·Sesungguhnya· Agama Yang Benar Adalah Satu


Agama yang benar adalah satu, tapi yang mengaku agamanya (agama yang dipeluknya) yang benar adalah banyak, adalah lebih dari satu.

Bagaimana mungkin agama yang benar lebih dari satu, sebab Tuhan yang benar adalah juga satu . Yang adalah Tuhan yang benar itu memberikan tuntunan-Nya adalah dengan agama yang satu saja, tidak dengan macam-macam agama.

Namun pula, pada masing-masing pemeluk agama mengaku atau meyakini bahwa agama  yang dipeluknya adalah benar atau yang benar ; adalah boleh-boleh saja, adalah sah-sah saja; karena namanya keyakinan namanya pilihan atau namanya yang dianggap benar adalah terserah dirinya, terserah masing-masing orang.

Tapi menjadi tidak benar adalah jika berpendapat atau berkeyakinan bahwa semua agama itu adalah benar, bahwa semua agama yang banyak macam dianut dan banyak orang menjadi penganutnya adalah semua benar. Nah ini pendapat atau pemikiran yang menurut saya adalah tidak benar. Kiranya lebih tepat jika berpendapat kalau semua agama itu baik (dalam tanda petik “Bukan benar” tapi “baik”). Saya mengatakan baik, karena pada dasarnya agama-agama itu menuntun pada perilaku yang baik, memberi ajaran pada yang mengarah hal  kebaikan dalam kontek kehidupan sosial bermasyarakat; atau memberi ajaran atau tuntunan yang dipandang baik atau benar menurut pandangannya, menurut keyakinannya.

Jadi Bagaimana Kesimpulannya ?

  • ya, agama yang benar adalah satu. Satu yang benar karena Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta adalah Satu adanya.
  • Dan yang mengaku agamanya yang benar (bukan paling benar) ya benar pengakuan itu; ya sah saja tentang keyakinannya itu  menurut komunitasnya. Atau menurut pemeluk agama lain ya benarlah pengakuannya itu jika memang dipandang benar olehnya.
  • Lalu kalau agama adalah hanya satu yang benar, bukan semua benar ; apakah tidak boleh ada banyak agama? yaa…. bagaimana yaa….? . Kalau dalam negara yang memperbolehkan adanya rakyatnya, masyarakatnya dengan memeluk berbagai macam agama, adalah tidak persoalan akan adanya banyak macam agama, adanya banyak macam pemeluk agama. Seperti negara kita Indonesia, adalah memberi kebebasan dalam memeluk agama yang memang disyahkan adanya di Indonesia ini. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila, jadi yang penting beragama.
  • Kalau menurut Tuhan yang menurunkan agama yang benar itu, bagaimana dengan adanya agama yang tidak benar? . Nah …ini tergantung pada Tuhan yang diimaninya, yang diimani sebagai yang benar.

Misalnya bagi agama Islam, yang adalah Allah Tuhannya, maka tentang adanya agama selain Islam tentang adanya pemeluk agama selain Islam adalah untuk kehidupan dimuka bumi ini untuk kehidupan di dunia ini  Tuhan Allah membebaskan akan pilihannya, membebaskan umat manusia beragama apapun, tidak ada paksaan dalam beragama. Namun Tuhan kelak memberikan pengadilan-Nya pada kehidupan di akhirat, kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah Kiamat. Mengapa demikian ? Ya karena Tuhan Allah sudah memberikan tuntunan, menurunkan ajaran-Nya tentang agama yang benar, memberikan tuntunan melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah.

Bagimana menurut Tuhan yang diyakini bagi pemeluk agama lain…?, barang kali sama demikian atau bisa tidak sama seperti demikian itu.
So : up to you …….

  • Salam damai dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, sesama umat manusia.

[Source]


Perbedaan Ahli Ilmu-(Alim) dan Ahli Ibadah-(Abid)


image

Yang dimaksud dengan ahli ilmu (orang alim) disini adalah orang yang mempunyai pemahaman agama dengan baik atau mumpuni, dan pengetahuannya itu dipraktekkan dalam sikap, perilakunya serta ibadahnya dikesehariannya. Sedang yang dimaksud dengan ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) adalah orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari dengan ilmu syari’at. Ia melakukan ibadah dengan mengikuti perasaan dan naluri saja, atau hanya ikut-ikutan orang-orang awam yang ada di sekitarnya.

