Tentang Egois


image

    👀👀    Egois    👀👀

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)….” (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

     Dalam serapan asing dan bahasa Indonesia, kata egois berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa Indonesia online,  egois berarti tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan dan tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

     Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri, kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melalukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

     Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit pula yang memusuhinya. Ketika awal mula berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya tahu juga bahwa sang teman memiliki sifat egois. Tentu yang dilakukan adalah menjaga jarak dari sang teman atau memilih tidak menjadi temannya lagi.

     Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh dalam sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi suami-istri baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Pernah Egois

     Semua manusia pernah egois, tetapi kadang secara sadar atau pun tidak sadar tidak merasa melakukannya. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas : “Sedang Rasûlullâh menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman. Pada waktu yang sama, masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum”.

     Dia masuk ke dalam majelis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasûlullâh terhenti bicara, Ibnu Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat al-Qur’an. Beliau merasa terganggu karena sedang menghadapi pemuka-pemuka Quraisy, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan. Beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya Allâh menurunkan surat ‘Abasa [80] :
Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)…. (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

     Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasûlullâh Saw akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang ia minta. Ibnu Ummi Maktum pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasûlullâh saw. Allâh Swt begitu halus mengingatkan Rasûlullâh ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan, karena menurut Rasûlullâh melobi para pembesar Quraisy lebih penting dibandingkan dengan melayani Ibnu Ummi Maktum.

Tipe Egois

     Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; Mendustakan ayat-ayat Allâh, ingin menang sendiri, suka mengatur tapi tidak mau diatur, dan keras kepala.

     Pertama, mendustakan ayat-ayat Allâh Swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan orang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama Islam adalah agama penyempurna bagi agama sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

     Orang yang mengaku muslim (orang Islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah Allâh maka termasuk ke dalam orang-orang egois. Misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang Allâh perintahkan, serta tidak meninggalkan apa yang Allâh larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagainya.

     Pengertian egois yang dimaksud di sini, yaitu mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman Allâh Swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah Allâh Swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja Allâh mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

     Kedua, ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah. Menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri, tidak mau kalah. Untuk apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Tentu, kemenangan sesungguhnya adalah menang yang diperoleh dengan secara sportif, tentu cara seperti ini lebih terhormat. Akibat sifatnya inilah biasanya seseorang dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

     Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini. Sedini mungkin untuk diingatkan sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya, maka siapa lagi.

     Ketiga, suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu memimpin bawahannya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan. Tetapi ketika masa jabatannya habis, ia kembali menjadi anggota, maka harus siap diatur pemimpin yang baru. Sama seperti dirinya mengatur ketika menjadi pimpinan.

     Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain, sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

     Keempat, keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang berkepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan keras hati. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

     Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa as adalah Fir’aun, dan akhirnya Allâh swt tenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh as. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allâh swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun mereka lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh as mereka selamat.

Penutup

😌 Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena saking alaminya, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egois dari dalam diri manusia.  Obat yang dicari adalah bukan obat berbentuk kapsul atau tablet, bukan pula berbentuk sirup yang diberikan oleh sang dokter. 😈

 •    Rasûlullâh Saw bersabda :
“Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar…’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasûlullâh ?”Rasûlullâh berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.”
(Riwayat Al-Baihaqi)

•    Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. Filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena  dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, iri, dan benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois. Untuk itu, melawan musuh yang ada dalam diri sendiri sangat sulit.

•     Maka sebenarnya, saat ini secara tidak langsung kita sedang berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kitalah yang mampu melawan itu semua. Hanya imanlah yang mampu menjadi obat penawarnya untuk melawan egois itu. Abu  Bakar Al-Warraq berkata: “Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya rusak, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci masyarakat.”

•     Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan Allâh Swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-Nya. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan Allâh Swt. Amîn.

© [pesantren.uii.ac.id]

Demikian: Semoga Bermanfa’at.

Iklan