menggunakan gaji atau tunjangan yang diterima dari jabatannya untuk menyantuni dan membantu orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kehidupannya, ia mempunyai kuda yang diternakkannya, dan ternyata berkembang sangat cepat sehingga ia menjadi lumayan kaya dibanding umumnya sahabat lainnya. Apalagi banyak juga orang-orang yang belajar hadits dari dirinya, dan seringkali mereka memberikan hadiah sebagai bentuk rasa terima kasih dan penghargaan kepadanya.

Ketika Umar mengetahui Abu Hurairah memiliki kekayaan yang melebihi penghasilannya, ia memanggilnya menghadap ke Madinah untuk mempertanggung-jawabkan hartanya tersebut. Begitu tiba di Madinah dan menghadap, Umar langsung menyemprotnya dengan pedas: “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?”

Abu Hurairah yang sangat mengenal watak dan karakter Umar, dan juga mengetahui sabda Nabi SAW bahwa Umar adalah “kunci/gemboknya fitnah”, dengan tenang berkata: ”Aku bukan musuh Allah SWT, dan juga bukan musuh kitab-Nya, tetapi aku hanyalah orang yang memusuhi orang yang menjadi musuh keduanya, dan aku bukan orang yang mencuri harta Allah…!“

“Darimana kau peroleh harta kekayaanmu tersebut?” Tanya Umar.

Abu Hurairah menjelaskan asal muasal hartanya, yang tentu saja dari jalan halal. Tetapi Umar berkata lagi: “Kembalikan harta itu ke baitul mal..!!”

Abu Hurairah adalah didikan Nabi SAW yang bersikap zuhud dan tidak cinta duniawiah. Walau bisa saja ia berargumentasi untuk mempertahankan harta miliknya, tetapi ia tidak melakukannya. Karena itu tanpa banyak pertanyaan dan protes, ia menyerahkan hartanya tersebut kepada Umar, setelah itu ia mengangkat tangannya dan berdo’a: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin Umar…!!”

Beberapa waktu kemudian, Umar ingin mengangkatnya menjadi amir di suatu daerah lain. Dengan meminta ma’af, Abu Hurairah menolak penawaran tersebut. Ketika Umar menanyakan alasannya, Abu Hurairah menjawab: ”Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, dan punggungku tidak dipukul…“

Beberapa saat berhenti, ia meneruskan lagi seakan ingin memberi nasehat kepada Umar: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu, dan bicara tanpa belas kasih…”

Umar pun tak berkutik dan tidak bisa memaksa lagi seperti biasanya.

Pada masa kekhalifahan selanjutnya, Abu Hurairah selalu mendapat penghargaan yang tinggi berkat kedekatannya bersama Nabi SAW dan periwayatan hadits-hadits beliau, sehingga secara materi sebenarnya ia tidak pernah kekurangan, sebagaimana masa kecilnya atau masa-masa bersama Rasulullah SAW. Tetapi dalam kelimpahan harta dan ketenaran ini, Abu Hurairah tetap bersikap zuhud dan sederhana dalam kehidupannya, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Pernah suatu ketika di masa khalifah Muawiyah, ia mendapat kiriman uang seribu dinar dari Marwan bin Hakam, tetapi keesokan harinya utusan Marwan datang menyatakan kalau kiriman itu salah alamat. Dengan tercengang ia berkata: “Uang itu telah habis kubelanjakan di jalan Allah, satu dinar-pun tidak ada yang bermalam di rumahku. Bila hakku dari baitul mal keluar, ambillah sebagai gantinya!!”

Abu Hurairah wafat pada tahun 59 hijriah dalam usia 78 tahun, pada masa khalifah Muawiyah. Ia memang pernah berdo’a: “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tahun enampuluhan, dan dari masa kepemimpinan anak-anak!!”

Pada tahun enampuluhan hijriah itu memang masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, yang bersikap seperti anak-anak, yakni semaunya sendiri. Dan terjadi berbagai peristiwa yang bisa dikatakan sebagai ‘masa kelam’ dalam sejarah Islam, seperti Peristiwa Karbala, Peristiwa al Harrah, dan Penyerbuan Masjidil Haram.

Ketika ia sakit menjelang kewafatannya, tampak ia amat sedih dan menangis, sehingga orang-orang menanyakan sebab kesedihannya tersebut. Abu Hurairah berkata: “Aku menangis bukan karena sedih akan berpisah dengan dunia ini. Aku menangis karena perjalananku masih jauh, perbekalanku sedikit, dan aku berada di persimpangan jalan menuju ke neraka atau ke surga, dan aku tidak tahu di jalan mana aku berada??”

Ketika banyak sahabat yang menjenguknya dan mendo’akan kesembuhan baginya, segera saja Abu Hurairah berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah rindu bertemu dengan-Mu, semoga demikian juga dengan Engkau….!!”

Tidak lama kemudian nyawanya terbang kembali ke hadirat Ilahi, dan jasadnya dimakamkan di Baqi, di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW lain yang telah mendahuluinya.