Di hadapan ilmu, manusia terbagi dalam empat kategori:

Pertama: manusia yang punya ilmu dan ia sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga ia mempraktekkan ilmu itu dalam sikap dan perilaku dikesehariannya. Kita patut belajar kepada orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia adalah ‘alim dan ‘amil.

Kedua: manusia yang punya ilmu tapi ia tidak sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga sikap dan perilakunya menyimpang jauh dari ilmu yang dimilikinya. Perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya. Kita patut mengingatkan orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia sedang lalai akan kewajibannya.

Ketiga: manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia sadar akan kebodohannya, sehingga perilakuknya terkadang benar terkadang salah. Ia bertindak berdasarkan naluri dan perasaannya, atau hanya ikut arus yang ada. Kita patut mengajari orang yang masuk dalam kategori ini, agar ia punya bekal dan pedoman yang benar untuk menghindari kesalahan dalam perilakunya.

Keempat: manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia tidak menyadari kebodohannya, sehingga ia enggan menerima masukan dan nasehat orang-orang yang ada di sekitarnya, karena ia merasa tidak butuh nasehat. Kita patut waspada dengan orang yang masuk dalam kategori ini. Jika kita tidak punya bekal dan semangat untuk memperbaikinya, lebih baik kita menjauhinya agar tidak terkena imbasnya.

»Si Ahli Ibadah Tapi Bodoh & Si Ahli Ilmu Tapi Suka Maksiat«

Dikisahkan: Al-Umari, seorang ahli ibadah, menulis surat kemudian dikirimkan kepada Imam Malik rahimahullah yang di dalamnya menceritakan tentang dirinya yang suka menyendiri dan suka bekerja, ia tidak mau mengikuti Imam Malik untuk menuntut ilmu. Menanggapi surat tersebut, Imam Malik membalasnya dengan mengatakan:
‘‘Sesungguhnya Allah mengatur amalan hamba-hamba-Nya sebagaimana Allah mengatur rezeki. Kadang-kadang ada yang dibukakan baginya melalui sholat dan dalam puasa. Ada yang dalam sedekah dan tidak dibukakan dalam puasa. Dan ada pula yang dalam jihad dan bukan dalam sholat. Adapun mempelajari ilmu dan menyebarkannya merupakan sebaik-baik amalan kebaikan. Dan aku ridho dengan apa yang telah dibukakan Allah bagiku. Aku berharap agar kita berada di atas kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridho dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Wassalam.”

Keutamaan seorang yang alim dapat dilihat pula daripada dalil-dalil berikut: 

“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar ayat 9)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada para hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir ayat 28)

Dan sesungguhnya masih banyak ayat-ayat didalam Al-Qur`an yang senada yang tidak perlu dihadirkan semuanya didalam keterangan ini.

Di samping dalil-dalil dari Al-Qur’an terdapat pula dalil-dalil dari Al-Hadits seperti berikut:

“Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Disebutkan kepada Rasulullah Saw tentang dua orang, yaitu seorang ahli ibadah dan seorang alim. Lantas beliau bersabda: ‘‘Keutamaan seorang yang alim dengan seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku (Rasulullah) dengan yang paling rendah di antara kalian (para sahabat).’’ Kemudian beliau bersabda: ‘‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya dan para penghuni langit lainnya dan penghuni bumi sampai semut dalam sarangnya serta ikan pun ikut mendo’akan para pengajar kebaikan kepada manusia.”
(HR. Tirmidzi, Darimi, dan disahihkan oleh Albani dalam Al-Misykah)

“Keutamaan orang berilmu (alim) dari seorang yang ahli ibadah (‘abid) adalah seperti keutamaan bulan pada malam bulan purnama dari seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya (mewarisinya) maka berarti ia telah mengambil dengan bagian yang besar.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah)

“Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau Nabi Saw berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu: “Sungguh jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melaluimu maka itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah.”
(HR. Bukhari, Muslim , Ahmad)

Hasan Al-Bashri berkata:
“Kalaulah bukan karena orang-orang yang berilmu (para ulama) tentu manusia menjadi seperti hewan.”

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
“Pelajarilah ilmu, sebab mempelajarinya karena Allah adalah khasyah (rasa takut), menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, menyerahkannya kepada ahlinya adalah sebagai taqarrub. Dia (ilmu) teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian.”

Dengan demikian, wajiblah bagi kita orang yang merasa sakit dengan mengobati maksiat kita untuk menanyakan obatnya kepada orang-orang yang berilmu (para ulama), sebagaimana telah difirmankan oleh Allah: 

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahuinya.”
(QS. Al-Anbiya’ ayat 7)

image